Key Discussion: Duta Baca Indonesia Gol A Gong: Bangun Peradaban harus Memadukan antara Wah dan Woh
Key Discussion: Gol A Gong dan Filosofi Wah-Woh dalam Peradaban
Key Discussion - Membangun peradaban yang berkelanjutan memerlukan keseimbangan antara dua konsep yang sering kali dianggap berseberangan. Gol A Gong, seorang tokoh budaya dari Banten, menyampaikan gagasan ini dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan di Rumah Sastra Poiek Ardijanto pada malam hari, Rabu, 8 Juli 2026. Ia menekankan pentingnya memadukan unsur "wah" dan "woh" agar pembangunan tidak hanya bersifat permukaan namun juga menghasilkan buah yang nyata bagi masyarakat. Key Discussion ini menjadi momen penting bagi para hadirin untuk memahami bagaimana keseimbangan tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Konsep "wah" dalam konteks ini merujuk pada kata seru yang mengekspresikan kekaguman terhadap sesuatu yang dianggap luar biasa, namun sering kali mengandung nuansa kesombongan atau pamer. Sementara itu, "woh" berasal dari kata buah yang melambangkan hasil atau manfaat. Menurut pandangan Gol A Gong, setiap tindakan dan kebijakan seharusnya tidak hanya menciptakan kesan gemilang, tetapi juga memberikan kontribusi positif bagi kesejahteraan bersama. Key Discussion ini mengajak semua pihak untuk tidak hanya mengejar popularitas, tetapi juga memastikan bahwa setiap langkah yang diambil memberikan dampak nyata.
Menyatukan Unsur Lokal dan Global
Dalam kesempatan tersebut, Gol A Gong mengajak para peserta untuk melihat dikotomi wah dan woh melalui lensa khazanah literasi tanah kelahirannya. Ia mengutip salah satu bait dari Babad Banten yang berbunyi "baluwarti bata kawan-kawis". Para budayawan yang hadir menafsirkan makna mendalam dari peribahasa tersebut. Bata atau batu bata diartikan sebagai simbol unsur lokal yang kuat, sedangkan karang di laut mewakili pengaruh dari luar. Gol A Gong menegaskan bahwa peradaban yang kokoh lahir dari kombinasi harmonis antara kedua elemen ini.
"Membangun peradaban itu memang harus mengombinasikan keduanya," ujar Gol A Gong dengan tegas.
Contoh nyata dari perpaduan ini dapat dilihat pada sosok dalang Ki Surono yang bertindak sebagai moderator dalam diskusi tersebut. Meskipun mampu menyelipkan kemampuan berbahasa Inggris yang terkesan modern dan mengesankan, Ki Surono tetap kukuh berpijak pada akar kelokalan yang utuh. Gol A Gong melihat hal ini sebagai implementasi pesan Nabi Muhammad SAW yang mengajarkan agar mendidik generasi muda sesuai dengan tuntutan zamannya. Key Discussion ini juga menyoroti bagaimana tokoh-tokoh lokal dapat menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas.
Evolusi dan Adaptasi dalam Peradaban
Gol A Gong juga mengajak audiens untuk merefleksikan perjalanan evolusi peradaban manusia. Dimulai dari manusia purba yang melukis di dinding gua, penemuan kertas oleh Cai Lun di Tiongkok yang awalnya ditolak oleh kaum konservatif, hingga kelahiran mesin cetak Gutenberg. Perkembangan berlanjut melalui era mesin ketik, komputer, dan kini smartphone yang mendominasi era kecerdasan buatan atau AI. Key Discussion ini menekankan bahwa adaptasi adalah kunci untuk bertahan dalam perubahan zaman yang semakin cepat.
"Mereka yang mendambakan masa lalu dan menolak perubahan akan tersingkir. Urusan wah dan woh di Tegal pun begitu, kita harus mulai beradaptasi. Keduanya, seperti yang dikatakan Pak Wakil Wali Kota, harus jalan berdampingan," paparnya.
Di ranah birokrasi, tantangan pengembangan literasi nasional sering kali terhambat oleh ego sektoral. Di Indonesia, urusan ini terbelah antara Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui Badan Bahasa serta Perpustakaan Nasional atau Perpusnas. Berangkat dari pengalaman memimpin Forum Taman Bacaan Masyarakat selama periode 2010 hingga 2015, Gol A Gong kini dipercaya Perpusnas untuk menjembatani kesenjangan tersebut. Key Discussion ini menjadi platform bagi para pemangku kepentingan untuk menemukan solusi bersama.
Saat ini, ia aktif berupaya menyatukan gerak antara Dinas Pendidikan dan Dinas Perpustakaan di berbagai daerah agar tidak terjadi lagi fragmentasi yang menghambat kemajuan literasi. Gol A Gong juga menyoroti peran Rumah Sastra Piek Ardijanto Soeprijadi sebagai aset penting yang diakui dalam upaya merawat literasi dan bahasa Indonesia. Key Discussion ini menunjukkan bahwa kolaborasi antar-institusi sangat diperlukan untuk mencapai tujuan bersama.
Diskusi yang berlangsung di bawah naungan pohon mangga di depan rumah Almarhum sastrawan legendaris Piek Harjanto ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting. Hadir pula Wakil Wali Kota Tegal, Tazkiyyatul Muthmainnah, mantan Wakil Wali Kota Maufur, budayawan Atmo Tan Sidik, serta dalang kondang Ki Anton Surono. Melalui ruang-ruang dialog seperti moci bareng, keselarasan antara kemajuan zaman dan buah kemanfaatan bagi masyarakat dapat terus dirumuskan demi kemajuan Kota Bahari. Key Discussion ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam membangun peradaban yang lebih baik.