FitInfoSehat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Key Strategy: 3 Alasan Calon Mahasiswa tidak Daftar Ulang di Perguruan Tinggi

Published Juli 2, 2026 · Updated Juli 2, 2026 · By Lisa Miller

UNIVERSITAS Syiah Kuala (USK) Aceh menyediakan kuota sebanyak 10.240 orang untuk penerimaan mahasiswa baru tahun ajaran 2024/2025. Hal itu disampaikan Rektor USK Prof. Dr. Ir. Marwan saat membuka kegiatan sosialisasi Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) Tahun 2024 kepada seluruh Sekolah SMA/SMK/MAN dan sederajat seluruh Aceh di Gedung AAC Dayan Dawood, Kampus Darussalam, Banda Aceh, Rabu (31/1)). “InsyaAllah, USK pada tahun ini akan menerima kuota sebanyak 10.240 orang. Untuk itu, mari kita dukung anak-anak kita agar bisa menempuh pendidikan tinggi di kampus ini" kata Rektor. Dikatakannya, jumlah kuota tersebut terbagi pada tiga jalur seleksi nasional penerimaan mahasiswa baru. Masing-mading adalah 30 persen untuk jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), 35 persen alur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) dan 35 persen lagi jalur seleksi Mandiri. Menurut Marwan, kegiatan sosialisasi ini sangatlah penting. Tujuannya, agar masyarakat mendapat informasi akurat terhadap proses seleksi penerimaan mahasiswa baru tersebut. Mengingat selama ini masih ada masyarakat yang mendapatkan informasi yang tidak benar terhadap seleksi penerimaan mahasiswa baru ini. Selain itu, ada beberapa kebijakan baru yang perlu diketahui. Antaralain yaitu jumlah pilihan prodi. Serta bagi peserta yang sudah dinyatakan lulus SNBP maka ia tidak bisa lagi mengikuti dua jalur seleksi lainnya yaitu SNBP dan Mandiri. “Jadi ini kesempatan yang baik bagi kita untuk mendapatkan informasi yang tepat" tutur Marwan. Kegiatan sosialisasi yang berlangsung secara luring dan daring, pesertanya terdiri dari Kepala Sekolah, Operator dan siswa. Adapun jumlah peserta yang hadir secara luring sebanyak 300-an orang dan daring sebanyak 500 peserta. Adapun Wakil Rektor USK Bidang Akademik USK Prof. Dr. Ir. Agussabti, M.Si mengingatkan pihak sekolah ataupun orang tua untuk membimbing anaknya agar memilih program studi yang betul-betul diminatinya. Lalu dapat menakar kemampuannya saat memilih prodi tersebut. Hal ini penting agar mereka tidak merasa salah jurusan ketika nanti kuliah di perguruan tinggi. “Sebab merekalah yang nantinya akan menjalani kegiatan kuliah ini. Jadi mohon, jangan karena ego kita sebagai orang tua, lantas memaksakan anak kita kuliah di prodi yang tidak mereka minati" tambah Agussabti. (MR/AMIRUDDIN ABDULLAH REUBEE) TEKS PHOTO: Rektor USK, Prof. Dr. Ir. Marwan (Tengah) memberi sambutan pada acara sosialisasi SNPMB Tahun 2024 kepada seluruh Sekolah SMA/SMK/MA sederajat seluruh Aceh di Gedung AAC Dayan Dawood. MI/AMIRUDDIN ABDULLAH REUBEE TEKS PHOTO: Para siswa SMA/SMK/MA sederajat mengikuti acara sosialisasi SNPMB Tahun 2024 yang diselenggarakan oleh USK di Gedung AAC Dayan Dawood. MI/AMIRUDDIN ABDULLAH REUBEE TEKS PHOTO: Siswa SMA/SMK/MA sederajat melakukan diskusi pada saat mengikuti acara sosialisasi SNPMB Tahun 2024 yang diselenggarakan oleh USK di Gedung AAC Dayan Dawood. MI/AMIRUDDIN ABDULLAH REUBEE TEKS PHOTO: Wakil Rektor Bidang Akademik USK, Prof. Dr. Ir. Agussabti, M.Si (Tengah), menyampaikan meteri pada acara sosialisasi SNPMB Tahun 2024 kepada seluruh Sekolah SMA/SMK/MA sederajat seluruh Aceh di Gedung AAC Dayan Dawood. MI/AMIRUDDIN ABDULLAH REUBEE TEKS PHOTO: Foto bersama usai acara sosialisasi SNPMB Tahun 2024 kepada seluruh Sekolah SMA/SMK/MA sederajat seluruh Aceh di Gedung AAC Dayan Dawood. MI/AMIRUDDIN ABDULLAH REUBEE

3 Alasan Calon Mahasiswa Tidak Daftar Ulang di Perguruan Tinggi

Kemahasiswaan Tengah Mengungkap Faktor Utama yang Mengurangi Tingkat Pendaftaran

Key Strategy - Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Dikti, Beny Bandanadjaja, membahas kecenderungan calon mahasiswa yang tidak memastikan keikutsertaan mereka di perguruan tinggi meskipun telah dinyatakan lulus seleksi. Menurut Beny, ada tiga alasan utama yang sering dijumpai di lapangan, yang memengaruhi keputusan mereka untuk menunda atau membatalkan daftar ulang. Fenomena ini terjadi di berbagai jalur seleksi, baik untuk program reguler maupun jalur khusus. Ia menjelaskan bahwa masing-masing calon mahasiswa diberi kebebasan memilih satu atau beberapa program studi dalam proses penerimaan.

