FitInfoSehat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Kecamatan Bojonggambir dan Cineam Tasikmalaya Terancam Krisis Air Bersih

Published Juni 22, 2026 · Updated Juni 22, 2026 · By Michael Williams

Oplus_131072

Kecamatan Bojonggambir dan Cineam Tasikmalaya Terancam Krisis Air Bersih

Kecamatan Bojonggambir dan Cineam Tasikmalaya Terancam - Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, tengah berhadapan dengan ancaman krisis air bersih akibat musim kemarau yang berlangsung lama. Sejak beberapa bulan terakhir, kekeringan menghimpit dua kecamatan, yaitu Bojonggambir dan Cineam, menyebabkan ketersediaan air bagi warga mengalami penurunan signifikan. Situasi ini memaksa penduduk Desa Mekarjaya dan Desa Margamulya, Kecamatan Cineam, harus berupaya ekstra untuk mendapatkan air minum sehari-hari.

Kondisi yang semakin memburuk membuat sebagian masyarakat memanfaatkan sumur tua dan sumber air alami seperti Gunung Cigalagah. Ambu Apong, warga Desa Margamulya berusia 60 tahun, menjelaskan bahwa musim kemarau saat ini mengakibatkan banyak sumur mengalami penurunan air. "Sumur warga yang biasanya dalam 20 hingga 25 meter kini mulai menyusut, bahkan beberapa di antaranya sudah kering," katanya, Senin (22/6/2026).

Musim kemarau yang terjadi telah membuat keluarga saya harus membeli galon isi ulang seharga Rp10 ribu per unit. Air tersebut digunakan untuk minum dan memasak, dan setiap minggu kami menghabiskan empat galon. Kondisi air bersih di wilayah kami mulai terancam karena sumur-sumur yang ada semakin sedikit airnya. Beberapa kepala keluarga terpaksa mencari air ke Gunung Cigalagah, meski jalannya cukup jauh dan melelahkan," ujar Ambu Apong.

Kebutuhan air di dua desa tersebut memang sudah menjadi tantangan sejak beberapa bulan lalu. Namun, situasi semakin memburuk dalam dua bulan terakhir karena hujan tidak lagi turun. Hal ini menyebabkan masyarakat merasa kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. "Kebutuhan air bagi warga Desa Mekarjaya dan Margamulya memang sudah terbatas, tetapi sekarang kondisinya lebih parah. Air sumur menyusut hingga tinggal sedikit, dan kami harus bergantung pada sumur tetangga atau Gunung Cigalagah," tambahnya.

Sementara itu, Kepala Desa Bojongkapol, Nanang Rohmansyah, menyatakan bahwa krisis air bersih di wilayahnya akan semakin parah jika hujan tidak turun dalam satu bulan ke depan. "Kondisi air di sebagian sumur warga masih ada, tetapi jumlahnya tidak memadai. Jika tidak ada hujan selama satu bulan penuh, kemungkinan besar warga Desa Pedangkamulyan, Girimukti, Kertanegla, Bojongkapol, Cempakasari, dan Wandasari akan mengalami kesulitan mendapatkan air bersih," katanya.

Menurut Nanang, wilayah Bojonggambir berada di dataran tinggi yang membuat sumber air lebih rentan terhadap kekeringan. "Kondisi ini berdampak pada kebutuhan air sehari-hari, terutama bagi warga yang tidak memiliki sumur cukup dalam. Mereka harus berjalan jauh untuk mencari air, dan sebagian orang bahkan membeli galon dari luar daerah," jelasnya.

Krisis air tidak hanya memengaruhi kebutuhan pribadi, tetapi juga mengganggu aktivitas sehari-hari seperti pertanian dan kebersihan. Di Desa Mekarjaya, misalnya, para petani mengeluhkan bahwa kekeringan mengurangi hasil panen mereka. "Tanah di sekitar sumur mulai mengeras, sehingga pengairan untuk tanaman terbatas. Kami harus mengelola air secara hemat dan berharap hujan datang secepat mungkin," kata salah satu petani setempat.

Masyarakat juga memperlihatkan upaya adaptasi untuk menghadapi situasi ini. Beberapa warga membangun tangki penampungan air dari sumber-sumber yang masih ada, sementara yang lain menginstal pompa untuk mengambil air dari kedalaman sumur. "Meski kebutuhan air makin tinggi, kami berusaha memenuhi kebutuhan keluarga dengan cara-cara sederhana," kata seorang ibu rumah tangga.

Kebutuhan air bagi warga yang terdampak krisis ini mencapai titik kritis. Dalam sepekan, jumlah galon yang dibeli mencapai rata-rata empat per keluarga. Angka ini cukup tinggi karena penggunaan air untuk memasak, mencuci, dan keperluan sehari-hari. "Kami harus menghemat air, karena setiap galon yang dibeli memakan biaya yang tidak seberapa. Namun, biaya tersebut tetap terasa berat karena jumlah warga yang membutuhkan semakin banyak," ungkap Ambu Apong.

Kondisi ini juga mempengaruhi anak-anak dan lansia. Bagi anak-anak, kurangnya air bersih membuat mereka sulit mencuci tangan dan mandi, sementara lansia membutuhkan air untuk keperluan kesehatan. "Anak-anak sering sakit karena kurang kebersihan, dan lansia terkadang kesulitan mengambil air untuk minum. Kami berharap pemerintah memberikan bantuan darurat," katanya.

Sebagai respons terhadap krisis ini, warga mulai berkerjasama dalam mencari solusi. Misalnya, beberapa kelompok warga mengadakan gotong royong untuk mengisi air dari sumber alami ke dalam tangki penampungan. "Gotong royong ini memungkinkan kami berbagi sumber air dan mengurangi beban individu," katanya.

Menurut data dari dinas terkait, kekeringan di Tasikmalaya mencapai tingkat parah karena intensitas hujan dalam beberapa bulan terakhir jauh di bawah rata-rata. Hal ini berdampak pada sumber air permukaan dan bawah tanah, yang merupakan andalan utama masyarakat. "Krisis air saat ini tidak hanya terjadi di satu wilayah, tetapi sudah menyebar ke beberapa desa di Kecamatan Bojonggambir dan Cineam," kata Nanang Rohmansyah.

Dalam upaya mengatasi krisis, pemerintah daerah berupaya menyalurkan bantuan air bersih dari daerah lain. Namun, volume bantuan masih terbatas dan belum cukup untuk memenuhi kebutuhan warga. "Kami sedang berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mempercepat pengadaan alat pompa dan tangki penampungan air," jelas Nanang.

Krisis air bersih di Tasikmalaya menjadi peringatan bagi masyarakat untuk lebih mengelola sumber daya air secara bijak. "Kami berharap hujan segera datang agar kekeringan bisa berakhir. Selain itu, perlu ada kesadaran warga untuk tidak mengambil air secara berlebihan," pungkas Ambu Apong.