Agenda Utama: Segini Tarif Fantastis Kapal yang Mau Melintasi Selat Hormuz
Segini Tarif Fantastis Kapal yang Mau Melintasi Selat Hormuz
Blokade de facto Selat Hormuz oleh Iran telah memicu krisis energi terparah dalam beberapa dekade, menurut laporan terkini. Tindakan ini diambil sebagai respons terhadap perang antara Amerika Serikat dan Israel, yang berdampak besar pada kestabilan ekonomi global. Jalur strategis ini biasanya mengangkut 20 juta barel minyak per hari, dan penutupannya menyebabkan gangguan signifikan.
Ketegangan di Selat Hormuz, yang terletak antara Iran di bagian utara dan Oman serta Uni Emirat Arab di bagian selatan, menimbulkan risiko inflasi dan tekanan ekonomi di berbagai negara. Para ahli memperingatkan kemungkinan resesi global akibat gangguan ini. Saat ini, hampir 2.000 kapal terdampar di sekitar selat tersebut, menurut laporan Al Jazeera.
“Menurut rencana ini, Iran memungut biaya untuk memastikan keamanan kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz,” kata pejabat seperti dilaporkan Al Jazeera, Sabtu (28/3/2026). “Ini wajar, mirip dengan pengenaan bea masuk di koridor lain. Kami memastikan keamanan, dan kapal serta tanker harus membayar kepada kami,” tambahnya.
Parlemen Iran sedang berusaha mengesahkan undang-undang baru yang menetapkan tarif tol untuk kapal yang melewati selat tersebut. Langkah ini dianggap sebagai bagian dari klaim Iran atas otoritas pengelolaan Selat Hormuz, salah satu syarat untuk mengakhiri perang.
Seorang anggota parlemen Iran, Alaeddin Boroujerdi, mengatakan kepada Iran International, saluran TV satelit berbahasa Farsi berbasis di Inggris, bahwa biaya transit telah dikenakan kepada sejumlah kapal. “Sekarang, dengan biaya perang yang tinggi, wajar jika kita memungut tarif dari kapal-kapal yang melewati selat ini,” ujarnya.
Kenaikan harga minyak global mencapai di atas US$100 per barel – naik sekitar 40% sejak perang dimulai – memaksa negara-negara Asia melakukan pengurangan konsumsi bahan bakar dan produksi industri. Dinas intelijen maritim Windward mengatakan banyak operator kapal memilih mempertahankan posisi di luar Hormuz daripada mengambil risiko melewati jalur yang terbatas.
Sekretaris Jenderal Organisasi Maritim Internasional (IMO), Arsenio Dominguez, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa hampir 2.000 kapal saat ini terjebak di kedua sisi selat, menunggu untuk berlayar. Situasi ini menggambarkan ketidaknyamanan yang terjadi akibat penghalangan jalur utama ekspor minyak dan gas dari Teluk.
