Program Terbaru: AS-Israel Kompak “Gebuki” Iran, Teheran Ternyata Simpan Kejutan

d352aad2 ae5e 42b7 bdc4 559c2f014981 0

AS dan Israel Serang Iran, Teheran Siapkan Strategi Taktis Baru

Jakarta, CNBC Indonesia – Serangan bersama Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dianggap telah menurunkan kemampuan militer Teheran, terutama dalam operasi rudal dan drone. Namun, para ahli menegaskan bahwa Iran masih mampu mengganggu wilayah Timur Tengah secara signifikan. Pemerintah AS, melalui Gedung Putih, menyatakan bahwa kemampuan rudal balistik Iran telah terguncang. “Dominasi udara lengkap atas Iran, angkatan laut mereka tidak efektif dalam pertempuran,” kata sumber dari Al Jazeera, merujuk pada pernyataan resmi Gedung Putih.

Intensitas Serangan Turun Drastis

Seusai operasi yang diberi nama “Operation Epic Fury” dimulai pada 28 Februari, jumlah serangan balasan Iran berkurang secara signifikan. Dalam 24 jam pertama, Teheran meluncurkan 167 rudal dan 541 drone ke Uni Emirat Arab (UEA). Namun, menurut data Kementerian Pertahanan UEA yang dilansir Al Jazeera, pada hari ke-15 konflik angka itu turun drastis menjadi hanya empat rudal dan enam drone. Serangan terhadap Israel juga mengalami penurunan dari hampir 100 proyektil dalam dua hari pertama menjadi satu digit dalam beberapa hari terakhir, menurut Institute for National Security Studies.

“Tidak mudah mengidentifikasi peluncur rudal, terutama karena sebagian besar ditempatkan di area tersembunyi atau tempat yang tidak berhubungan langsung dengan militer sebelum perang,” kata Profesor David Des Roches dari National Defense University.

Pentagon melaporkan peluncuran rudal turun hingga 90% dari hari pertama, sementara serangan drone berkurang 86%. Meski demikian, Iran masih menyimpan kejutan. Menurut laporan intelijen Israel, inventaris rudal Teheran pada 2022 mencapai sekitar 3.000 unit, yang kini berkurang menjadi 2.500 setelah konflik 12 hari di bulan Juni. Pemerintah AS mengklaim kapasitas produksi drone Iran telah dihancurkan, tapi data lapangan menunjukkan situasi yang lebih rumit.

Senin sore, Qatar mengumumkan berhasil menangkal rudal baru yang ditembakkan Iran. Negara-negara lain di wilayah Teluk, seperti Saudi Arabia dan Bahrain, juga memberikan peringatan. Bahkan, satu rudal jatuh di mobil di Abu Dhabi, mengakibatkan kematian satu orang, menunjukkan bahwa ancaman masih relevan. Pemerintah Iran mengklaim bahwa serangan mereka hanya menargetkan kepentingan AS, meski secara militer tidak terlalu signifikan, menurut Des Roches.

Perang Jangka Panjang

Para ahli memperkirakan Iran mulai berpindah ke strategi perang jangka panjang. Hamidreza Azizi dari German Institute for International and Security Affairs menyatakan, Iran mencoba melemahkan pertahanan lawan secara bertahap. “Ini adalah perlombaan waktu, di mana Iran berusaha menghabiskan sumber daya musuh sebelum memulai serangan besar,” ujarnya.

“Mungkin ada ketertarikan untuk menjadikan konflik ini sebagai gesekan yang tidak menimbulkan kerusakan besar, tetapi terus-menerus mengganggu sistem peringatan negara tetangga,” tambah Azizi.

Iran juga mengadopsi pendekatan yang lebih tersembunyi, dengan mendistribusikan peluncur rudal ke area yang sulit diawasi. Strategi ini memperkuat kemampuan mereka untuk bertahan lama. Sementara itu, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa operasi ini telah memastikan kehancuran kapasitas produksi drone Iran. Namun, kejutan di lapangan menunjukkan bahwa Teheran belum sepenuhnya terluka.