FitInfoSehat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Latest Program: Rusia Heran dengan Eropa, Klaim Ingin Dialog tapi Persenjatai Ukraina

Published Juni 19, 2026 · Updated Juni 19, 2026 · By Jessica Jackson

Rusia Heran dengan Eropa, Klaim Ingin Dialog tapi Persenjatai Ukraina

Kebijakan Eropa dalam Upaya Memutus Hubungan dengan Rusia

Latest Program - Di tengah persaingan diplomatik yang semakin memanas, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengungkapkan kekecewaannya terhadap sikap Eropa. Menurutnya, negara-negara Barat terus berupaya menegakkan kekuasaan mereka melalui serangkaian tindakan hukum, sambil menyembunyikan niat untuk menciptakan kesepakatan dengan Moskow. "Eropa menunjukkan keinginan untuk mengadakan dialog, tetapi pada saat yang sama, mereka tak henti-hentinya memperkuat operasi hukum militer terhadap Rusia," kata Lavrov dalam artikel yang berjudul "Ukraina, Eropa, dan Keamanan Global." Ia menyoroti bahwa kebijakan tersebut bertujuan memperkuat posisi Barat dalam menekan Rusia, meskipun berbagai negara menawarkan pintu terbuka untuk negosiasi.

"Rencana Eropa adalah berunding dengan Rusia sembari secara sekaligus melanjutkan kampanye hukum militer yang diatur melalui Dewan Eropa," tambah Lavrov. Ia menjelaskan bahwa organisasi yang sebelumnya dihormati sebagai mitra internasional ini kini sedang membangun infrastruktur hukum khusus. "Di dalamnya, telah dibentuk sebuah sistem komprehensif untuk 'mengadili Rusia'—termasuk Daftar Kerugian, Komisi Klaim, dan Pengadilan Khusus," tambahnya. Tujuan utamanya, menurut Lavrov, adalah menunjukkan bahwa Eropa memiliki alat untuk mempertahankan dominasi politik dan ekonomi mereka, sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap tindakan tegas terhadap Rusia.

Infrastuktur Hukum untuk Mengadili Rusia

Menurut Lavrov, infrastruktur tersebut bukan hanya simbolis, tetapi juga memiliki implikasi nyata dalam mempercepat proses peradilan terhadap Rusia. "Dewan Eropa tidak hanya menjadi panggung untuk mengkritik Moskow, tetapi juga menjadi badan yang mampu menetapkan hukuman melalui mekanisme khusus," jelasnya. Ia menyoroti bahwa sistem ini memungkinkan negara-negara Eropa menambahkan kredibilitas pada klaim mereka tentang penjarahan wilayah Rusia. "Dengan adanya Pengadilan Khusus, mereka bisa memastikan bahwa setiap tindakan Rusia dianalisis secara mendalam, sementara klaim mereka terhadap Ukraina dianggap lebih beralasan," kata Lavrov. Namun, ia menilai bahwa inisiatif ini justru mengabaikan kontribusi Ukraina dalam menghadapi ancaman dari Rusia.

"Di dalam organisasi yang dulunya disegani ini, sebuah infrastruktur lengkap sedang dibangun dengan tujuan khusus untuk 'meminta pertanggungjawaban Rusia': sebuah Daftar Kerugian, Komisi Klaim, dan Pengadilan Khusus," ujarnya menambahkan. Menurut Lavrov, inisiatif tersebut memperlihatkan keseriusan Eropa dalam menegakkan hukum internasional, tetapi juga menunjukkan ketidakseimbangan dalam memperlakukan Rusia dibanding negara lain. "Kami memahami bahwa Eropa ingin menjaga kredibilitas mereka, tetapi mereka tak sadar bahwa tindakan ini justru memperkuat kesan bahwa Rusia adalah musuh utama yang harus dihukum," lanjutnya.

