FitInfoSehat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Key Issue: Penyebab Ibu Hamil Sering Buang Air Kecil dan Risiko Infeksi Saluran Kemih

Published Juni 30, 2026 · Updated Juni 30, 2026 · By Michael Williams

Penyebab Ibu Hamil Sering Buang Air Kecil dan Risiko Infeksi Saluran Kemih

Key Issue - Ibu hamil sering mengalami keinginan berkemih yang lebih intens, bahkan kadang kesulitan menahannya. Fenomena ini menjadi perhatian para ahli kesehatan, khususnya bidang urologi. Prof. Harrina Erlianti Rahardjo, dokter spesialis urologi subspesialis perempuan, fungsional, dan neurologi, menjelaskan bahwa kondisi ini dipicu oleh perubahan fisik dan hormonal yang terjadi selama kehamilan. Menurut Prof. Rina, selama proses kehamilan, janin yang tumbuh dalam kandungan menciptakan tekanan pada kandung kemih, sehingga mengurangi ruang penyimpanan urine dan memicu frekuensi berkemih yang lebih tinggi.

Dokter tersebut menjelaskan bahwa rahim yang berada di belakang kandung kemih memberikan tekanan tambahan, yang berdampak pada peningkatan sensitivitas organ tersebut. "Ada bayi di dalam rahim, ini membuat salah satu tekanan perut lebih membesar. Tekanan di kandung kemih bisa menyebabkan mengompol," ujar Prof. Rina dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (29/6/2026). Perubahan hormonal juga turut berkontribusi pada kondisi ini. Kehamilan mengakibatkan perubahan keseimbangan hormon, yang bisa memengaruhi fungsi kandung kemih dan meningkatkan risiko infeksi saluran kemih (ISK).

ISK menjadi masalah yang sering dialami ibu hamil. Prof. Harrina menekankan bahwa penyebab utama ISK pada kehamilan berkaitan dengan tekanan fisik dari janin serta perubahan hormon. "Sering terjadi pada perempuan hamil adalah infeksi saluran kemih karena perubahan hormon dan lain-lain," tambah Prof. Harrina, lulusan kedokteran umum Universitas Indonesia. ISK bisa terjadi karena saluran kemih yang lebih rentan terhadap infeksi akibat tekanan yang berkelanjutan. Selain itu, kondisi hormonal juga membuat sistem imun ibu hamil lebih rentan, sehingga infeksi mudah menyebar.

Keluhan seperti kesulitan menahan keinginan berkemih atau mengompol yang terjadi secara terus-menerus menjadi tanda bahwa ISK sedang berkembang. Prof. Harrina mengimbau para ibu hamil untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala ini. "Pemeriksaan dini sangat penting untuk mencegah komplikasi lebih lanjut," ujar dokter tersebut. Jika tidak diatasi, ISK bisa menyebabkan peradangan yang memperparah kondisi, bahkan memengaruhi janin.

Beberapa ibu hamil cenderung menganggap masalah berkemih sebagai hal yang wajar. Mereka mungkin mengabaikan tanda-tanda seperti nyeri saat berkemih atau frekuensi yang terlalu sering. Namun, gejala ini bisa menjadi indikasi adanya gangguan yang memerlukan intervensi medis. "Gejala seperti anyang-anyangan atau kebutuhan untuk berkemih setiap 30 hingga 60 menit perlu diwaspadai," kata Prof. Harrina. Ia menambahkan bahwa banyak wanita menganggap kondisi ini sebagai bagian dari proses penuaan atau efek alami dari kehamilan.

Gejala Gangguan Berkemih yang Perlu Diwaspadai

Menurut Prof. Harrina, gejala ISK pada ibu hamil meliputi rasa nyeri atau pembengkakan saat berkemih, serta rasa mual atau sakit di area panggul. Jika gejala ini muncul secara berulang, maka bisa menandakan adanya infeksi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. Ia juga menyebutkan bahwa gangguan berkemih bisa terjadi karena penurunan kemampuan otot dasar panggul, yang sering terjadi akibat tekanan janin selama kehamilan. "Masalah ini bisa menetap selama atau bahkan setelah melahirkan," jelas Prof. Rina.

