FitInfoSehat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Key Discussion: Jelang Uji Coba MLFF, BPJT Terus Berkoordinasi dengan Roatex

Published Juli 6, 2026 · Updated Juli 6, 2026 · By Michael Williams

Jelang Uji Coba MLFF, BPJT Terus Berkoordinasi dengan Roatex

Key Discussion - Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Pekerjaan Umum Kementerian PU, Ni Komang Rasminiati, menyampaikan bahwa Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) sedang memperkuat kerja sama dengan PT. Roatex Indonesia Toll System (RITS) sebagai pelaksana proyek. Fokus koordinasi ini adalah untuk siapkan tahapan pra-uji coba sistem Multi Lane Free Flow (MLFF), yang merupakan inisiatif penggunaan teknologi bayar tol tanpa harus berhenti. Proses persiapan sedang dilakukan secara teknis, dengan melibatkan berbagai skenario yang akan digunakan saat uji coba dilaksanakan.

Target Waktu dan Lokasi Belum Tersedia

Menurut Komang, pengujian pra-MLFF belum memiliki jadwal pasti yang ditetapkan. “Kalau persiapannya sudah cukup matang, baru kita bisa menentukan targetnya kapan bisa dilakukan pra uji-coba,” terangnya, saat berbicara di kantor Kementerian PU pada Jumat (3/7). Selain waktu, lokasi uji coba juga masih dalam penilaian. Dia menjelaskan bahwa lokasi akan diputuskan setelah beberapa skenario teknis telah disusun dan diverifikasi. “Nantinya, lokasi pra-uji coba MLFF akan ditentukan berdasarkan rencana yang sudah kita siapkan,” tambahnya.

“Kita sedang persiapan untuk menyiapkan ke arah sana secara teknis skenario-skenario yang akan diujicobakan,” ujar Komang.

Teknologi GNSS dan Aplikasi Cantas

Sistem MLFF ini mengandalkan teknologi Global Navigation Satellite System (GNSS) untuk mendeteksi kendaraan secara otomatis. Transaksi tol akan dilakukan melalui aplikasi Cantas, yang dihubungkan dengan data Electronic Registration and Identification (ERI) dari Korlantas Polri. Dengan teknologi ini, pembayaran tidak lagi memerlukan penghentian kendaraan, sehingga diharapkan dapat mengurangi hambatan di gerbang tol.

Kebutuhan Efisiensi dan Penghematan BBM

Komang menyoroti manfaat sistem MLFF dalam mengurangi penggunaan bahan bakar. “Penerapan transaksi tol MLFF menjadi terobosan dalam menghemat konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi,” jelasnya. Hal ini krusial mengingat volume transaksi harian di sejumlah gerbang tol mencapai 4 juta kali sehari. Kemacetan akibat proses transaksi yang memakan waktu juga berpotensi meningkatkan emisi polusi udara. Oleh karena itu, sistem MLFF dianggap sebagai solusi untuk meningkatkan efisiensi operasional dan mengoptimalkan penggunaan sumber daya.

Kesiapan Teknis dan Skenario Pengujian

Selain BPJT, PT Roatex Indonesia Toll System (RITS) juga terlibat aktif dalam penyusunan skenario teknis pra-uji coba MLFF. Renaldi Utomo, Direktur RITS, menyatakan bahwa berbagai kondisi di lapangan sedang dibahas sebagai bagian dari persiapan. “Kami sedang mempersiapkan berbagai kemungkinan situasi yang akan diuji dalam sistem ini,” katanya. Koordinasi antara pemerintah dan investor terlihat berjalan lancar, dengan RITS tetap yakin pada komitmen pemerintah untuk melanjutkan proyek tersebut.

“Kami memang sudah sepakat bahwa dalam proses transisi ini masih mempergunakan barrier. Jadi ada konsep transisi dan ada konsep akhir sesuai desain MLFF. Keputusan akhirnya tentu berada di pemerintah dan kami mendukung,” tambah Renaldi.

Dalam kontrak kerja sama yang dimiliki RITS, system barrier masih bisa digunakan selama masa transisi. Hal ini dilakukan agar proses pengujian MLFF tidak mengganggu arus lalu lintas secara langsung. Meski begitu, RITS tetap menunggu keputusan final dari pemerintah mengenai lokasi dan waktu pelaksanaan uji coba. Bali yang awalnya dipertimbangkan sebagai lokasi percontohan tetap menjadi salah satu pilihan, namun juga bisa dilakukan di ruas tol lain jika kesiapan lebih optimal.

Pengujian Mendesak dan Rencana Implementasi

Para ahli menilai bahwa penerapan MLFF semakin mendesak. Peningkatan volume lalu lintas serta kebutuhan pengelolaan transaksi yang lebih efisien mendorong implementasi sistem ini. Namun, penerapan perlu dilakukan secara bertahap, mempertimbangkan kesiapan infrastruktur di setiap ruas jalan tol. “Dengan volume lalu lintas terus meningkat, penggunaan teknologi berbasis elektronik ini sangat penting untuk meningkatkan efisiensi,” kata Anton Budiharjo, pengamat transportasi dari Politeknik Transportasi Jalan.

“Volume lalu lintas terus meningkat. Dengan pembayaran berbasis elektronik, seluruh transaksi akan tercatat secara digital sehingga pengawasan menjadi lebih mudah. Jika ke depan ada kebijakan baru seperti pajak jalan tol, perhitungannya juga akan lebih sederhana karena seluruh data sudah terekam secara elektronik,” ujar Anton.

Anton menambahkan bahwa MLFF tidak hanya mempercepat alur kendaraan, tetapi juga memudahkan pengawasan dan pengelolaan data oleh pemerintah. Sistem ini dianggap sebagai langkah strategis untuk menciptakan manajemen jalan tol yang lebih modern. Kehadiran teknologi seperti GNSS dan integrasi aplikasi Cantas diharapkan bisa menjadi dasar untuk mengotomatisasi pengelolaan jalan tol secara lebih luas.

Rencana Awal di Jakarta

Menurut Anton, pemerintah dapat memulai uji coba MLFF di wilayah yang memiliki kesiapan infrastruktur terbaik, seperti Jakarta. “Penerapan sebaiknya dimulai dari satu gerbang tol terlebih dahulu, agar masyarakat bisa terbiasa dengan sistem baru sebelum diterapkan secara menyeluruh,” sarannya. Pendekatan ini diharapkan mampu mengurangi gangguan di awal implementasi, sekaligus memastikan proses berjalan lancar.

Dengan langkah-langkah yang dipersiapkan secara matang, BPJT dan RITS berharap bisa memberikan contoh nyata terkait penggunaan teknologi digital dalam layanan jalan tol. Proyek ini juga menjadi pengujian awal sebelum sistem MLFF diterapkan secara nasional