Keterlambatan dalam Mengakui Aksi Sabotase

Di sisi lain, Lavrov mengkritik sikap Eropa yang memperlambat respons terhadap aksi sabotase oleh militer Ukraina. "Mereka sibuk menyusun argumen untuk menuntut Rusia, tetapi mengabaikan fakta bahwa Ukraina juga melakukan serangan di wilayah Laut Hitam dan Mediterania," katanya. Menurutnya, insiden tersebut sering kali tidak mendapat perhatian sebanyak tindakan Rusia di Laut Baltik dan Atlantik. "Ketika ada kapal dagang Rusia yang ditahan, Eropa segera mengumumkannya, tetapi saat kapal Ukraina melakukan tindakan serupa, mereka hanya melihatnya sebagai kegiatan biasa," jelas Lavrov. Ia menegaskan bahwa tindakan ini menunjukkan bias dalam menilai konflik, sekaligus memperkuat narasi bahwa Rusia adalah pelaku utama konflik.

"Uni Eropa juga telah memberikan lampu hijau untuk menahan kapal dagang di laut lepas. Beberapa insiden telah terjadi di Laut Baltik dan Atlantik," katanya. Lavrov menambahkan bahwa keterlibatan Eropa dalam menetapkan aturan penahanan kapal adalah bagian dari strategi untuk mengurangi akses Rusia ke sumber daya global. "Namun, mereka mengabaikan bahwa Ukraina juga melakukan operasi serupa di daerah lain, yang seharusnya menjadi bahan diskusi bersama," ujarnya. Ia menilai bahwa Eropa mengambil jarak dari konflik secara berlebihan, terutama dalam menghadapi ancaman dari negara-negara klien mereka.

Penerbitan Artikel Lavrov dan Pemutusan oleh Politico Europe

Menariknya, artikel Lavrov yang berisi kritik terhadap kebijakan Eropa awalnya direncanakan untuk diterbitkan di Politico Europe, sebuah media berbasis di Brussels. Namun, di saat akhir, redaksi memutuskan untuk menunda penerbitannya. "Ketidaksetujuan editorial terhadap artikel tersebut mungkin berasal dari kekhawatiran bahwa teks Lavrov akan menimbulkan ketegangan lebih lanjut antara Rusia dan Eropa," tulis kementerian. Meski demikian, Lavrov tetap menegaskan bahwa isu ini penting untuk dibahas secara terbuka, karena menyangkut keadilan internasional dan kebijakan luar negeri Eropa. Ia menilai bahwa politik diam-diam Eropa terhadap Rusia adalah hal yang berlawanan dengan prinsip dialog yang mereka puji.

Kritik Lavrov ini sekaligus mengingatkan bahwa perang hukum Eropa terhadap Rusia tidak cukup hanya berupa pembicaraan, tetapi juga perlu disertai tindakan konkret. "Jika Eropa ingin menciptakan kesepakatan, mereka harus memulai dari konsistensi dalam menghadapi semua pihak yang terlibat, termasuk Ukraina," katanya. Lavrov menekankan bahwa tindakan hukum yang dijalankan terhadap Rusia seharusnya sejajar dengan tindakan yang diambil terhadap negara lain. "Kami tidak menyangkal kesalahan, tetapi kami merasa bahwa Eropa terlalu cepat menuduh Rusia, sementara mereka tidak menyadari bagaimana kebijakan mereka sendiri memicu konflik," jelasnya.

Dengan ini, Lavrov menyoroti bahwa Eropa mengadopsi pendekatan yang terkesan menyilaukan, yaitu menyatakan keinginan untuk dialog sambil memperkuat tindakan penjarahan terhadap Rusia. Ia menilai bahwa langkah-langkah tersebut memperkuat dominasi politik Barat, tetapi juga berisiko mengurangi upaya diplomasi yang bisa menyelesaikan konflik. "Kami berharap Eropa bisa menyadari bahwa persaingan hukum harus menjadi alat untuk membangun kesepahaman