Chief Medical Officer Siloam International Hospitals, dr. Grace Frelita, MM, menyoroti bahwa banyak ibu hamil memperlakukan ISK sebagai hal yang normal. "Keterlambatan diagnosis sering terjadi karena pasien menganggap kondisi ini sebagai bagian dari proses alami," tambah dr. Grace. Ia menekankan bahwa diagnosa akurat sangat diperlukan untuk memilih terapi yang tepat. "Kami melihat masih banyak masyarakat yang hidup dengan gangguan kandung kemih dan dasar panggul tanpa mendapatkan penanganan medis," ujarnya.

ISK bukan hanya mengganggu kenyamanan ibu hamil, tetapi juga bisa berdampak negatif pada janin. Jika infeksi menyebar ke ginjal, kondisi ini bisa memicu persalinan prematur atau kelahiran bayi dengan berat badan rendah. "Tidak semua ISK berdampak serius, tetapi beberapa kasus memerlukan perhatian khusus," kata dr. Grace. Ia menyarankan ibu hamil untuk rutin memantau gejala dan segera mengambil langkah medis jika diperlukan.

Menurut Prof. Harrina, pencegahan ISK pada ibu hamil bisa dilakukan dengan mengubah kebiasaan sehari-hari. "Beberapa ibu hamil bisa mengurangi risiko ISK dengan sering menggerakkan kaki, menjaga kebersihan area genital, dan minum air putih secara cukup," ujarnya. Pernyataan ini didukung oleh dr. Grace, yang menambahkan bahwa penguatan otot dasar panggul juga bisa menjadi strategi pencegahan. "Kontrol rutin ke dokter sangat membantu mengidentifikasi masalah lebih awal," kata dokter tersebut.

Gejala yang sering terlewat oleh ibu hamil antara lain rasa sakit saat berkemih, frekuensi tinggi, atau rasa lelah yang tak biasa. "Banyak pasien mengabaikan gejala ini karena merasa hal itu bagian dari kehamilan," ungkap dr. Grace. Ia menekankan bahwa ISK bisa diobati dengan antibiotik, tetapi pengobatan harus tepat waktu agar tidak menyebar ke bagian saluran kemih yang lebih tinggi. "Penanganan dini akan mencegah komplikasi yang lebih serius," jelasnya.

Dokter spesialis urologi tersebut juga menyoroti pentingnya edukasi terkait ISK. "Banyak ibu hamil tidak tahu bahwa kondisi ini bisa berdampak fatal jika tidak diatasi," ujarnya. Dengan meningkatkan kesadaran akan gejala dan tindakan yang perlu diambil, risiko ISK bisa dikurangi. Prof. Harrina berharap informasi ini membantu ibu hamil untuk lebih waspada terhadap perubahan fisik dan hormonal yang terjadi selama kehamilan.

Menurut data dari organisasi kesehatan, sekitar 30-50% ibu hamil mengalami ISK setidaknya sekali dalam kehamilan. Angka ini meningkat jika ibu hamil mengalami komplikasi seperti diabetes atau tekanan darah tinggi. "ISK sering terjadi karena perubahan hormon dan tekanan fisik, tapi juga bisa dipengaruhi oleh faktor lain," tambah Prof. Rina. Ia menyarankan ibu hamil untuk menjaga kebersihan diri, menghindari minum terlalu banyak sebelum tidur, dan selalu menggerakkan otot dasar panggul untuk mencegah stagnasi urine.

Dengan pengetahuan yang lebih baik tentang penyebab dan risiko ISK, ibu hamil dapat mengambil langkah preventif dan memastikan kesehatan diri serta janin