Korban Tewas Gempa Filipina Bertambah – Militer Kerahkan Ratusan Personel untuk Operasi Penyelamatan
Korban Tewas Gempa Filipina Bertambah, Militer Kerahkan Ratusan Personel untuk Operasi Penyelamatan
Pencatatan Korban Jiwa
Korban Tewas Gempa Filipina Bertambah - Berdasarkan laporan dari Badan Pertahanan Sipil Filipina (Office of Civil Defense/OCD), sebanyak 45 korban jiwa tercatat akibat gempa bermagnitudo 7,8 yang terjadi pada Senin (8/6). Guncangan ini mengenai Maasim, Sarangani, dan sejumlah daerah lain di wilayah selatan Filipina. Deputi Administrator Bidang Administrasi OCD, Bernardo Rafaelito Alejandro IV, menjelaskan bahwa jumlah korban tewas tersebar di beberapa area, termasuk Semenanjung Zamboanga, Wilayah Davao, dan Soccsksargen. Menurut Alejandro, 18 korban meninggal dunia di Sarangani, 15 orang di Cotabato Selatan, 11 orang di Davao Occidental, serta satu korban di Davao del Sur. Selain itu, masih terdapat laporan yang perlu diverifikasi terkait 17 orang yang dinyatakan hilang. Dari angka tersebut, 13 orang di Davao Occidental dan empat orang di General Santos City dilaporkan tidak ditemukan. OCD juga mencatat bahwa 630 orang mengalami cedera akibat bencana tersebut, meski angka ini masih dalam pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan keakuratan.
Kerja Sama dalam Penanganan Bencana
Dewan Nasional Pengurangan Risiko dan Manajemen Bencana Filipina (NDRRMC) memberikan estimasi jumlah keluarga yang terkena dampak gempa, yaitu 33.596 keluarga atau sekitar 149.372 orang. Wilayah yang terkena mencakup Semenanjung Zamboanga, Wilayah Davao, Soccsksargen, serta Daerah Otonomi Bangsamoro di Mindanao. Menurut laporan NDRRMC, 8.813 keluarga atau 32.464 orang saat ini ditempatkan di 57 pusat evakuasi. Di sisi lain, 1.804 keluarga atau 8.973 orang menerima bantuan di luar pengungsian, sementara sebagian warga memilih tinggal sementara di rumah kerabat. Pencatatan ini terus diperbarui seiring masuknya data dari lapangan.
Upaya Penyelamatan oleh Militer
Dalam upaya mempercepat penanganan dampak gempa, Angkatan Darat Filipina mengirimkan tim penyelamatan khusus, yaitu Urban Search and Rescue (USAR), ke General Santos City. Jumlah personel yang dikerahkan mencapai 18 orang. Kolonel Louie Dema-ala, juru bicara Angkatan Darat Filipina, menyebutkan bahwa Divisi Infanteri Ke-10 telah menurunkan sekitar 200 personel ke daerah tersebut, yang merupakan salah satu lokasi dengan kerusakan infrastruktur terparah. Personel ini berasal dari berbagai satuan, seperti satu peleton dari Kompi Tanggap Darurat Ke-10, tiga peleton dari Satuan Tugas Gensan, satu peleton dari Brigade Infanteri Ke-1002, serta satu kompi dari Batalion Infanteri Ke-28.
Detil Pemenuhan Bantuan
Selain penyelamatan, militer juga mendukung operasi dengan mengirimkan kendaraan logistik. Delapan truk KM-250, lima truk KM-450, dua kendaraan patroli, serta tiga sepeda motor disiapkan untuk menunjang kegiatan di lapangan. Jumlah tersebut diperkuat oleh 56 truk militer dan satu kendaraan patroli yang siap digunakan kapan saja. Dema-ala menambahkan bahwa tim-tim ini bekerja bersama dengan lembaga pemerintah nasional dan daerah untuk memastikan respons cepat dan terkoordinasi. "Angkatan Darat Filipina bekerja sama erat dengan Lembaga pemerintah nasional dan pemerintah daerah untuk memastikan respons yang cepat dan terkoordinasi terhadap gempa-gempa yang merusak di kawasan itu," pungkas Dema-ala dalam wawancara bersama DZMM.
