Serangan Udara Besar di Kyiv Mengguncang Kota Ibu Kota Ukraina
Topics Covered – Pada malam hari, Rusia melakukan serangan udara yang luar biasa besar, menghujani Ukraina dengan ratusan rudal dan drone serangan. Operasi ini menargetkan Kyiv, ibu kota negara tersebut, serta kota-kota sekitarnya, yang menurut pihak berwenang Rusia, adalah bagian dari strategi untuk meredam kekuatan militer Ukraina. Dalam satu malam, sebanyak 90 rudal dan 600 drone digunakan, menciptakan gelombang ledakan yang mengguncang berbagai titik di kota. Rudal balistik jarak menengah Oreshnik, yang dikenal sangat destruktif, menjadi salah satu senjata utama dalam serangan ini.
Kerusakan Luas dan Korban Serius
Setelah serangan, Kyiv mengalami kerusakan parah, termasuk kebakaran besar di pusat bisnis dan pasar sentral. Ratusan bangunan, termasuk gedung kediaman dan sekolah, hancur atau rusak. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengonfirmasi bahwa Kyiv menjadi sasaran utama dalam agresi terbaru Moskow. “Serangan terbesar terjadi di Kyiv. Mereka menghancur fasilitas pasokan air, membakar pasar, dan merusak puluhan bangunan tempat tinggal,” katanya dalam pernyataan resmi, pagi hari Minggu (24/5).
“Serangan paling banyak terjadi di Kyiv. Mereka menghantam fasilitas pasokan air, membakar pasar, dan merusak puluhan bangunan tempat tinggal,” ujar Zelensky dalam pernyataan resminya, Minggu (24/5) pagi.
Menurut laporan dari Wali Kota Kyiv, Vitaly Klitschko, sedikitnya dua orang tewas dan lebih dari 70 lainnya terluka. Korban nasional mencapai empat orang, dengan lebih dari 80 orang terluka akibat puing-puing rudal dan hantaman langsung. Tim penyelamat terus berusaha melakukan evakuasi dan pemadaman api di area yang terdampak, meski kondisi masih memburuk.
Rusia Klaim Serangan Menargetkan Fasilitas Militer
Kementerian Pertahanan Rusia mengonfirmasi bahwa Oreshnik digunakan untuk ketiga kalinya dalam operasi perang. Moskow menyatakan serangan tersebut bertujuan menghancur fasilitas industri militer, pusat komando Angkatan Darat, serta markas intelijen Ukraina. Pihak Rusia membantah secara sengaja menargetkan infrastruktur sipil. Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, menulis di media sosial bahwa serangan ini adalah respons terhadap serangan Ukraina di Starobilsk, wilayah Luhansk yang dikuasai Rusia, yang dikabarkan menewaskan 21 orang di asrama mahasiswa.
“Kami harus menyerang dengan kekuatan yang lebih besar untuk mendemoralisasi musuh,” tulis Medvedev di media sosial.
Menurut Medvedev, Oreshnik digunakan sebagai alat untuk mengimbangi operasi militer Ukraina. Ia menegaskan bahwa serangan ini bertujuan memecah kemampuan Ukraina untuk mengoperasikan fasilitas militer kritis, termasuk komando dan intelijen. Namun, beberapa analis mengkritik klaim tersebut, mengingat kerusakan di Kyiv terlihat sangat luas, termasuk area yang dianggap tidak terkait langsung dengan pertahanan militer.
Uni Eropa Kecam Serangan sebagai Tindakan Teror
Sementara itu, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, mengecam serangan itu sebagai “tindakan teror yang menjijikkan.” Ia menilai penggunaan rudal Oreshnik tidak hanya menunjukkan taktik intimidasi politik, tetapi juga berisiko nuklir yang sembrono. Kecaman ini muncul di tengah persiapan pertemuan Uni Eropa pekan depan, yang akan membahas peningkatan tekanan internasional terhadap Rusia.
“Tindakan teror yang menjijikkan,” kata Kallas, menyebut serangan sebagai bentuk ancaman terhadap kota yang dianggap simbol kebebasan Ukraina.
