FitInfoSehat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

New Policy: Iran Resmi Tutup Selat Hormuz setelah Serangan Terbaru AS

Published Juni 11, 2026 · Updated Juni 11, 2026 · By Lisa Moore

This handout satellite image taken by 2026 Planet Labs PBC on March 2, 2026 shows smoke billowing from a vessel following an explosion from the port of Bandar Abbas along the strait of Hormuz. The United States and Israel launched strikes against Iran on February 28, killing Iran's supreme leader and top military leaders, prompting authorities to retaliate with strikes on Israel and US bases across the Gulf. (Photo by 2026 Planet Labs PBC / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / © 2026 PLANET LABS PBC " - HANDOUT - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Iran Resmi Tutup Selat Hormuz setelah Serangan Terbaru AS

Kapal Disasarakan Setelah Operasi Militer AS

New Policy - Pemerintah Iran telah secara resmi menutup Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang menjadi pintu masuk utama bagi pengiriman minyak ke luar negeri. Penutupan ini dilakukan setelah serangan militer terbaru dari Amerika Serikat yang terjadi pada Rabu (10/6). Dalam pernyataan yang diterbitkan oleh media lokal pada Kamis (11/6), kantor berita Iran, Mehr, menyebutkan bahwa komando militer gabungan tertinggi negara tersebut memerintahkan penutupan lengkap Selat Hormuz bagi semua jenis kapal, termasuk kapal komersial dan tanker minyak. Laporan tersebut menegaskan bahwa setiap kapal yang mencoba melewati selat tersebut akan menjadi sasaran serangan. "Setiap lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz akan menjadi sasaran," tulis kantor berita Tasnim, yang melaporkan bahwa komando militer Khatam al-Anbiya Iran mengambil keputusan ini sebagai respons terhadap serangan AS. Penutupan total ini menimbulkan kekhawatiran besar bagi negara-negara pengguna minyak, karena selat tersebut merupakan jalur utama pengiriman sekitar 20 persen dari total minyak dunia.

Konflik Memicu Tindakan Militer AS

Serangan militer AS terhadap Iran semakin memperparah ketegangan yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengungkapkan bahwa operasi tersebut dimulai pada pukul 17.15 waktu Washington, setara dengan 21.15 GMT. Pengeboman dan serangan udara dilaporkan terjadi di wilayah selatan Iran, khususnya di kawasan Kargan, Kota Minab, serta lokasi lain yang menjadi target utama. Media Iran menyatakan bahwa lima proyektil milik Amerika Serikat menghantam area di Kargan, sebuah kota kecil di provinsi Hormuzgan. Ledakan juga terdengar di Bandar Abbas, sementara sistem pertahanan udara aktif dilaporkan beroperasi di wilayah Jask, Qeshm, dan Sirik. Kehadiran pasukan udara AS di selatan Iran menunjukkan upaya untuk menekan pihak berkuasa lokal, terutama setelah beberapa kali serangan sebelumnya yang menargetkan infrastruktur penting.

Pernyataan Trump: Tindakan Militer Akan Berlanjut

Selama wawancara dengan wartawan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa pihaknya akan terus menyerang Iran. "Kami telah menyerang mereka dengan keras kemarin. Kami akan menyerang mereka lagi dengan keras hari ini," kata Trump dalam pernyataannya. Pernyataan ini menunjukkan tekad AS untuk memperkuat posisi dalam konflik tersebut. Trump menambahkan bahwa negosiasi antara pihak AS dan Iran hampir selesai, tetapi para negosiator Iran terus menunda kesepakatan. "Mereka mempermainat kami," tukasnya, menunjukkan ketidaksabaran terhadap upaya diplomatik. Kritik ini menyoroti kesenjangan antara kata-kata dan tindakan, karena meski negosiasi dianggap sebagai jalan keluar, AS tetap mempertahankan kebijakan militer untuk menekan Iran.

