Key Strategy: Baznas Siapkan Santri Jadi Pengusaha Fesyen Berdaya
Baznas Siapkan Santri Jadi Pengusaha Fesyen Berdaya
Key Strategy - Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI meluncurkan program Bootcamp Santripreneur Kompetisi Klaster Fesyen 2026 sebagai upaya mencetak santri yang mampu bersaing dan berdiri sendiri secara ekonomi. Program ini dirancang untuk meningkatkan keterampilan bisnis serta mendorong pengembangan usaha fesyen di kalangan peserta didik pesantren. Dalam seleksi yang berlangsung, sebanyak 50 santri terpilih mengikuti pelatihan intensif setelah melalui proses pendaftaran yang menarik minat dari 927 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Visi Membangun Santri sebagai Pengusaha
Pimpinan Baznas RI Bidang Pendistribusian, Pendayagunaan, dan Pemberdayaan, Idy Muzayyad, menjelaskan bahwa Santripreneur adalah salah satu inisiatif Baznas untuk mengembangkan potensi santri. "Kami ingin menciptakan santri yang tidak hanya memiliki semangat berwirausaha, tetapi juga menjadi pengusaha yang mandiri dan mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat," ujarnya, seperti yang dilaporkan dalam keterangan resmi, Senin (6/7). Menurut Idy, dunia fesyen dipilih karena memiliki prospek yang menjanjikan dan permintaan pasar yang terus meningkat. Ia berharap industri ini dapat digerakkan oleh para santri, sehingga menjadi bagian dari ekosistem ekonomi lokal yang kuat.
"Potensinya sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Hanya saja kami ingin industri itu tumbuh dari kalangan santri," kata Idy.
Program ini tidak hanya menekankan pada penguatan keterampilan, tetapi juga menuntut para peserta untuk membangun usaha yang berkelanjutan. Selama lima hari, peserta akan mengikuti pelatihan yang fokus pada strategi digitalisasi, manajemen pemasaran, serta berbagai materi pendukung yang dirancang untuk memperkuat kemampuan mereka dalam mengelola bisnis. Selain itu, pelatihan juga mencakup teknik pengembangan produk dan penerapan inovasi dalam industri fesyen.
Antusiasme Tinggi dari Santri dan Masyarakat
Direktur Penguatan Pendistribusian dan Pendayagunaan Nasional Baznas RI, Agus Siswanto, menegaskan bahwa program ini mendapat respons yang sangat positif dari masyarakat. "Sejak pendaftaran dibuka pada 12 hingga 26 Mei 2026, tercatat sebanyak 927 orang mendaftarkan diri untuk mengikuti kompetisi ini," ujarnya. Agus menjelaskan bahwa tujuan utama dari program ini adalah mengubah para santri dari keadaan sebagai penerima zakat (mustahik) menjadi pengusaha yang mandiri (muzaki). "Kami ingin para santri tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga menjadi pelaku usaha yang dapat menggerakkan perekonomian sekaligus menyalurkan zakat secara lebih produktif," tambahnya.
Dalam konteks ini, program Santripreneur menjadi platform untuk memperkuat peran zakat dalam mendorong kemandirian ekonomi. Agus menekankan bahwa kompetisi ini bertujuan mengubah paradigma, di mana santri dianggap sebagai individu yang hanya menerima bantuan, menjadi pelaku bisnis yang mampu menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.
Contoh Nyata: Santri yang Berhasil Membangun Brand
Satu dari 50 peserta yang lolos seleksi adalah Arifin, santri asal Rembang yang saat ini menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Kiai Galang Sewu, Semarang. Arifin mengembangkan brand fesyen bernama Rembang Klod, yang memproduksi kaos, jaket, serta merchandise bertema budaya dan identitas daerah Rembang. "Terima kasih Baznas, program ini pastinya akan sangat bermanfaat bagi kami, terutama santri yang masih membutuhkan pengetahuan tentang kewirausahaan, khususnya di bidang fesyen," ucapnya. Menurut Arifin, pelatihan ini memberikan wawasan yang berharga, tidak hanya dalam hal modal, tetapi juga dalam mengakses relasi dan pengalaman berharga.
Arifin mengatakan bahwa usaha yang dirintisnya bertujuan memperkenalkan nilai-nilai lokal melalui produk fesyen yang inovatif. "Dengan program ini, kami bisa memperkuat identitas budaya Rembang sekaligus menjangkau pasar yang lebih luas," tambahnya. Keberhasilan Arifin menjadi bukti bahwa santri tidak hanya memiliki potensi dalam bidang akademik, tetapi juga dalam pengembangan usaha yang berdampak sosial.
Langkah Lanjutan: Bantuan Modal dan Pendampingan
Dalam upaya memastikan kelangsungan program, Baznas akan memilih tiga peserta terbaik untuk menerima bantuan modal usaha. Selain itu, para peserta akan mendapatkan pembinaan dan pendampingan profesional dalam menjalankan bisnis fesyen mereka. "Ini adalah langkah konkret untuk memastikan santri tidak hanya terlibat, tetapi juga mampu berkembang menjadi pengusaha yang mampu bertahan dalam pasar yang kompetitif," jelas Agus.
Program ini dirancang sebagai bagian dari strategi Baznas dalam menciptakan ekosistem zakat yang lebih berdaya. Dengan meningkatkan kemandirian ekonomi santri, Baznas berharap mampu memperkuat peran zakat sebagai alat pembangunan yang lebih efektif. "Kami ingin zakat tidak hanya menjadi bantuan sementara, tetapi juga investasi yang berkelanjutan untuk masa depan masyarakat," imbuh Idy.
Bootcamp Santripreneur diharapkan menjadi wadah untuk menggali potensi santri dalam bidang kewirausahaan. Dengan fokus pada industri fesyen, program ini juga bertujuan mengakomodasi kebutuhan pasar yang terus berkembang. "Fesyen adalah industri yang dinamis dan memiliki peluang besar untuk berkontribusi pada perekonomian nasional," ujar Idy. Ia menambahkan bahwa pelatihan ini akan memberikan fondasi yang kuat bagi para peserta, sehingga mereka mampu membangun usaha yang berkelanjutan dan berdampak positif.
Sebagai bagian dari pelatihan, para peserta juga akan belajar tentang cara memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan daya jual produk mereka. "Digitalisasi menjadi kunci untuk memperluas pasar, terutama di era yang semakin bergantung pada teknologi," ujarnya. Selain itu, pelatihan akan mencakup analisis pasar, pengelolaan keuangan, dan strategi pemasaran yang efektif. Dengan demikian, santri tidak hanya terlatih dalam teknik produksi, tetapi juga dalam aspek pemasaran dan manajemen usaha.
Program ini diharapkan mampu menginspirasi santri lainnya untuk melibatkan diri dalam aktivitas ekonomi. "Baznas tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan yang memadai," tutur Agus. Ia menegaskan bahwa kompetisi ini akan menjadi langkah awal dalam membangun ekosistem bisnis yang didorong oleh nilai-nilai keislaman dan kemandirian ekonomi.
Dengan 50 peserta yang terpilih, Baznas menargetkan peningkatan kualitas usaha fesyen yang dijalankan oleh santri. Program ini juga diharapkan menjadi contoh bagus dalam memadukan pendidikan pesantren dengan praktek wirausaha. "Tujuan besar kita adalah mengubah santri menjadi pelaku usaha yang mampu berkontribusi bagi kemajuan masyarakat," pungkas Agus.