FitInfoSehat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Key Discussion: UPH Design Week 2026: Menjawab Tantangan AI Lewat True Design True Impact

Published Juni 24, 2026 · Updated Juni 24, 2026 · By Lisa Miller

UPH Design Week 2026: Tantangan AI Dijawab dengan Desain yang Bermakna

Kehadiran AI dalam Dunia Desain

Key Discussion - Dalam era transformasi teknologi yang semakin cepat, kecerdasan buatan (AI) mengubah cara kita memahami kreativitas dan inovasi. Perkembangan ini memaksa dunia desain untuk beradaptasi, sebab desainer kini tidak hanya berfokus pada seni visual, tetapi juga pada kemampuan menciptakan solusi yang relevan dan berdampak luas bagi masyarakat. Dalam konteks ini, Fakultas Desain Universitas Pelita Harapan (FD UPH) menggelar UPH Design Week 2026 sebagai wadah untuk menjawab tantangan tersebut.

Acara yang berlangsung di Pelita Gallery, Kampus UPH Lippo Village, Tangerang, ini memiliki tema “True Design–True Impact.” Konsep ini menggarisbawahi peran desain sebagai alat yang menghubungkan antara pemahaman manusia, budaya, dan teknologi inovatif. Dengan berbagai aktivitas, UPH Design Week 2026 bertujuan memperlihatkan bahwa desain bisa menjadi kekuatan yang mendorong perubahan positif dalam kehidupan sehari-hari.

Tema dan Aktivitas UPH Design Week 2026

Program ini bertujuan memperlihatkan bahwa desain tidak hanya sekadar seni, tetapi juga bisa menjadi jembatan antara gagasan dan manfaat nyata. Rektor UPH, Dr. (Hon.) Jonathan L. Parapak, M.Eng.Sc, dalam sambutannya menegaskan bahwa kehadiran AI justru bisa menjadi peluang untuk memperkaya proses kreatif, bukan ancaman. “AI tidak menggantikan kreativitas manusia, melainkan mempercepat dan meluaskan cakupannya. Teknologi ini bisa membantu desainer menghasilkan karya yang lebih baik, lebih cepat, tetapi tetap mengandung nilai budaya dan sosial,” jelas Jonathan Parapak.

“Saya percaya teknologi dapat memperkaya proses desain menjadi lebih baik dan lebih cepat, tanpa kehilangan nilai orisinalitas serta refleksi terhadap nilai-nilai masyarakat dan budaya,” ujar Jonathan Parapak dalam sambutannya.

Mengingat pentingnya kolaborasi, tema True Design–True Impact juga menekankan sinergi antarbidang. FD UPH mempertemukan berbagai program studi, seperti Arsitektur, Desain Komunikasi Visual (DKV), Desain Interior, hingga Desain Produk, dalam satu ruang yang dinamis. Ketua Panitia UPH Design Week 2026, Dr. Julia Dewi, S.T., M.T., menekankan bahwa desain yang bermakna memerlukan keterlibatan lintas disiplin. “Desain yang berdampak signifikan memerlukan kerja sama antarprogram studi. Kolaborasi ini penting untuk mengubah ide menjadi solusi yang bisa memberi manfaat nyata,” jelas Julia Dewi.

Acara ini tidak hanya sebagai ajang pameran dan diskusi, tetapi juga mencakup berbagai inisiatif praktis. Salah satu kegiatan utama adalah Pop-Up Store, yang memperlihatkan inovasi bisnis kreatif mahasiswa. Selain itu, Design Experience Tour ditujukan bagi calon mahasiswa untuk mengenal lingkungan akademik dan kreatif di UPH. Kombinasi antara pameran, presentasi, dan pengalaman langsung ini memastikan peserta bisa merasakan eksplorasi desain dari berbagai perspektif.

Desain sebagai Bentuk Kemanusiaan

Menurut Dekan FD UPH, Dr. Ir. Susinety Prakoso, MAUD, MLA., karya desain harus mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan. “Desain tidak boleh hanya berorientasi pada keindahan visual atau materi. Karya-karya yang dihasilkan harus menggambarkan kepedulian terhadap kehidupan masyarakat,” tegas Susinety Prakoso. Ia menegaskan bahwa mahasiswa perlu mengubah potensi kreatif mereka menjadi solusi yang bisa memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

“Talenta yang dimiliki mahasiswa harus diwujudkan dalam karya yang bermakna,” jelas Susinety Prakoso.

UPH Design Week 2026 juga menjadi platform untuk mengeksplorasi bagaimana desain bisa beradaptasi dengan teknologi modern. Dengan mengusung konsep True Design, acara ini menantang desainer untuk menciptakan karya yang tidak hanya inovatif, tetapi juga memberikan dampak jangka panjang. Karya-karya yang dipamerkan mencakup berbagai bidang, dari desain produk hingga ruang publik, yang menunjukkan kemampuan mahasiswa mengintegrasikan teknologi dan nilai manusiawi.

Rektor UPH, Jonathan Parapak, menambahkan bahwa keberadaan AI tidak membatasi ruang kreativitas manusia, melainkan memperkaya prosesnya. Dengan alat teknologi ini, desainer bisa menghasilkan karya yang lebih efisien, tetapi tetap memiliki makna. “AI bisa menjadi penggerak dalam menghasilkan desain yang lebih baik, asalkan kita tetap memegang teguh nilai-nilai budaya dan sosial,” kata Jonathan Parapak. Ia juga menyoroti bahwa desain harus menjadi bagian dari transformasi masyarakat.

Komitmen UPH pada Pendidikan Desain yang Berdampak

Menurut Susinety Prakoso, penggunaan teknologi tidak boleh mengabaikan tujuan sosial desain. “Desainer harus bisa memadukan inovasi teknologi dengan pemahaman tentang kebutuhan manusia dan budaya,” tambahnya. Dengan memperkenalkan konsep True Design, UPH berupaya mencetak lulusan yang tidak hanya mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga berkomitmen pada keberlanjutan dan keindahan.

Acara UPH Design Week 2026 menampilkan karya-karya yang memadukan seni dengan fungsionalitas. Hal ini menggambarkan visi UPH untuk menghasilkan desainer yang adaptif terhadap perubahan, tetapi tetap berakar pada nilai-nilai kemanusiaan. Dengan berbagai program yang diusung, UPH menunjukkan bahwa desain bisa menjadi alat untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat.

Julia Dewi menambahkan bahwa desain yang berkualitas memerlukan keterlibatan lintas bidang. “Kolaborasi antarprogram studi menjadi kunci untuk menghasilkan karya yang lebih lengkap dan berdampak luas,” jelasnya. Dengan menggabungkan berbagai disiplin