FitInfoSehat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Topics Covered: Multaqa Daiyah Nasional 2026 Lahirkan 7 Rekomendasi untuk Kemerdekaan Palestina

Published Juni 22, 2026 · Updated Juni 22, 2026 · By Lisa Miller

Kongres Daiyah Nasional 2026 Menghasilkan Tujuh Rekomendasi untuk Kemerdekaan Palestina

Topics Covered - Di Jakarta, pada hari Minggu (22/6), Koalisi Daiyah untuk Al-Quds dan Palestina (KDIQP) bersama Koalisi Perempuan Indonesia Peduli Al-Aqsha (KPIPA) sukses menggelar acara Multaqa Daiyah Nasional 2026. Pertemuan ini menjadi momentum penting bagi komunitas muslimah dan daiyah se-Indonesia, dengan tema “Suara Daiyah, Harapan untuk Palestina.” Acara yang diadakan pertama kalinya secara nasional ini mempertemukan delegasi dari 10 organisasi masyarakat (ormas) muslimah serta perwakilan daiyah dari Aceh hingga Kalimantan Utara. Tujuan utama kegiatan adalah menyatukan perhatian dan langkah strategis untuk mendukung kemerdekaan Palestina, melalui dialog yang terbuka dan partisipatif.

FGD Sebagai Sarana Kolaborasi

Kegiatan ini dikemas dalam bentuk Focus Group Discussion (FGD) yang bertujuan mengumpulkan masukan langsung dari daiyah yang bergerak di tingkat masyarakat awam. Format ini memungkinkan partisipan berbagi pengalaman, tantangan, dan ide-ide konkret dalam mempromosikan isu Palestina. Nurjanah Hulwani, Ketua KPIPA, mengatakan bahwa hasil dari FGD akan segera diimplementasikan ke dalam program kerja nyata. “Multaqa Daiyah hari ini menghasilkan rekomendasi yang akan dimasukkan ke dalam program. Selanjutnya kita akan bentuk forum daiyah dan melaksanakan pertemuan secara rutin, baik secara daring maupun luring,” tutur Nurjanah.

“Hasil pertemuan ini akan menjadi dasar untuk penguatan konsistensi dakwah dan advokasi bagi Palestina,”

Nurjanah juga menekankan pentingnya mengintegrasikan materi edukasi Palestina ke dalam kegiatan Majelis Taklim (MT) secara efektif. Menurutnya, materi harus disusun secara fleksibel agar dapat disampaikan kepada berbagai segmen jemaah, mulai dari masyarakat menengah ke bawah hingga perempuan kelas menengah dan MT di sektor pemerintahan. “Kita perlu menyelipkan isu Palestina ke dalam kegiatan rutin, sehingga masyarakat lebih mudah memahami dan merespons,” ujarnya.

Keynote Speaker Menginspirasi Gerakan

Pembicara utama dalam acara ini adalah Dr. Salim Segaf Al Jufri, Wakil Ketua Ikatan Ulama Muslim Sedunia (IUMS), yang memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif Multaqa Daiyah Nasional. Salim mengajak para daiyah untuk merumuskan rencana jangka panjang dalam upaya mencapai kemerdekaan Palestina, sejalan dengan tujuan konstitusi Indonesia. “Kemerdekaan Palestina adalah prioritas utama. Seperti yang tercantum dalam pembukaan UUD 45, salah satu visi bangsa Indonesia adalah menciptakan ketertiban dunia berdasarkan keadilan sosial dan perdamaian abadi,” terang Salim.

“Kewajiban kita adalah menyuarakan kemerdekaan Palestina, karena itu adalah bagian dari visi kebangsaan kita,”

Dalam sesi berikutnya, Salim menyampaikan tiga peran utama yang perlu diemban oleh suara daiyah: pertama, suara kebenaran, yaitu tidak diam di hadapan kezaliman; kedua, suara persatuan umat, yang bertujuan memperkuat ukhuwah islamiyah, wathaniyah (kebangsaan), dan insaniyah (kemanusiaan); ketiga, suara harapan, yang menekankan pentingnya optimisme dalam menghadapi tantangan. Salim menekankan bahwa peran ini harus menjadi landasan bagi seluruh aktivitas dakwah dan kesadaran kolektif masyarakat.

