Rencana Khusus: Negara NATO Sebut Serangan AS-Israel ke Iran Ilegal & Tak Jelas
Negara NATO Sebut Serangan AS-Israel ke Iran Ilegal & Tak Jelas
Jakarta, CNBC Indonesia – Pemerintah Prancis memicu sorotan internasional dengan mengeluarkan kritik tajam terhadap operasi militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel di wilayah Iran. Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, menegaskan bahwa tindakan tersebut tidak mendapat dukungan karena dinilai melanggar aturan hukum internasional.
Barrot menjelaskan bahwa serangan udara bersama yang ditujukan ke wilayah Republik Islam dilakukan tanpa dasar hukum yang jelas. Ia juga menyoroti ketidaktahuan tentang tujuan strategis operasi tersebut, yang dianggap ambigu oleh pemerintah Prancis. “Serangan oleh pasukan AS dan Israel di Iran tidak dapat disetujui karena dilakukan di luar hukum internasional dan tanpa tujuan yang ditetapkan dengan jelas,” tegas Barrot dalam wawancara dengan saluran televisi France 2, dikutip Anadolu, Rabu, kemudian disebutkan Kamis (11/3/2026).
“Serangan tersebut kekurangan target strategis yang terukur. Tindakan sepihak itu tidak memenuhi standar hukum global dalam menyelesaikan konflik antarnegara,” kata Barrot.
Dalam kesempatan yang sama, Barrot menyatakan bahwa Prancis berupaya menjaga jarak dari konflik bersenjata di Timur Tengah. Ia menegaskan militer negaranya tidak akan terlibat dalam operasi yang dipimpin oleh Washington dan Tel Aviv. “Kami tidak menyetujui perang ini, dan tidak berpartisipasi di dalamnya,” tegas sang menteri.
Meski mengkritik sekutu, Prancis masih meminta deeskalasi di wilayah Timur Tengah untuk menghindari eskalasi lebih lanjut. Barrot menyerukan Iran untuk merevisi kebijakan regionalnya yang sering dianggap provokatif. “Kami berharap Iran melepaskan diri dari statusnya sebagai kekuatan yang mendestabilisasi dan berbahaya,” lanjutnya.
Menurut Barrot, perdamaian jangka panjang di kawasan hanya mungkin tercapai jika Iran bersedia melakukan perubahan besar dalam sikap diplomatiknya. “Teheran harus berkomitmen pada perubahan sikap yang radikal dan menerima kompromi besar dalam meja perundingan,” tambahnya.
Sementara itu, Prancis mulai menggalang kerja sama internasional untuk menjaga keamanan jalur perdagangan kritis di Selat Hormuz. Barrot menyatakan beberapa negara telah menyatakan minat untuk bergabung dalam misi pertahanan bersama. “Peserta potensial mencakup negara-negara Eropa serta wilayah Timur Tengah,” jelasnya, merujuk pada inisiatif yang sebelumnya diperkenalkan oleh Presiden Emmanuel Macron.
Eskalasi konflik mencapai puncaknya setelah Israel dan AS meluncurkan serangan udara besar-besaran bernama “Operasi Epic Fury” pada 28 Februari lalu. Serangan itu mengakibatkan lebih dari 1.200 korban tewas dan setidaknya 10.000 luka-luka di pihak Iran. Sebagai respons, Iran segera meluncurkan serangan drone dan rudal yang menargetkan beberapa titik di Israel, Yordania, Irak, hingga negara-negara Teluk yang menjadi basis militer AS.
