FitInfoSehat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Facing Challenges: Penjualan Pertamax di SPBU Pantura Subang Turun Drastis

Published Juni 12, 2026 · Updated Juni 12, 2026 · By Sandra Brown

Oplus_131072

Penurunan Drastis Penjualan Pertamax di SPBU Pantura Subang

Facing Challenges - Kenaikan harga Pertamax ke level Rp16.250 per liter memicu perubahan signifikan dalam pola penggunaan bahan bakar oleh masyarakat. Penawaran BBM jenis Pertalite meningkat pesat, sementara permintaan Pertamax mengalami penurunan yang mengkhawatirkan. Fenomena ini terjadi di sejumlah SPBU di jalur Pantura, Kabupaten Subang, Jawa Barat, di mana stok Pertalite sering kali habis, sedangkan area Pertamax terlihat sepi. Perubahan ini mencerminkan respons konsumen terhadap kebijakan harga yang diterapkan pemerintah.

Kenaikan Harga Berdampak pada Pola Penggunaan BBM

Sebelumnya, Pertamax dijual dengan harga sekitar Rp12.300 per liter. Namun, setelah kenaikan harga, konsumen mulai mengalihkan ke Pertalite yang lebih murah. Sunardi, pengawas SPBU Al-Maskar di Desa Ciberes, Kecamatan Patokbeusi, menyatakan bahwa kebijakan kenaikan harga ini membuat masyarakat berpikir ulang tentang pilihan bahan bakar. "Sejak Pertamax naik harga, banyak pelanggan yang beralih ke Pertalite. Akibatnya, permintaan Pertalite meningkat, sementara pengguna Pertamax berkurang," ujarnya, Jumat (12/6).

Situasi ini terjadi di SPBU Al-Maskar Ciberes, yang menjadi contoh nyata dari pergeseran kebutuhan bahan bakar. Kendaraan pribadi, baik sepeda motor maupun mobil, harus antri untuk mendapatkan Pertalite, sementara area Pertamax terlihat lengang. Perubahan ini bukan hanya refleksi dari perbedaan harga, tetapi juga mencerminkan kebijakan subsidi yang menarik konsumen untuk memilih opsi yang lebih ekonomis.

Data Penjualan dan Kendala Distribusi

Menurut Sunardi, di SPBU Al-Maskar Ciberes, penjualan Pertamax yang sebelumnya mencapai sekitar 3 ton per hari kini tercatat hanya sekitar 2 ton. Jumlah ini menunjukkan penurunan signifikan, sekitar 33 persen, dalam beberapa hari terakhir. "Konsumen Pertamax kini beralih ke Pertalite, sehingga stok Pertalite sering kali habis," tambahnya. Dampaknya, distribusi pasokan BBM juga mengalami hambatan karena keterlambatan pengiriman. Persediaan yang seharusnya terjaga justru terganggu, membuat antrian di SPBU terjadi secara berkelanjutan.

Penurunan penjualan Pertamax tidak hanya terjadi di SPBU Al-Maskar, tetapi juga di sejumlah lokasi lain di jalur Pantura Subang. Hal ini menunjukkan tren nasional, di mana kenaikan harga bahan bakar menyebabkan masyarakat lebih memilih BBM subsidi untuk mengurangi beban biaya. Meski Pertalite lebih mahal dibandingkan Pertamax, tingginya permintaan membuatnya tetap diminati, terutama oleh pengguna kendaraan pribadi.

Pengaruh pada Ekonomi Masyarakat

Kenaikan harga BBM berdampak luas terhadap kondisi ekonomi masyarakat, khususnya kalangan menengah. Sebagai bahan bakar nonsubsidi, Pertamax memiliki harga yang lebih tinggi, sehingga penggunaannya terbatas. Sementara itu, Pertalite yang lebih terjangkau tetap menjadi pilihan utama. Sunardi menjelaskan bahwa meskipun Pertalite tidak terkait langsung dengan sektor transportasi atau industri, permintaannya tetap meningkat karena aksesibilitasnya yang lebih baik.