Banyak dari mereka mengharapkan diterima di pilihan pertama, sehingga bila tidak memenuhi ekspektasi, mereka cenderung ragu untuk melanjutkan. Pihak penyelenggara seleksi berharap calon mahasiswa tetap mengonfirmasi keikutsertaan mereka, terlepas dari pilihan mana yang diambil. Hal ini dilakukan untuk menghindari kekosongan kursi yang bisa berdampak pada kesempatan lain calon mahasiswa. Namun, kebiasaan ini terkadang menyebabkan beberapa orang menunda keputusan mereka hingga pilihan berikutnya.

Program Studi Jadi Faktor Utama dalam Pemilihan

Dalam proses pendaftaran, calon mahasiswa biasanya diberikan kemungkinan untuk memilih antara tiga hingga lima prodi yang sesuai dengan kualifikasi mereka. Hal ini memberikan ruang bagi mereka untuk mengoptimalkan pilihan berdasarkan minat dan kondisi pribadi. Namun, banyak yang memprioritaskan prodi pertama karena dianggap lebih menguntungkan, baik secara akademik maupun karier.

“Jadi, pada saat diterima bukan di pilihan utama, kadang-kadang mempertimbangkan untuk lanjut atau menunda di tahun depan. Sehingga di situlah ada kemungkinan bisa jadi karena tidak sesuai minat, tapi kebetulan masuk ke dalam pilihannya. Bisa jadi dia juga kemudian mendaftar pada jalur lain,”

Beny menyebutkan, keputusan ini sering kali berdasarkan pencocokan antara minat pribadi dan ketertarikan terhadap prodi yang dipilih. Misalnya, calon mahasiswa yang tertarik pada bidang teknologi mungkin lebih memilih prodi pertama yang terkait dengan bidang tersebut, meskipun ada prodi lain yang lebih mudah diakses. Selain itu, faktor seperti lokasi kampus, jadwal kuliah, atau kesempatan magang juga bisa memengaruhi keputusan akhir.

Beny menambahkan, prodi pertama tidak selalu menjadi yang terbaik. Dalam beberapa kasus, calon mahasiswa memilih jalur yang lebih fleksibel atau memiliki fasilitas pendidikan yang lebih baik. Sehingga, meskipun tidak lulus di prodi pertama, mereka tetap memutuskan untuk memperpanjang proses seleksi. Faktor ini menunjukkan bahwa keputusan daftar ulang tidak hanya dipengaruhi oleh keinginan tetapi juga oleh informasi yang diperoleh selama proses penerimaan.

Keberadaan Perguruan Tinggi Lain Memicu Pergeseran Pilihan

Alasan kedua yang ditemukan adalah keberadaan perguruan tinggi lain yang menawarkan program yang lebih menarik, terutama perguruan tinggi kedinasan. Menurut Beny, sejumlah besar calon mahasiswa tertarik pada institusi ini karena menjamin pekerjaan setelah lulus. “Artinya diterima untuk menjadi pegawai di kementerian tersebut. Sehingga demikian, ketika mereka lulus di dua tempat, ada juga yang memilih seperti itu,”

Beny menjelaskan, perguruan tinggi kedinasan biasanya memiliki reputasi yang lebih baik dan proyeksi karier yang jelas. Contohnya, lembaga seperti Politeknik Kesehatan atau Akademi Militer sering kali menarik calon mahasiswa yang ingin memperoleh posisi tetap setelah menyelesaikan studi. Hal ini berdampak pada jumlah calon mahasiswa yang memilih untuk daftar ulang di jalur non-kedinasan, meskipun mereka sudah lulus.

Adapun perguruan tinggi swasta atau umum, keunggulan mereka mungkin kurang terlihat dalam hal jaminan kerja. Namun, prodi di sini sering kali memiliki lingkungan belajar yang dinamis dan program yang lebih fleksibel. Sehingga, keputusan untuk tidak daftar ulang di perguruan tinggi pertama bisa terjadi karena keberadaan pilihan lain yang lebih sesuai dengan tujuan karier mereka.

KIP Kuliah Menjadi Penentu Finansial dalam Keputusan Daftar Ulang

Alasan ketiga terkait dengan aspek pembiayaan, khususnya program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Beny menyebutkan, ada kasus di mana calon mahasiswa yang diterima di perguruan tinggi ternyata tidak lolos verifikasi atau tidak memenuhi kriteria penerima bantuan tersebut. “Kondisi ini membuat calon mahasiswa kesulitan secara finansial sehingga memutuskan untuk tidak melanjutkan proses daftar ulang,”

KIP Kuliah dirancang untuk membantu calon mahasiswa dari latar belakang ekonomi kurang mampu menyelesaikan studi. Namun, program ini memerlukan persyaratan yang ketat, seperti hasil seleksi tertentu dan kondisi ekonomi keluarga. Jika calon mahasiswa tidak memenuhi syarat, mereka mungkin tidak mampu membiayai pendidikan secara mandiri, sehingga menunda daftar ulang atau memilih perguruan tinggi lain yang menawarkan bantuan keuangan lebih banyak.

Di sisi lain, kebij