Berita Penting: 3 Skenario Akhir Perang di Arab, Iran Bisa Menang Lawan AS-Israel?

bendera iran 169

Jakarta, CNBC Indonesia – Krisis Iran saat ini tengah merambat ke arah yang semakin tidak menentu bagi pemerintah, investor, hingga warga sipil biasa. Kondisi ini sangat bergantung pada keputusan individu dari para pemimpin yang sulit diprediksi, termasuk Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi baru Iran yang belum teruji, Mojtaba Khamenei. Pada Senin, Trump mengirimkan sinyal yang beragam dengan menyebut perang ini sebagai "ekspedisi jangka pendek" yang bisa berakhir "segera".

Namun di sisi lain, ia juga menegaskan bahwa perang tidak boleh berakhir sebelum Iran kehilangan kapasitas total dalam mengembangkan persenjataan yang bisa digunakan melawan AS, Israel, atau sekutu lainnya. Analis Brett H. McGurk, menjelaskan bahwa di dalam Gedung Putih, para pakar biasanya memodelkan potensi skenario akhir yang paling mungkin, kasus terbaik, dan hasil terburuk.

Lalu bagaimana dengan akhir perang Iran VS AS-Israel ini. Baca: Krisis Energi Depan Mata, Negara Ini Potong Gaji Pejabat-Menteri-DPR 1.Iran yang Terkendali Skenario pertama dengan peluang 60% adalah "Iran yang Terkendali". Ini serupa dengan kondisi Irak pada tahun 1990-an.

Dalam skenario ini, mengutip CNN International , Trump memberikan waktu yang dibutuhkan militer untuk menyelesaikan misi melumpuhkan kekuatan Iran. Sementara AS dan mitranya berupaya menahan guncangan ekonomi. "Skenario ini mengasumsikan bahwa pada akhir bulan ini, kapasitas proyeksi kekuatan dan basis industri pertahanan Iran telah terdegradasi secara signifikan tetapi struktur politiknya tetap utuh.

Kampanye militer intensitas tinggi akan berhenti setelah memenuhi tujuan yang ditentukan, tetapi tanpa janji perubahan rezim di Teheran," kata McGurk menjelaskan kemungkinan yang paling mungkin terjadi. Baca: FBI Tiba-Tiba Keluarkan Peringatan Serangan Drone Iran ke California 2.Pengumuman Kemenangan AS yang Prematur Skenario kedua dengan peluang 30% adalah "Iran yang semakin berani". Hal ini bisa terjadi jika guncangan ekonomi terjadi, terutama di AS.

Ini akan memaksa Trump untuk menyatakan kemenangan prematur sebelum kampanye militer selesai. Akibatnya, Iran akan tetap memiliki struktur kekuasaan yang terkonsolidasi dan kapasitas militer serta nuklir yang cukup utuh untuk dibangun kembali. "Keputusan untuk berbalik arah sebelum militer AS menyelesaikan tugas yang diberikan akan berisiko menghasilkan keseimbangan regional yang lebih tidak stabil.

Apa pun manfaat dari meluncurkan perang ini, penghentian dini kampanye akan berisiko membuat rezim Iran semakin berani dan menempatkan kawasan serta dunia dalam posisi yang bahkan lebih berbahaya," tutur McGurk mengenai risiko penghentian perang yang terlalu cepat. Baca: Amerika Gagal, Intel Ungkap Rezim Khamenei Tak Akan Runtuh di Iran 3.Iran yang Baru Skenario ketiga dengan peluang 10% adalah lahirnya "Iran Baru" dan Timur Tengah yang baru. Dalam kemungkinan kecil ini, tekanan militer melemahkan rezim hingga memperkuat kepercayaan diri rakyat Iran untuk turun ke jalan dan menggulingkan Republik Islam.

Namun, sejarah menunjukkan tekanan militer eksternal jarang menghasilkan keruntuhan rezim secara cepat tanpa oposisi internal bersenjata yang terorganisir. Ini pun terlihat di Iran. Baca: Pemimpin Tertinggi Baru Iran Kena Rudal Israel-AS, Begini Kondisinya Iran di Bawah Pimpinan Mojtaba Khamenei?

Lalu bagaimana dengan penunjukan Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei sendiri saat ini? Ia diyakini kemungkinan besar hanya akan menjadi tokoh formalitas bagi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Belum diketahui apakah ia akan mampu mengonsolidasikan kekuasaan secara efektif atau justru memunculkan pesaing baru.

Mengingat posisinya diperoleh melalui warisan dari mendiang ayahnya. Dalam jangka panjang, McGurk percaya ketidakpuasan ke pemerintah Republik Islam mungkin saja terjadi yang pada akhirnya memberikan "kendali kepada rakyat Iran". Iran yang "melemah" dalam skenario kasus dasar dapat mempercepat hasil tersebut, meskipun hal itu tidak bisa diharapkan terjadi dalam beberapa bulan ke depan.

Pemerintah Iran yang baru juga mungkin akan tetap melanjutkan serangan drone serta rudal di kawasan tersebut selama mereka masih memiliki kapasitas. Bahkan setelah Amerika mengakhiri serangannya. "Dalam skenario apa pun, keterlibatan AS dengan Iran-termasuk pencegahan, penahanan, dan kemungkinan tindakan militer lebih lanjut-tampaknya tidak akan berakhir ketika krisis ini berakhir," ujar McGurk.

"Hasil yang paling mungkin bukanlah resolusi yang bersih, melainkan Iran yang lebih lemah dan lebih terkekang, dengan keseimbangan kekuatan regional yang baru, serta ketidakpastian ke mana semua ini akan mengarah," tambahnya. Baca: 17 Fakta Terkini Perang Iran VS AS-Israel, Trump Disebut 'Setan' (tps/sef) Add as a preferred source on Google [Gambas:Video CNBC] Next Article Bahaya! Perang Iran Bisa Bawa Ekonomi Dunia Masuk Jurang Stagflasi