Perubahan ini memicu tekanan ekonomi bagi masyarakat. Peningkatan penggunaan Pertalite dianggap sebagai solusi sementara untuk mengatasi kenaikan biaya. Namun, kebijakan ini juga menyebabkan distribusi BBM yang tidak merata, terutama di SPBU yang mengalami kekurangan stok. "Pertalite terjual cepat, sedangkan Pertamax hanya sedikit diminati. Ini menciptakan ketimpangan di sepanjang jalur distribusi," kata Sunardi.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kenaikan harga Pertamax tidak hanya memengaruhi perilaku konsumen, tetapi juga menciptakan tekanan pada sistem distribusi. Pihak distributor harus beradaptasi dengan permintaan yang berubah, sementara konsumen terus mencari alternatif yang paling ekonomis. Fenomena ini mungkin akan terus berlangsung hingga harga Pertamax stabil atau kebijakan subsidi diubah.

Respon Konsumen dan Perilaku Pemakai Kendaraan

Menurut Sunardi, kebijakan kenaikan harga Pertamax berdampak pada pola konsumsi yang lebih masif. Konsumen yang sebelumnya menggunakan Pertamax kini lebih memilih Pertalite, terutama untuk kebutuhan sehari-hari. "Masyarakat lebih cenderung mengandalkan Pertalite karena harganya lebih terjangkau," jelasnya. Hal ini membuat permintaan Pertalite meningkat drastis, sedangkan penjualan Pertamax terus menurun.

Kendaraan pribadi, seperti mobil dan sepeda motor, menjadi pengguna utama Pertalite. Meski Pertamax lebih disukai oleh beberapa pengemudi karena performa mesin yang lebih baik, kenaikan harga membuatnya kurang diminati. Sejumlah pengguna menyatakan bahwa mereka memilih Pertalite untuk mengurangi pengeluaran, meskipun efisiensi bahan bakar tidak sepenuhnya terjamin. "Kebutuhan bahan bakar jadi menjadi prioritas, terutama bagi keluarga kecil," tambah Sunardi.

Kenaikan harga Pertamax juga memicu diskusi mengenai dampak jangka panjang terhadap perekonomian. Jika tren ini berlanjut, mungkin akan ada peningkatan penggunaan Pertalite yang lebih signifikan, sementara Pertamax kehilangan pangsa pasar. Kebijakan harga yang diterapkan pemerintah, meskipun bertujuan untuk menutupi defisit anggaran, ternyata juga berdampak pada daya beli masyarakat. Dengan harga yang lebih tinggi, Pertamax menjadi bahan bakar yang lebih mahal, sehingga kurang menarik bagi konsumen.

Menurut Sunardi, pergeseran ini tidak hanya terjadi di SPBU Al-Maskar, tetapi juga di sejumlah SPBU lain di jalur Pantura Subang. "Pertalite menjadi BBM yang paling diminati, sedangkan Pertamax terlihat mulai ditinggalkan," katanya. Meski demikian, ia berharap kenaikan harga tidak terlalu berdampak jangka panjang, terutama jika subsidi tetap diberikan kepada Pertalite. Kebijakan ini dianggap sebagai langkah untuk menjamin akses bahan bakar bagi masyarakat miskin atau menengah, yang sekarang terasa lebih terbantu.

Dengan kondisi ini, pemerintah diharapkan bisa menyeimbangkan antara kebijakan subsidi dan harga pasar. Penurunan penjualan Pertamax menunjukkan bahwa konsumen lebih rentan terhadap perubahan harga, terutama jika BBM subsidi tetap dijual dengan harga yang lebih terjangkau. Selain itu, kenaikan harga juga mengakibatkan ketidaknyamanan bagi pengguna kendaraan, terutama di area yang terbatas pasokan bahan bakar. Sunardi menyarankan agar distribusi BBM dipercepat untuk menghindari kekurangan stok di SPBU yang mengalami penurunan penjualan.