Meeting Results: Hadiri Wisuda ke-25 UTB, Gita Wirjawan Dorong Lulusan Jadikan Indonesia Bangsa Pencipta AI
Hadiri Wisuda ke-25 UTB, Gita Wirjawan Dorong Lulusan Jadikan Indonesia Bangsa Pencipta AI
Meeting Results - Di tengah pergeseran paradigma teknologi global, Gita Wirjawan—mantan Menteri Perdagangan Indonesia dan Visiting Scholar Stanford University—menjadi salah satu pembicara utama dalam sidang terbuka wisuda ke-25 Universitas Teknologi Bandung (UTB). Acara yang berlangsung di Harris Hotel & Convention Festival Citylink Bandung ini menandai pembekalan kampus untuk menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang siap menghadapi era kecerdasan buatan (AI) di tingkat internasional. Dalam orasi ilmiahnya, Gita menekankan bahwa Indonesia harus bertransformasi dari pemakai teknologi menjadi negara yang mampu menciptakan inovasi berbasis AI.
Visi Global Melalui Konsep Brain Circulation
Gita menyoroti pentingnya kolaborasi lintas batas dan keterbukaan berpikir dalam mendukung kemajuan peradaban. "Kami harus membangun SDM yang tidak hanya mampu mengakses teknologi, tetapi juga mampu mengembangkan dan mengaksesinya secara global," ujarnya dalam pidato yang disampaikan pada Jumat (12/6). Konsep brain circulation, yang ia usung, menekankan perlunya lulusan teknologi dan bisnis digital menyebar ilmu ke berbagai negara sebelum kembali ke Indonesia untuk menerapkan pengetahuan tersebut dalam konteks lokal. Dengan pendekatan ini, menurut Gita, potensi inovasi akan tumbuh secara eksponensial.
"Wisudawan UTB harus punya aspirasi untuk menciptakan narasi Indonesia sebagai bangsa yang AI Capable, AI Creating, dan AI Enabled, bukan hanya AI Consuming. Tugas kita adalah mengakselerasi peningkatan daya dan kapasitas komputasi agar mampu bersaing di tingkat global,"
Menurut Gita, keberhasilan kompetisi global tidak bisa terlepas dari kemampuan memproses data secara efisien dan kreatif. Ia menekankan bahwa kampus harus menjadi tempat untuk mengasah kemampuan kritis, berpikir lateral, serta keterampilan adaptasi terhadap perubahan teknologi yang cepat. "SDM kita perlu membangun mentalitas yang tidak hanya memahami teknologi, tetapi juga mampu mengubahnya menjadi alat pemecah masalah," tambahnya.
Kompetensi Karakter yang Diperlukan untuk Era AI
Acara wisuda ini menjadi momentum penting bagi UTB dalam mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga siap menghadapi dinamika industri yang semakin terdigitalisasi. Rektor UTB, Muchammad Naseer, menyampaikan bahwa kampus terus berupaya memberikan pembelajaran yang relevan dengan tantangan masa depan. "Kami ingin lulusan mampu menjadi agen perubahan yang mendorong inovasi dan kolaborasi di berbagai sektor," katanya.
Kepala LLDIKTI Wilayah IV, Lukman, juga memberikan pandangan penting dalam sesi pembukaan. Ia menekankan bahwa penilaian kesuksesan di dunia kerja modern tidak lagi hanya bergantung pada Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). "Lulusan harus memiliki mindset yang fleksibel dan etika yang kuat, agar mampu beradaptasi dengan perubahan lanskap industri serta menjaga nilai-nilai sosial," ujarnya.
"Karakter khusus yang diperlukan bagi lulusan UTB adalah jejaring, adaptif, gesit, dan orisinal. Mereka harus mampu membangun hubungan profesional lintas bidang, cepat menyesuaikan diri, mengeksekusi solusi secara taktis, serta mempertahankan otentisitas dalam karya tanpa mengabaikan manfaat bagi masyarakat,"
Formula karakter yang disebut JAGO—Jejaring, Adaptif, Gesit, Orisinal—menjadi pedoman bagi lulusan baru. Lukman menjelaskan bahwa kemampuan menyebar ilmu ke berbagai lingkungan profesional akan meningkatkan kreativitas dan keberagaman perspektif. Sementara adaptif dan gesit mendorong lulusan untuk tetap relevan dalam dunia kerja yang terus berkembang. "Orisinalitas adalah kunci untuk menciptakan karya yang unik dan bermakna bagi kehidupan sosial," katanya.