Strategi dan Dampak Global

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran menimbulkan dugaan bahwa kebijakan ini akan mengganggu alur pasokan minyak global. Dengan lebih dari 17 juta barel minyak mentah yang dilewati setiap hari, selat tersebut menjadi jalur vital bagi ekonomi dunia. Apabila penutupan berlangsung lama, harga minyak di pasar internasional bisa naik signifikan, mengakibatkan kenaikan biaya kehidupan di berbagai negara. Pernyataan dari kementerian pertahanan Iran juga menyebutkan bahwa mereka mempertahankan kekuatan untuk menjamin keamanan jalur perairan tersebut. "Kami akan melindungi kepentingan negara kita dengan cara apa pun," demikian bunyi pernyataan resmi. Meski demikian, beberapa analis internasional mengkhawatirkan bahwa tindakan ini akan memicu reaksi lebih lanjut dari AS, termasuk kemungkinan serangan udara yang lebih besar atau pembekuan sementara impor minyak.

Respon Internasional dan Tantangan Depan

Kebijakan penutupan Selat Hormuz oleh Iran tidak hanya menarik perhatian pihak AS, tetapi juga negara-negara lain yang bergantung pada impor minyak dari kawasan tersebut. Negara-negara seperti Jepang, Tiongkok, dan Eropa mulai meninjau ulang rencana pengiriman minyak mereka, sementara beberapa pelaku bisnis mengutamakan keberangkatan kapal melalui jalur alternatif. Pengambilan keputusan ini juga menunjukkan pergeseran strategi Iran dalam menghadapi tekanan dari AS. Sebelumnya, negara itu lebih sering menggunakan strategi diplomasi dan ekonomi, tetapi kini beralih ke tindakan langsung. Pernyataan dari kepala militer Iran menegaskan bahwa kekuatan udara dan laut negara tersebut telah siap untuk mengamankan selat tersebut.

Dalam beberapa hari terakhir, kondisi keamanan di Selat Hormuz semakin menegangkan. Pasukan kapal pengawal Iran diberitakan menemani kapal-kapal besar, sementara sistem pertahanan udara juga aktif mengawasi area kritis. Beberapa sumber mengatakan bahwa penutupan ini bisa terjadi dalam waktu 24 jam, tergantung pada kecepatan respons dari AS.

Kebijakan penutupan ini juga memicu perdebatan mengenai kebijakan internasional. Beberapa ahli mempertanyakan apakah langkah Iran akan berdampak lebih besar daripada keuntungan yang diperoleh. Namun, di satu sisi, tindakan ini menunjukkan kemampuan Iran untuk berperang secara independen, sementara di sisi lain, bisa memperkuat hubungan antar-negara yang tidak ingin melihat tekanan dari pihak AS.

“Kami hampir mencapai kesepakatan, tetapi mereka terus menunda-nunda,” kata Trump. Pernyataan ini menegaskan bahwa kebijakan militer AS tidak akan berhenti, bahkan setelah penutupan Selat Hormuz.

Beberapa kejadian terkini menggarisbawahi perang dagang dan perang laut yang terjadi di wilayah tersebut. Dalam beberapa jam setelah serangan AS, kapal-kapal Iran mulai menutup akses ke selat. Pernyataan ini memperlihatkan bahwa negara tersebut siap mengambil langkah drastis untuk melindungi kepentingannya.

Wilayah selatan Iran menjadi sasaran utama dari serangan AS, dengan banyak laporan mengenai ledakan di daerah-daerah strategis. Apabila kondisi ini terus berlanjut, negara-negara lain mungkin terpaksa mengambil tindakan untuk mengurangi ketergantungan pada minyak Iran.

Seiring dengan penutupan Selat Hormuz, Iran juga mengancam akan melakukan serangan balik terhadap armada AS jika penyerangan terus berlanjut. "Kami tidak akan diam saja jika mereka terus menyerang," demikian pesan yang disampaikan oleh para pemimpin militer.

Dalam konteks geopolitik, keputusan Iran menutup selat tersebut merupakan tindakan penting dalam menegaskan dominasi negara itu atas kepentingan minyak global. Meski AS memiliki kekuatan militer yang besar, keberhasilan Iran dalam menjaga keamanan Selat Hormuz akan menjadi bukti kekuatan mereka.

Apakah langkah ini akan menimbulkan efek domino atau hanya sekadar tindakan penghambat? Masih tergantung pada reaksi dari pihak AS dan negara-negara lain yang terlibat dalam hubungan diplomatik. Saat ini, dunia menunggu langkah lebih lanjut dari kedua belah pihak.