Jangan Diabaikan – Ini Pemicu dan Gejala Awal Migrain Menurut Dokter RSUI
Jangan Diabaikan, Ini Pemicu dan Gejala Awal Migrain Menurut Dokter RSUI
Jangan Diabaikan - Migrain bukan sekadar nyeri kepala biasa, melainkan kondisi yang lebih kompleks. Serangan rasa sakit berdenyut di satu sisi kepala ini sering kali diiringi oleh berbagai faktor yang memicu dan tanda-tanda awal sebelum gejala memuncak. Dr. Ramdinal Aviesena Zairinal, Sp.N(K), yang juga merupakan dokter spesialis saraf subspesialis neurokritikal di Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), menjelaskan bahwa setiap penderita migrain memiliki penyebab yang berbeda. "Pemicu migrain bisa beragam, ada yang disebabkan oleh aktivitas fisik berlebihan atau kelelahan yang ekstrem," tutur Sena, sebagaimana dilaporkan Senin (22/6).
Faktor Pemicu yang Perlu Diperhatikan
Dalam wawancara tersebut, Sena mengungkapkan bahwa pemicu migrain tidak selalu sama untuk setiap orang. Selain kelelahan fisik, ada berbagai hal lain yang bisa memicu kambuhnya kondisi ini. Misalnya, kurangnya istirahat yang cukup atau kualitas tidur yang buruk. "Tidur yang tidak memadai bisa memengaruhi keseimbangan hormon dan memicu respons neurologis," lanjutnya. Faktor psikis seperti stres atau tekanan emosional juga sering kali menjadi penyebab. "Perubahan pola emosi bisa memicu pelepasan neurotransmiter yang berperan dalam migrain," ujar Sena.
“Perubahan hormonal, khususnya pada perempuan yang sedang atau mengalami masa menstruasi, juga sering dianggap sebagai penyebab migrain. Selain itu, makanan tertentu seperti cokelat atau bahan pengawet seperti MSG juga bisa menjadi pemicu. Namun, tidak semua orang memiliki sensitivitas yang sama terhadap makanan ini,” tambah Sena.
Kondisi ini menyebabkan perubahan perilaku tubuh, termasuk rasa sakit yang mengganggu aktivitas sehari-hari. "Pemicu migrain bisa berkisar dari faktor lingkungan hingga kebiasaan pribadi, jadi penting untuk diidentifikasi secara dini agar bisa dihindari," kata Sena. Misalnya, seseorang yang sering bekerja hingga larut malam mungkin lebih rentan karena kurangnya istirahat. Sementara itu, individu yang mengalami stres tinggi di lingkungan kerja bisa mengalami gejala lebih sering. "Faktor-faktor ini tidak selalu terlihat jelas, tetapi jika dianggap remeh, bisa memicu episode migrain yang lebih parah," jelasnya.
Gejala Awal yang Sering Diabaikan
Setelah terpapar pemicu, penderita migrain biasanya merasakan tanda-tanda awal beberapa jam sebelum nyeri kepala muncul. Tanda ini bisa berupa rasa tidak nyaman, kelelahan, atau perubahan mood. "Gejala ini sering kali diabaikan karena dianggap sebelah kiri atau sebelah kanan tubuh hanya sebagai tanda kelelahan biasa," kata Sena. Namun, ia menekankan bahwa perhatian terhadap gejala awal bisa menjadi kunci untuk mengurangi intensitas serangan.
“Ada pula gejala khas yang disebut 'aura', seperti melihat kilatan cahaya, distorsi visual, atau kesulitan bicara. Gejala ini muncul sekitar 60 menit sebelum nyeri kepala memburuk, tetapi tidak semua pasien menyadari adanya tanda ini. Jadi, perlu kesadaran untuk mengenali perubahan fisiologis atau kognitif yang bisa menjadi indikator awal migrain,” ujarnya.
Aura sendiri merupakan gejala spesifik yang bisa beragam. Contohnya, seseorang mungkin mengalami perasaan seperti "pemudaran" objek sekitar, atau bahkan kebingungan sementara. "Gejala ini berbeda dari nyeri kepala biasa, karena memunculkan perubahan persepsi atau fungsional tubuh," tambah Sena. Dalam beberapa kasus, aura bisa menjadi petunjuk awal untuk memulai pengobatan sebelum nyeri kepala meluas.
Proses Klinis dan Durasi Serangan
Secara klinis, migrain memiliki karakteristik yang jelas. Nyeri kepala berdenyut biasanya menyerang satu sisi, baik kiri maupun kanan, dengan intensitas sedang hingga berat. "Gejala ini bisa mengganggu fungsi sehari-hari, seperti pekerjaan atau aktivitas sosial," kata Sena. Berbeda dengan sakit kepala kronis, migrain memiliki durasi tertentu, yaitu berkisar antara 4 hingga 72 jam, atau maksimal tiga hari. "Ini berarti migrain tidak terus-menerus seperti sakit kepala biasa, melainkan memiliki siklus dan tingkat keparahan yang bervariasi," jelasnya.
“Pada pasien yang menderita migrain, serangan biasanya terjadi secara berulang, tetapi durasinya terbatas. Jika pasien tidak bisa mengenali tanda awal atau pemicu, serangan bisa berlangsung lebih lama dan lebih mengganggu,” pungkas Sena.
Kondisi ini juga bisa disertai oleh gejala tambahan seperti mual, muntah, atau kepekaan terhadap cahaya dan suara. "Kombinasi gejala ini memperlihatkan bagaimana migrain memengaruhi sistem saraf secara menyeluruh," terang Sena. Ia menyarankan bahwa pengenalan dini terhadap pemicu dan gejala awal dapat mencegah komplikasi lebih lanjut. "Dengan mengetahui pola tubuh, pasien bisa lebih aktif dalam mengelola kondisi ini," ujarnya.
Peran Kebiasaan Harian dalam Mengurangi Migrain
Migrain juga dipengaruhi oleh kebiasaan harian, seperti pola makan, kebiasaan minum, dan aktivitas fisik. "Makanan tinggi gula atau kafein bisa memicu peningkatan detak jantung dan tekanan darah, yang berisiko menimbulkan nyeri kepala," kata Sena. Selain itu, kurangnya dehidrasi atau kelebihan minum air bisa menjadi faktor penyebab. "Dalam kondisi dehidrasi, tubuh mengalami ketidakseimbangan elektrolit yang memengaruhi saraf," lanjutnya.
Sena menambahkan bahwa faktor lingkungan seperti perubahan suhu, paparan bahan kimia, atau bahkan bau tertentu juga bisa memicu migrain. "Beberapa pasien sensitif terhadap aroma seperti bensin atau minyak wangi, jadi penting untuk menghindari paparan berlebihan," ujarnya. Selain itu, ritme hidup yang tidak teratur, seperti tidur siang atau jadwal makan yang tidak tetap, juga meningkatkan risiko serangan. "Kesadaran akan pola hidup sehat bisa menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi frekuensi migrain," kata Sen