Perbedaan Usia Menjadi Simbol Pendidikan Inklusif
Wisuda ke-25 UTB juga mencatatkan catatan unik dalam hal usia. Gilang Widyaputra, lulusan Teknik Informatika, menjadi wisudawan termuda dengan usia 21 tahun, sementara Ardi Ginanjar, lulusan Teknik Industri, mengklaim predikat tertua dengan usia 42 tahun. Perbedaan usia ini memperkuat komitmen UTB terhadap pendidikan yang inklusif, di mana usia bukan lagi penghalang untuk mengejar gelar akademik. "Ini menunjukkan bahwa Udayana University memberikan kesempatan kepada siapa pun, baik muda maupun tua, untuk berkembang secara intelektual dan profesional," kata Naseer.
Dalam pidato terbukanya, Naseer menyoroti pentingnya kesiapan lulusan menghadapi dunia kerja yang dinamis. "Dunia kini berkembang sangat cepat, dan SDM harus terus belajar serta berani menciptakan inovasi. Kami percaya lulusan UTB akan menjadi pilar utama untuk membangun ekosistem teknologi yang berkelanjutan," ujarnya.
Sejumlah lulusan dari program Teknik Informatika, Teknik Industri, Desain Komunikasi Visual (DKV), dan Bisnis Digital menghadiri acara ini. Dengan total 115 orang, angka ini mencerminkan keberagaman minat dan latar belakang akademik yang dihasilkan Udayana University. Kehadiran para lulusan dari berbagai usia dan latar belakang menegaskan bahwa pendidikan tinggi di Indonesia tidak lagi terbatas pada segelintir individu, tetapi terbuka untuk semua kalangan.
Persiapan untuk Dunia yang Semakin Terdigitalkan
Gita menambahkan bahwa pembekalan teknologi di universitas harus melampaui sekadar pengajaran teori. "Lulusan harus mampu mengaplikasikan pengetahuan dalam konteks nyata, seperti merancang solusi berbasis AI untuk masalah lokal maupun nasional," jelasnya. Ia menyoroti peran utama perguruan tinggi dalam membangun SDM yang bisa mengelola data, merancang algoritma, serta memahami struktur ekosistem digital.
Pendapat Gita sejalan dengan visi UTB yang ingin menjadikan lulusan sebagai kekuatan utama dalam transformasi digital. "Dengan kemampuan berpikir kritis dan inovatif, mereka akan mampu memimpin perubahan yang positif," tegas Naseer. Sementara itu, Lukman menambahkan bahwa kurikulum harus terus diperbarui untuk menyesuaikan dengan kebutuhan industri, termasuk sektor AI.
Acara ini juga menjadi kesempatan bagi UTB untuk menegaskan komitmennya dalam menciptakan SDM yang tangguh dan berdaya saing. Dengan pelatihan yang berfokus pada pemecahan masalah, keterampilan teknis, serta nilai-nilai etika, lulusan diharapkan mampu menjadi katalisator utama dalam pembangunan nasional. "Kami ingin mereka tidak hanya menyelesaikan studi, tetapi juga menjadi bagian dari solusi besar untuk Indonesia," tutur Naseer.
Dalam konteks global, Gita berharap lulusan UTB dapat berperan aktif dalam menyebarluaskan keahlian dan inovasi ke berbagai wilayah. "Kita harus menjadi bagian dari jaringan penelitian dan pengembangan AI yang internasional, sekaligus menjaga identitas lokal Indonesia," imbuhnya. Dengan kombinasi antara pendidikan berkualitas dan kesadaran akan peran sosial, UTB berkomitmen untuk menghasilkan generasi muda yang siap mendorong kemajuan teknologi dan ekonomi nasional.