Harga Gabah Naik – Beras Premium di Warung Tembus Rp17 Ribu per Kilogram
Harga Gabah Naik, Beras Premium di Warung Tembus Rp17 Ribu per Kilogram
Harga Gabah Naik - Kenaikan harga gabah di tingkat petani terus menggelombangkan harga beras di pasar tradisional maupun toko kecil. Di tengah situasi ini, beras premium kini dijual hingga Rp17 ribu per kilogram, yang memicu keluhan dari masyarakat karena dikhawatirkan membebani biaya kebutuhan sehari-hari. Seorang warga Kampung Sampongpari, Kecamatan Mangkubumi, Toto (60 tahun), mengungkapkan bahwa harga beras di pasar tradisional berfluktuasi antara Rp14 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram, sementara di warung penjualan bisa mencapai Rp16 ribu hingga Rp17 ribu per kilogram untuk kualitas terbaik. Menurutnya, meski beberapa lahan persawahan sedang dalam tahap panen dan ada yang sudah mulai menabur benih, harga beras di pasaran belum stabil dan justru terus meningkat.
"Kenaikan harga beras di pasaran belum normal, bahkan terus merangkak naik meski di beberapa lahan persawahan sebagian tengah panen dan yang lain sudah menebar benih hingga mengolah lahan. Namun, kenaikan tersebut terjadi karena harga gabah kering giling (GKG) sekarang mencapai Rp8.700 hingga Rp9.000 per kilogram, sementara gabah kering pungut (GKP) berada di sekitar Rp7.000 per kilogram," jelas Toto, Selasa (9/6/2026).
Menurut Toto, kenaikan harga beras tidak selalu mencerminkan peningkatan kualitas. Ia menyebutkan, terdapat beras yang dijual dengan harga sekitar Rp13 ribu per kilogram, namun memiliki kualitas kurang memadai. Misalnya, tekstur beras terlihat kusam dan aroma yang dihasilkan tidak enak. "Percuma saja membeli beras premium kalau saat dimasak bau apek dan besoknya basi keluar air," tegasnya. Ia juga menyoroti kondisi pasokan gabah, yang diperkirakan masih terbatas meski ada sebagian petani yang sedang panen.
Dari sisi pasokan, Engkus, seorang pemilik heleran padi, mengungkapkan bahwa langganan beras premium terjadi karena keterbatasan stok gabah di tingkat petani. Menurutnya, saat ini sebagian besar petani di daerah tersebut sedang memasuki masa tanam, sehingga ketersediaan gabah berkurang. "Penggunaan gabah kering pungut dan gabah kering giling di tingkat petani tidak melimpah karena beberapa lahan persawahan sudah dimulai masa tanam dan pengolahan," jelasnya. Hal ini, menurut Engkus, berdampak langsung pada harga beras di pasar konsumen.
"Beras premium di pasar dijual Rp13 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram, tapi di warung harganya sangat tinggi, yakni Rp16 ribu hingga Rp17 ribu per kilogram," tambah Engkus.
Kenaikan harga gabah kering giling dan pungut menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga beras di tingkat konsumen. Sebagai bahan baku utama, perubahan harga gabah secara langsung memengaruhi biaya produksi beras. Toto menambahkan, meski beberapa lahan persawahan telah memasuki masa panen, kebutuhan gabah di tingkat petani tetap tinggi. "Petani harus memenuhi permintaan untuk kebutuhan tanam dan pengolahan, sehingga pasokan gabah kering giling menjadi langka," katanya. Situasi ini memaksa pedagang menaikkan harga jual beras premium, yang biasanya dijual dengan kualitas lebih baik.
Kondisi ini berpotensi meningkatkan tekanan pada masyarakat, terutama bagi keluarga yang menghabiskan sebagian besar penghasilannya untuk membeli beras. Toto menyoroti bahwa beras premium yang dijual di warung lebih mahal dibanding pasar tradisional, meski kualitasnya tidak selalu lebih baik. "Banyak konsumen yang terpaksa memilih beras murah karena kualitasnya rendah, tetapi kebutuhan sehari-hari tetap harus dipenuhi," ujarnya. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan harga beras tidak hanya terjadi karena faktor produksi, tetapi juga karena dinamika permintaan di pasar.
Sementara itu, pasokan gabah yang langka berdampak pada persaingan antar pedagang. Engkus menjelaskan bahwa permintaan beras premium meningkat, sehingga pedagang lebih berani menaikkan harga untuk memperoleh keuntungan. "Perubahan harga ini juga dipengaruhi oleh biaya transportasi yang meningkat, serta permintaan yang melonjak," tambahnya. Meski demikian, harga beras di pasar tradisional masih terjangkau untuk sebagian besar masyarakat, sementara harga di warung justru terus menggeser ke atas. Situasi ini mengundang kekhawatiran akan kenaikan harga beras yang berkelanjutan.
Beras premium, yang sebelumnya dijual dengan harga terjangkau, kini menjadi lebih mahal. Toto mengatakan, harga beras premium di pasar tradisional berkisar Rp13 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram, namun di warung bisa sampai Rp17 ribu per kilogram. "Perbedaan harga ini tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas, sehingga masyarakat bisa kebingungan memilih beras yang terbaik untuk kebutuhan sehari-hari," ujarnya. Ia juga menyebutkan bahwa kebijakan pemerintah dalam menstabilkan harga gabah perlu lebih intensif, karena kenaikan ini sudah terasa jelas di tingkat konsumen.
Kenaikan harga gabah dan beras terus menjadi isu yang dibahas di berbagai daerah, termasuk Jabar. Menurut Toto, fluktuasi harga ini terjadi karena kombinasi antara permintaan yang tinggi dan pasokan yang tidak seimbang. "Ketika harga gabah naik, pedagang tak bisa menahan diri untuk meningkatkan harga beras, terutama yang dijual dengan kualitas premium," jelasnya. Kondisi ini juga memicu kritik terhadap sistem distribusi beras, yang dianggap tidak efisien. Dengan harga yang terus meningkat, masyarakat mungkin terpaksa mengurangi konsumsi beras atau menggantinya dengan bahan makanan lain.
Situasi harga beras yang naik ini berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat. Jika harga terus melonjak, pengeluaran untuk kebutuhan pokok bisa meningkat, sehingga mengurangi pengeluaran untuk sektor lain. Toto berharap pemerintah dapat mempercepat proses pengadaan gabah untuk menekan kenaikan harga beras. "Ketersediaan gabah yang cukup akan membantu menstabilkan harga beras di tingkat konsumen," katanya. Namun, sampai saat ini, kenaikan harga gabah dan beras masih terus berlangsung, dengan beras premium di warung menjadi salah satu yang paling mahal.
Menurut Engkus, kenaikan harga beras juga terkait dengan ekonomi lokal. Ia mengatakan, beberapa petani justru terpaksa menjual gabah kering giling dengan harga tinggi untuk memenuhi kebutuhan pribadi. "Meski ada yang sedang panen, petani tetap harus mengatur pendapatan mereka, sehingga harga gabah kering giling jadi naik," tambahnya. Dengan harga beras yang semakin tinggi, konsumen mungkin harus mengambil risiko memilih beras yang kualitasnya tidak jauh berbeda, tetapi harganya lebih murah. "Ini menjadi tantangan bagi masyarakat yang ingin memperoleh