Dalam konteks diplomasi, serangan itu terjadi di tengah kebuntuan negosiasi perdamaian. Sekretaris Negara AS, Marco Rubio, baru-baru ini menyatakan bahwa upaya mediasi AS untuk menyelesaikan konflik tidak menghasilkan kemajuan signifikan. Ia menegaskan bahwa pertarungan antara Rusia dan Ukraina masih jauh dari tuntas, dengan eskalasi militer yang terus meningkat.
Penggunaan Rudal Oreshnik: Strategi atau Kesalahan?
Rudal Oreshnik, yang merupakan senjata balistik jarak menengah canggih, memiliki kapasitas pemboman yang menghancurkan. Penggunaannya dalam jumlah besar menunjukkan komitmen Rusia untuk mempercepat perang di wilayah Ukraina. Namun, adanya kebocoran informasi bahwa serangan tersebut mengenai daerah sipil memicu pertanyaan tentang akurasi dan strategi militer Rusia.
Analisis terkini menunjukkan bahwa Oreshnik memiliki jangkauan hingga 2.500 kilometer, memungkinkan serangan dari jarak jauh ke wilayah yang disebut Rusia sebagai “daerah pendudukan.” Meski pihak Rusia mengklaim tidak sengaja menargetkan infrastruktur sipil, sejumlah laporan menunjukkan bahwa kemungkinan kesalahan logistik atau kurangnya pengawasan tidak dapat dikesampingkan. Korban yang menewaskan dua orang di Kyiv, misalnya, terjadi di area yang didominasi bangunan komersial dan tempat tinggal.
Serangan udara tersebut juga memberikan dampak psikologis besar terhadap masyarakat Ukraina. Pasca-serangan, warga Kyiv terus berusaha mengungsi dari wilayah yang terkena dampak langsung. Sementara itu, media internasional seperti Washington Post melaporkan bahwa situasi di kota masih memburuk, dengan kebakaran tak terkendali dan perangkap yang menyisakan risiko akan terus terjadi.
Perang Berkepanjangan dan Tekanan Internasional
Kebuntuan diplomatik berlanjut meskipun negosiasi mengalami peningkatan. Kesepakatan untuk mencapai perdamaian tampak sulit, terutama setelah serangan Oreshnik di Kyiv. Kebocoran kekuatan militer Rusia memberikan tekanan pada pihak internasional untuk meningkatkan sanksi atau dukungan militer terhadap Ukraina. Kalla, seorang diplomat Eropa, menekankan bahwa tindakan ini menunjukkan peningkatan agresi Rusia dalam upayanya menguasai wilayah utara Ukraina.
Di sisi lain, pendukung Rusia berargumen bahwa serangan udara tersebut adalah bagian dari perang yang semakin memanas. Mereka menyatakan bahwa Oreshnik digunakan untuk menunjukkan kemampuan operasional Rusia di luar wilayah wilayah yang dikuasai. Pemakaiannya di Kyiv, yang jaraknya cukup jauh dari front perang, dianggap sebagai bentuk serangan taktis untuk memperlihatkan dominasi militer Rusia.
Karena kejadian ini, Uni Eropa berharap dapat meningkatkan koordinasi dengan NATO dan organisasi lainnya untuk menambah tekanan terhadap Moskow. Dalam beberapa hari terakhir, keputusan politik internasional terus dipertimbangkan, termasuk pembatasan ekspor senjata ke Rusia atau peningkatan bantuan militer ke Ukraina. Namun, Rusia tetap berpegang pada pernyataan bahwa serangan udara tersebut adalah respons terhadap serangan Ukraina, yang dianggap sebagai ancaman terhadap keamanan Rusia.
Sementara itu, di Kyiv, upaya penyelamatan terus berjalan. Tim pemadam kebakaran bekerja keras untuk memadamkan api di area pasar dan pusat perbelanjaan yang hancur. Sementara warga terus berlarian, harapan untuk jangka panjang tetap mengemuka. Dengan serangan besar ini, Rusia mencoba mempercepat perang, sementara Ukraina berupaya membangun kembali infrastruktur dan mengembalikan kepercayaan masyarakat.
