FitInfoSehat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Key Strategy: Angka Kematian Ibu Indonesia 144 per 100 Ribu Kelahiran, Pekerjaan Besar Capai Target SDGs

Published Juni 15, 2026 · Updated Juni 15, 2026 · By James Jackson

Angka Kematian Ibu Indonesia 144 per 100 Ribu Kelahiran, Pekerjaan Besar Capai Target SDGs

Key Strategy - Berdasarkan Survei Penduduk Antar Sensus 2025, angka kematian ibu (AKI) di Indonesia mencapai 144 per 100.000 kelahiran hidup. Meski terdapat peningkatan dibandingkan periode sebelumnya, angka ini masih jauh dari target Sustainable Development Goals (SDGs) 2030, yaitu 70 per 100.000 kelahiran hidup. Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM, Eugenius Phyowai Ganap, menilai pencapaian ini layak diapresiasi, namun masih diperlukan upaya lebih lanjut untuk menurunkan AKI. Menurutnya, kinerja selama lima tahun terakhir menunjukkan kemajuan, tetapi tantangan untuk mencapai target SDGs masih ada.

Analisis Dr. Eugenius Phyowai Ganap

Phyowai menyatakan bahwa angka kematian ibu yang tinggi tidak bisa hanya dijelaskan oleh satu faktor. "Kita perlu mengakui bahwa tenaga kesehatan penting, tetapi harus diimbangi dengan sarana prasarana yang memadai serta sistem rujukan yang efektif," ujarnya. Menurutnya, keberhasilan penurunan AKI bergantung pada sistem kesehatan yang resilien, yaitu kemampuan untuk menangani berbagai risiko secara cepat dan tepat. "Jika SDM tidak didukung oleh fasilitas yang memadai atau sistem rujukan yang kurang optimal, maka peningkatan AKI akan sulit dicapai," lanjutnya.

"Artinya, dalam lima tahun ke depan kita masih memiliki pekerjaan besar untuk mencapai target tersebut," ujar Phyowai, Senin (15/6).

Phyowai menyoroti upaya pemerintah melalui Kementerian Kesehatan dalam meningkatkan akses tenaga medis, terutama dokter spesialis kandungan. Namun, ia menekankan bahwa tantangan dalam distribusi tenaga kesehatan belum sepenuhnya terselesaikan. "Perlu ada mekanisme penghargaan dan sanksi yang jelas agar para profesional dapat menjalankan tugasnya sesuai kebutuhan masyarakat," tambahnya. Menurutnya, keberhasilan program distribusi akan bergantung pada koordinasi yang lebih baik antara pusat dan daerah.

Faktor Penyebab Angka Kematian Ibu yang Tinggi

Phyowai menjelaskan bahwa perbedaan AKI di berbagai wilayah tidak hanya disebabkan oleh perbedaan antara daerah perkotaan dan pedesaan. Faktor lain seperti ketertinggalan dalam penanganan kegawatdaruratan maternal juga memainkan peran penting. Ia mengungkapkan adanya "three delays" dalam proses pemulihan ibu hamil. Delay pertama terjadi karena kemampuan mengenali risiko sejak dini di tingkat keluarga dan fasilitas kesehatan primer, delay kedua berkaitan dengan kecepatan transportasi dan rujukan ke fasilitas yang lebih lengkap, serta delay ketiga terkait waktu pengobatan yang tepat.

"Hambatannya bisa berbeda-beda. Di Papua misalnya karena faktor geografis, sementara di kota besar bisa karena kemacetan. Bahkan banyaknya pilihan rumah sakit kadang justru menimbulkan kebingungan dalam menentukan tempat rujukan yang tepat," ungkapnya.

Dalam konteks ini, Phyowai menekankan bahwa perlu adanya strategi yang lebih terarah untuk mengatasi hambatan geografis di daerah terpencil. Di sisi lain, di kota besar, ia memandang masalah utama terletak pada kesulitan akses karena kepadatan lalu lintas. "Sistem rujukan yang baik juga harus disertai dengan peta jalan yang jelas untuk mengarahkan perawatan kritis ke tempat yang benar," tambahnya.

Peluang dan Tantangan dalam Mencapai Target SDGs

Phyowai menyatakan bahwa penyebab utama kematian ibu di Indonesia masih didominasi oleh perdarahan, hipertensi dalam kehamilan, dan infeksi. Namun, ia juga mengingatkan bahwa muncul tren baru dalam penyebab kematian, seperti penyakit penyerta yang sebelumnya tidak terdeteksi, termasuk jantung bawaan yang terungkap saat kehamilan. "Ini menunjukkan bahwa kita harus mengantisipasi berbagai kondisi yang mungkin terlewat dalam pemeriksaan rutin," jelasnya.

Untuk menghadapi tantangan ini, Phyowai menyarankan pendekatan pre-conception care atau pelayanan kesehatan sebelum kehamilan. "Idealnya, seorang perempuan memeriksakan kondisi kesehatannya terlebih dahulu sebelum merencanakan kehamilan agar berbagai faktor risiko dapat dideteksi dan ditangani sejak awal," pungkasnya.

"Kemampuan deteksi dini juga menjadi faktor yang sangat penting," katanya.

Dalam konteks penurunan AKI, Phyowai menekankan bahwa pengendalian angka kelahiran dan perencanaan kehamilan harus menjadi bagian utama dari strategi nasional. Penggunaan kontrasepsi, menurutnya, sangat berperan dalam mengurangi risiko kehamilan yang tidak direncanakan. "Dengan pengaturan kelahiran yang lebih terencana, kita bisa mengurangi tekanan pada sistem kesehatan dan meningkatkan kesiapan untuk mencegah komplikasi," ujarnya.

Phyowai juga menyoroti pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang tanda-tanda kegawatdaruratan maternal. Ia mencontohkan bahwa di daerah tertentu, keterlambatan pengenalan gejala bisa menyebabkan kematian yang bisa dihindari. "Kita harus memastikan bahwa keluarga dan masyarakat dapat mengambil tindakan tepat saat ada tanda-tanda bahaya," jelasnya. Selain itu, ia meminta peningkatan keberlanjutan dalam sistem kesehatan, termasuk pengadaan peralatan medis yang lebih canggih dan pelatihan tenaga kesehatan.

Langkah Strategis Menuju AKI yang Lebih Rendah

Menurut Phyowai, capaian 144 per 100.000 kelahiran hidup menjadi titik awal untuk memperbaiki kebijakan kesehatan ibu. Ia menyarankan bahwa pemerintah harus fokus pada distribusi tenaga kesehatan yang lebih merata, termasuk peningkatan jumlah dokter spesialis kandungan di daerah-daerah yang kurang terlayani. "Ketersediaan tenaga medis yang cukup akan meningkatkan respons cepat terhadap kegawatdaruratan maternal," katanya.