Topik Utama yang Dibahas

Untuk memperkaya perspektif peserta, acara ini juga menyajikan empat topik utama yang dipaparkan oleh para ahli. Pertama, Militansi Pimpinan dan Masyarakat Zionis dalam Upaya Menghancurkan Masjid Al-Aqsa oleh Mohammad Novel Ariyadi. Peneliti ini menyoroti strategi politik dan agama yang dilakukan pihak-pihak penjajah untuk merusak tempat ibadah umat Islam di Yerusalem. Kedua, Kedudukan Masjid Al-Aqsa dan Peran Umat oleh Dr. Saiful Bahri. Narasumber ini menjelaskan pentingnya masjid sebagai simbol identitas dan sejarah bangsa Palestina.

Ketiga, Peran Daiyah dalam Membela Palestina oleh Eva Muzlifah. Eva menegaskan bahwa daiyah memiliki tanggung jawab besar dalam menyampaikan pesan kemerdekaan Palestina kepada publik. Keempat, Kondisi Palestina Terkini oleh Nurjanah Hulwani. Ia menyampaikan situasi terkini di Palestina, termasuk dampak konflik terhadap kehidupan rakyat dan kebutuhan bantuan internasional.

Hasil Rekomendasi yang Disepakati

Sebagai bukti komitmen, Multaqa Daiyah Nasional 2026 resmi menyepakati tujuh rekomendasi konkret. Edukasi Palestina akan dilakukan secara bertahap, dengan pendekatan yang disesuaikan dengan karakteristik jemaah. Hal ini termasuk penguatan materi tentang kedekatan keluarga, khususnya peran perempuan, anak, dan remaja dalam memperkuat kesadaran kemerdekaan.

Rekomendasi pertama menekankan penguatan kapasitas daiyah melalui pelatihan berkala tentang kepalestinaan. Poin kedua adalah pembentukan struktur organisasi khusus yang menangani isu Palestina di setiap ormas muslimah. Rekomendasi ketiga berisi standarisasi bahan ajar, termasuk pelatihan bagi pelatih (Training for Trainer) yang dipandu oleh KDIQP dan KPIPA.

Poin keempat mengusulkan pengelompokan materi kurikulum berdasarkan tingkat kesulitannya, dari materi dasar hingga khusus. Rekomendasi kelima menekankan pentingnya kontekstualisasi isu Palestina dalam pesan dakwah, dengan fokus pada tema keteladanan keluarga. Poin keenam mengajak seluruh forum daiyah untuk mengadakan kajian rutin tentang kepalestinaan. Rekomendasi terakhir adalah melakukan kunjungan strategis ke Kementerian Pendidikan dan Kementerian Agama untuk mendorong advokasi kebijakan yang mendukung Palestina.

Kontribusi Daiyah dalam Gerakan Nasional

Erika Suryani, Ketua Panitia Multaqa, berharap acara ini menjadi langkah awal dalam membangun gerakan yang dipimpin oleh para pendakwah perempuan. “Kegiatan ini menunjukkan bahwa kita berkomitmen untuk menyelamatkan saudara yang tengah tertindas. Suara da'i harus menjadi wadah yang memberi arah bagi aksi nyata,” katanya.

“Dengan partisipasi daiyah dari berbagai wilayah, kita bisa membangun koordinasi nasional yang solid,”

Acara ini juga menjadi wadah kolaborasi antara ormas muslimah dan daiyah untuk memperkuat suara kritis terhadap kebijakan Israel. Nurjanah menambahkan bahwa pendekatan ini perlu dilakukan secara k