Kerusakan Infrastruktur dan Dampak Ekonomi
Kerusakan pada infrastruktur juga tercatat cukup signifikan. NDRRMC mencatat bahwa 2.499 rumah mengalami kerusakan sebagian, sementara 495 rumah lainnya mengalami kerusakan total. Wilayah yang paling parah adalah Semenanjung Zamboanga, Wilayah Davao, dan Soccsksargen. Selain kerusakan fisik, gempa ini juga berdampak pada kehidupan warga setempat, terutama dalam hal akses layanan kebutuhan pokok dan perpindahan sementara. Saat ini, sejumlah rumah rusak masih ditunggu perbaikan, sementara pengungsi memerlukan bantuan tambahan untuk memenuhi kebutuhan harian.
Dukungan dari Tim HADR
Divisi Infanteri Ke-6 juga turut menyiapkan 53 personel dari 12 tim bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana (HADR) untuk operasi di beberapa lokasi. Mereka ditempatkan di General Santos City, Maitum, Kiamba, Maasim di Sarangani, serta Lebak di Provinsi Sultan Kudarat. Tim-tim ini bertugas untuk mengkoordinasikan distribusi bantuan, evaluasi kebutuhan warga, dan memantau kondisi lingkungan setelah gempa. Dema-ala menjelaskan bahwa selain personel yang sudah diterjunkan, Angkatan Darat Filipina juga menyiagakan 530 personel dari 53 tim HADR Divisi Infanteri Ke-10 dan 77 personel dari sembilan tim HADR Divisi Infanteri Ke-6. Kesiapan ini memastikan respons yang berkelanjutan seiring adanya laporan terbaru dari lapangan.
Kondisi di Lapangan dan Proses Verifikasi
Dalam situasi darurat, pihak OCD masih berupaya memastikan data korban jiwa dan hilang benar-benar akurat. Selain mengumpulkan laporan dari masyarakat, mereka juga melakukan verifikasi lapangan guna menghindari kesalahan informasi. Angka 45 korban tewas dan 17 yang hilang bisa berubah setelah semua data dianalisis lebih lanjut. Demikian pula jumlah korban luka, yang mencapai 630 orang, bisa bertambah seiring adanya pelaporan dari daerah terpencil. Dalam proses ini, komunikasi antara OCD, NDRRMC, dan lembaga pemerintah lokal menjadi kunci untuk menyelaraskan upaya evakuasi dan penanganan darurat.
Perkembangan di Wilayah Terdampak
Selain kegiatan penyelamatan, pihak berwenang juga fokus pada pemulihan infrastruktur. Pemerintah daerah, seperti Kota General Santos dan Kabupaten Sarangani, berupaya menormalisasi aktivitas sehari-hari sambil memastikan pengungsi mendapat tempat tinggal sementara dan layanan kesehatan. Para warga yang mengalami kerusakan rumah menyatakan bahwa kebutuhan utama seperti air bersih, makanan, dan perlengkapan kebersihan menjadi prioritas. Selain itu, proses pengecekan bangunan berpotensi runtuh atau tidak aman juga berlangsung di sejumlah wilayah, terutama di area Maasim dan Davao Occidental.
Koordinasi dan Komitmen Seluruh Pihak
Kolaborasi antarlembaga menjadi salah satu faktor utama keberhasilan operasi penyelamatan. Dema-ala menekankan bahwa Angkatan Darat Filipina tidak bekerja sendirian, tetapi selalu memperoleh dukungan dari unit-unit pemerintah setempat. Masyarakat lokal, seperti warga General Santos City, juga aktif membantu proses evakuasi dengan menyediakan informasi terkini mengenai kondisi rumah dan jalan. Selain itu, organisasi nirlaba serta komunitas lokal turut berperan dalam membagikan makanan dan bantuan darurat ke daerah terpencil