FitInfoSehat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Historic Moment: Israel Klaim Kepala RS Gaza Ditahan secara Sah dan tidak Sekarat

Published Juli 10, 2026 · Updated Juli 10, 2026 · By Jessica Jackson

Israel Klaim Penahanan Kepala RS Gaza Sah, Historic Moment bagi Diplomasi

Historic Moment - Pemerintah Israel pada hari Jumat, 10 Juli, secara resmi menegaskan bahwa penahanan Dr. Hussam Abu Safiya, direktur Rumah Sakit Kamal Adwan di Gaza, telah dilakukan secara sah menurut hukum internasional. Pernyataan ini merupakan respons terhadap berbagai laporan yang menyebutkan dokter anak tersebut menghadapi kondisi kesehatan mengancam nyawa selama masa penahanannya. Misi diplomatik Israel di Jenewa melalui platform X menyatakan bahwa penahanan ini didasarkan pada intelijen konkret yang dimiliki negara tersebut. Historic Moment ini menandai langkah penting dalam klarifikasi posisi Israel terkait kasus Dr. Abu Safiya.

Tuduhan dan Reaksi Israel Terhadap Dr. Abu Safiya

Israel secara tegas menuduh Dr. Abu Safiya sebagai seorang kolonel di Hamas. Dalam pernyataannya, perwakilan Israel di Jenewa menjelaskan bahwa pada tahap awal penahanan, sang dokter tidak menunjukkan tanda-tanda atau indikasi apapun yang mengarah pada kondisi kesehatan kritis. Pernyataan resmi ini muncul menyusul adanya keprihatinan yang disampaikan oleh tim investigasi PBB serta sejumlah pakar hak asasi manusia internasional dalam beberapa minggu terakhir. Historic Moment ini juga menandai respons langsung Israel terhadap tekanan internasional.

"Ditahan secara sah oleh Israel berdasarkan intelijen konkret," demikian pernyataan misi diplomatik Israel di media sosial X.

Dr. Hussam Abu Safiya menjadi sosok yang cukup dikenal secara internasional pada tahun 2024 silam. Popularitasnya meningkat pesat setelah ia aktif memposting berbagai foto dan informasi mengenai kondisi mengerikan yang terjadi di rumah sakit tempat ia bekerja. Rumah Sakit Kamal Adwan yang berlokasi di Beit Lahia, Gaza, saat itu sedang mengalami pengepungan berat selama serangan besar-besaran yang dilancarkan oleh pasukan Israel. Pada tanggal 27 Desember tahun yang sama, pasukan Israel memulai serangan terhadap fasilitas medis tersebut dan menuduh rumah sakit yang saat itu merupakan satu-satunya fasilitas kesehatan yang berfungsi di wilayah Gaza utara sebagai pusat operasional teroris Hamas.

Keprihatinan PBB dan Pakar Hak Asasi Manusia

Empat pakar hak asasi manusia independen yang ditunjuk oleh PBB mengeluarkan sebuah pernyataan bersama pada hari Selasa, tanggal 7 Juli. Mereka menyatakan bahwa penahanan berkelanjutan terhadap Dr. Abu Safiya tanpa adanya dakwaan resmi maupun proses pengadilan merupakan cerminan dari penargetan sistematis yang dilakukan Israel terhadap para pekerja kesehatan Palestina. Selain itu, Komisi Penyelidikan (CoI) independen PBB mengenai situasi hak asasi manusia di wilayah Palestina yang diduduki juga mengeluarkan pernyataan terpisah pada hari Rabu. Historic Moment ini menunjukkan meningkatnya perhatian global terhadap kasus tersebut.

"Pada tahap penahanannya, ia tidak menunjukkan indikasi kondisi yang mengancam jiwa."

Komisi tersebut menyatakan keprihatinan mendalam atas adanya laporan kredibel yang menyebutkan bahwa Dr. Hussam Abu Safiya mengalami pelecehan yang berkelanjutan dan bersifat berat selama masa penahanannya. Komisi Penyelidikan menyerukan agar sang dokter segera dibebaskan secara tanpa syarat dan dengan aman. Mereka juga mendesak otoritas Israel untuk segera memberikan perawatan medis independen kepada Dr. Abu Safiya. Komisi Penyelidikan yang sebelumnya telah menuduh Israel melakukan genosida di Gaza menyatakan bahwa perlakuan buruk yang dilaporkan terhadap Dr. Abu Safiya sesuai dengan pola pelanggaran yang lebih luas.

Pertahanan Israel dan Tinjauan Hukum

Pernyataan misi Israel secara tegas menolak klaim bahwa Dr. Abu Safiya ditahan secara sewenang-wenang. Negara Zionis tersebut menuduh sang dokter mengelola Rumah Sakit Kamal Adwan sebagai salah satu pusat teror Hamas. Menurut Israel, dokter tersebut memanfaatkan posisinya di rumah sakit untuk mengalihkan sumber daya kemanusiaan yang seharusnya ditujukan untuk kebutuhan sipil ke tujuan-tujuan teroris. Israel juga menegaskan bahwa penahanan Dr. Abu Safiya tunduk pada tinjauan administratif secara reguler serta pengawasan yudisial, termasuk oleh Mahkamah Agung yang telah melakukan tinjauan pada bulan lalu. Historic Moment ini menandai konfirmasi hukum atas penahanan tersebut.

"Pernyataan itu muncul setelah tim investigasi PBB dan beberapa pakar hak asasi manusia PBB minggu ini menyuarakan kekhawatiran tentang kasus tersebut."

Israel juga menyatakan bahwa tidak ditemukan indikasi apapun untuk mendukung klaim-klaim yang diajukan mengenai kondisi kesehatan Dr. Abu Safiya. Menurut pernyataan resmi, sang dokter telah diperiksa oleh petugas medis saat kedatangannya di Pusat Penahanan Nitzan pada tanggal 24 Juni 2026 dan beberapa kali setelah itu. Israel menambahkan bahwa Dr. Abu Safiya tetap berada di bawah pengawasan medis terus-menerus dan menerima perawatan sesuai dengan penentuan profesional dari tenaga medis. Selama serangan terhadap rumah sakit, puluhan staf medis termasuk Dr. Abu Safiya telah ditangkap oleh pasukan Israel.