FitInfoSehat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Solution For: Menteri Wihaji Tegaskan Ketangguhan Keluarga Penentu Masa Depan Indonesia

Published Juni 30, 2026 · Updated Juni 30, 2026 · By Linda Rodriguez

Menteri Wihaji: Ketangguhan Keluarga Menjadi Fondasi Masa Depan Indonesia

Solution For - Dalam acara peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 di Benteng Vredeburg, Yogyakarta (29/06), Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Kepala BKKBN Wihaji, memberikan pernyataan penting tentang peran keluarga dalam pembangunan bangsa. Menurutnya, keluarga tidak boleh diabaikan sebagai elemen kunci dalam menentukan masa depan Indonesia. Di tengah dunia yang terus berubah dengan cepat, tantangan yang dihadapi tidak hanya terbatas pada aspek ekonomi, tetapi juga mencakup kemampuan generasi muda untuk menghadapi dinamika kehidupan yang kompleks.

Wihaji menjelaskan bahwa kondisi global saat ini bisa digambarkan sebagai VUCA, singkatan dari volatility (perubahan cepat), uncertainty (ketidakpastian), complexity (kerumitan), dan ambiguity (kebingungan arah). Konsep ini menunjukkan bahwa perubahan sosial dan ekonomi terjadi secara dinamis, sehingga keluarga harus menjadi "benteng kokoh" yang mampu melindungi anggotanya dari dampak negatif. "Keluarga yang tangguh, hangat, dan solid bukan hanya kebutuhan, tapi keharusan mutlak bagi kelangsungan bangsa," tegas Wihaji dalam pidatonya.

"Maka ketangguhan keluarga bukanlah pilihan alternatif, melainkan keharusan mutlak dan urgensi nasional."

Dalam konteks ini, Wihaji menekankan bahwa keluarga tidak sekadar berupa unit keluarga yang fisik, tetapi harus menjadi wadah yang mendorong perkembangan karakter dan mental yang kuat. Dia menyoroti bahwa bonus demografi hanya akan menjadi kekuatan jika generasi muda Indonesia dikelola dengan baik. Untuk itu, sejak dini, keluarga harus menjadi titik awal dalam membentuk sumber daya manusia yang berkualitas, sehat, dan siap menghadapi berbagai perubahan.

Menurut Menteri Wihaji, peran keluarga dalam pembentukan kualitas SDM sangat penting. Transformasi ini dimulai dari lingkungan terdekat anak, yaitu keluarga. Upaya untuk mengatasi stunting, misalnya, harus diawali dari pemenuhan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan. "Ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi juga gerakan bersama yang dimulai dari keluarga," ujarnya. Dengan memastikan kebutuhan nutrisi dan kesehatan anak sejak awal, keluarga membantu menciptakan fondasi yang kuat bagi masa depan.

Di samping itu, Wihaji juga menyebutkan bahwa pendidikan karakter dan ketahanan mental anak harus menjadi prioritas. Keluarga dianggap sebagai tempat pertama bagi anak untuk membangun sikap adaptif, kolaboratif, serta inisiatif menghadapi tantangan hidup. "Keluarga adalah ruang pertama yang membentuk identitas dan kekuatan mental anak," kata Menteri Wihaji. Dia menegaskan bahwa kemajuan ekonomi dan infrastruktur yang pesat tidak akan berarti apa-apa jika manusia yang menjadi penggeraknya tidak memiliki kualitas yang memadai.

Pernyataan Wihaji mengingatkan bahwa tidak hanya ibu yang bertanggung jawab dalam pengasuhan anak, tetapi juga ayah. "Jangan biarkan anak-anak kita tumbuh dalam fenomena 'fatherless country', di mana ayah hadir secara fisik namun absen secara psikologis," tekan Menteri. Dalam hal ini, kehadiran ayah di samping ibu dianggap sebagai faktor penentu dalam membentuk kepribadian dan mental yang tangguh pada anak. Peran ayah tidak hanya sekadar memberikan dukungan material, tetapi juga emosional, yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan anak.

Wihaji juga mengingatkan bahwa keluarga yang tangguh harus mampu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pembentukan karakter. Menurutnya, keberhasilan pembangunan nasional bergantung pada kesehatan, kecerdasan, dan daya tahan mental masyarakat. "Keluarga adalah benteng pertahanan pertama," ujarnya. Tanpa kekuatan psikologis dan karakter yang baik, bangsa akan sulit menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.

Transformasi Keluarga sebagai Kunci Pembangunan

Menteri Wihaji menekankan bahwa keluarga harus menjadi pusat dari semua upaya pembangunan. Pemenuhan kebutuhan dasar seperti kesehatan, pendidikan, dan nutrisi harus dimulai dari rumah. Selain itu, pengasuhan anak yang seimbang dan komprehensif juga menjadi prioritas. "Keluarga yang kuat dan harmonis adalah perisai terbaik bagi anak-anak kita," tambah Wihaji.

Dalam mewujudkan hal ini, pemerintah dan lembaga terkait perlu memberikan dukungan yang memadai. Upaya pengembangan SDM tidak bisa hanya berhenti di sekolah atau institusi sosial, tetapi harus berakar dari keluarga. Dengan memperkuat tiga pilar utama, yaitu kesehatan, pendidikan karakter, dan ketahanan mental, keluarga bisa menjadi garda terdepan dalam pembangunan manusia.

Keluarga yang dikelola dengan baik akan menghasilkan generasi yang mampu menghadapi berbagai tantangan di masa depan. Hal ini penting karena ekonomi dan teknologi yang berkembang pesat menuntut keberadaan manusia yang adaptif dan berdaya saing. "Ketangguhan mental dan karakter anak adalah modal terpenting dalam menghadapi perubahan yang tak terduga," jelas Wihaji. Dengan demikian, keluarga tidak hanya menjadi tempat pertumbuhan fisik, tetapi juga mental dan emosional.

Menurut Menteri, fenomena "fatherless country" menjadi isu yang perlu diperhatikan. Ayah yang tidak aktif secara psikologis dapat mengurangi dampak positif pada perkembangan anak. Dukungan dari kedua orang tua sangat menentukan, baik dalam hal kebutuhan fisik maupun bimbingan emosional. "Jika ayah tidak hadir secara aktif, maka anak-anak mungkin akan mengalami kekurangan dalam aspek psikologis dan sosial," tegasnya.

Untuk menjaga ketangguhan keluarga, Wihaji menyarankan adanya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan keluarga. "Keluarga adalah unit dasar dari masyarakat, jadi semua kebijakan harus memprioritaskan kebutuhan keluarga," jelasnya. Dengan memperkuat kelembutan dan kehangatan dalam rumah tangga, maka anak-anak akan memiliki fondasi yang kuat untuk menjadi individu yang mandiri dan berkualitas.

Pidato Wihaji memberikan gambaran bahwa masa depan Indonesia bergantung pada kemampuan keluarga dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan memberdayakan anak-anak. "Kita tidak bisa memisahkan keberhasilan pembangunan dari kualitas keluarga," katanya. Dengan demikian, seluruh upaya peningkatan SDM harus dimulai dari keluarga, karena mereka adalah titik awal dari kekuatan bangsa.