Facing Challenges: Waspada Stroke: Faktor Risiko, Pengaruh Genetik, dan Perubahan Gaya Hidup Modern
Waspada Stroke: Faktor Risiko, Pengaruh Genetik, dan Perubahan Gaya Hidup Modern
Facing Challenges - Stroke tetap menjadi tantangan kesehatan utama di era modern, mengancam berbagai kelompok usia dan latar belakang sosial. Sebagai gangguan vaskular yang memengaruhi aliran darah ke otak, penyakit ini berkembang karena kombinasi faktor risiko yang kompleks, mulai dari kondisi medis seperti hipertensi hingga pengaruh perubahan pola hidup masyarakat saat ini. Dokter spesialis saraf dari Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), dr. Ramdinal Aviesena Zairinal, Sp.N(K), yang akrab disapa Sena, menjelaskan bahwa permasalahan pada pembuluh darah adalah inti dari terjadinya stroke. Menurut Sena, kondisi ini seringkali dipicu oleh beberapa faktor yang saling berkaitan, termasuk faktor keturunan.
Faktor Risiko Utama Stroke
Sena menekankan bahwa riwayat keluarga memiliki dampak besar terhadap risiko seseorang mengalami stroke. Literatur kesehatan menunjukkan bahwa individu dengan anggota keluarga yang pernah menderita stroke memiliki probabilitas lebih tinggi untuk mengalaminya, mencapai hingga 20% dalam beberapa kasus. “Jika ada anggota keluarga yang memiliki riwayat serupa, risiko tersebut bisa meningkat secara signifikan,” jelas Sena, dikutip Minggu (21/6). Selain genetik, Sena juga menyebutkan bahwa kekentalan darah yang tidak seimbang serta kelainan struktur pembuluh darah dapat menjadi penyebab internal yang tidak boleh diabaikan.
“Ada darah tinggi, diabetes, sakit jantung, dan faktor-faktor yang tidak bisa dikontrol, misalnya faktor keturunan,” ujar Sena.
Kondisi seperti hipertensi dan diabetes sering kali menjadi pintu masuk bagi pembentukan plak pada pembuluh darah, yang bisa menyebabkan penyumbatan atau pendarahan. Sena menambahkan bahwa faktor keturunan tidak hanya berupa riwayat penyakit, tetapi juga bisa mencakup kecenderungan genetik terhadap risiko terjadinya gangguan kardiovaskular. Meski demikian, ia menegaskan bahwa perubahan gaya hidup modern justru menjadi pemicu utama yang semakin mengkhawatirkan.
Perubahan Gaya Hidup Modern sebagai Penyumbang Risiko
Dalam dua puluh tahun terakhir, angka penderita stroke meningkat dari 1 dari 6 penduduk menjadi 1 dari 4. Pergeseran ini bukan hanya hasil dari peningkatan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri, tetapi juga mencerminkan pola hidup yang semakin tidak sehat. Sena menyoroti bahwa kebiasaan makan yang berubah dari makanan alami menjadi makanan olahan tinggi menjadi salah satu penyebab utama. Makanan ultra-processed, yang kaya akan gula, garam, dan lemak trans, memperparah risiko obesitas dan penyakit metabolisme.
Kemajuan teknologi, yang seharusnya memberikan kenyamanan, justru menciptakan tuntutan baru dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang kini terjebak dalam rutinitas yang minim aktivitas fisik, seperti duduk terlalu lama di depan komputer atau smartphone. “Perubahan ini berdampak langsung pada kesehatan, karena kurangnya gerak tubuh membuat sistem sirkulasi darah menjadi tidak optimal,” tambah Sena. Selain itu, ia menyoroti bahwa stresor dari penggunaan media sosial juga menjadi faktor risiko yang sering terlewat.
“Bagaimana seseorang jarang olahraga, merokok, mengonsumsi makanan tidak sehat, itulah yang membuat berisiko. Dan juga stresor dari kemajuan sosial media saat ini tidak bisa kita pungkiri pengaruhnya terhadap kesehatan,” pungkasnya.
Perilaku masyarakat yang cenderung sedenter, disertai dengan stres berlebihan akibat tekanan sosial dan digital, memperkuat ketergantungan pada faktor internal. Sena mengingatkan bahwa pola makan dan aktivitas fisik perlu dikelola dengan baik, agar tidak menimbulkan kerusakan pada pembuluh darah. Ia menyebutkan bahwa genetik dan lingkungan memiliki hubungan yang saling memperkuat dalam menentukan risiko stroke.
Strategi untuk Menghadapi Ancaman Stroke
Untuk mengurangi risiko stroke, Sena merekomendasikan pendekatan proaktif yang mencakup pengaturan stres dan pola hidup sehat. “Deteksi dini sangat penting, terutama bagi orang-orang dengan riwayat keluarga yang rentan,” imbuhnya. Ia menekankan bahwa pemeriksaan rutin seperti tekanan darah, kadar gula, dan kolesterol perlu dilakukan sebelum gejala muncul. Selain itu, peningkatan kebiasaan sehat seperti olahraga teratur, konsumsi makanan segar, dan pengurangan penggunaan rokok serta alkohol juga dianjurkan.
Dalam konteks modern, Sena berharap masyarakat lebih sadar akan peran genetik dan faktor lingkungan dalam menggerakkan perilaku sehat. Ia menyatakan bahwa pola hidup yang terstruktur, seperti mengatur waktu istirahat dan membatasi paparan media sosial, bisa menjadi langkah preventif yang efektif. “Kita perlu mengakui bahwa perubahan gaya hidup tidak hanya memengaruhi kesehatan fisik, tetapi juga psikologis,” ujarnya.
Menurut Sena, angka peningkatan penderita stroke juga mencerminkan tingkat peningkatan kesadaran masyarakat. Namun, ia menambahkan bahwa tindakan pencegahan tetap harus dilakukan secara konsisten, karena faktor-faktor yang muncul dalam kehidupan sehari-hari justru semakin beragam. “Pola makan dan aktivitas fisik harus diawasi, karena keduanya memengaruhi kesehatan jangka panjang,” katanya. Ia juga menekankan bahwa pendidikan kesehatan dan akses ke layanan medis menjadi penentu utama dalam mencegah penyebaran stroke.
Dengan memahami hubungan antara genetik dan gaya hidup, masyarakat dapat mengambil langkah pencegahan yang lebih terarah. Sena mengingatkan bahwa faktor-faktor yang terlihat sepele, seperti kebiasaan makan atau jumlah jam tidur, bisa menyumbang risiko besar. “Kita harus menyadari bahwa stroke bukan hanya penyakit yang terjadi tiba-tiba, tetapi juga hasil dari kebiasaan yang terus-menerus tidak sehat,” pungkasnya. Dengan begitu, Sena berharap ada penurunan insidensi stroke di masa depan.
Kebiasaan hidup modern, yang dipengaruhi oleh teknologi dan perubahan sosial, memberikan tekanan pada sistem kardiovaskular. Sena menyarankan bahwa kesadaran akan ketergantungan pada faktor lingkungan dan genetik harus diimbangi dengan tindakan nyata, seperti membangun kebiasaan sehat secara berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa kombinasi antara pemeriksaan medis dan perubahan gaya hidup adalah kunci utama dalam meminimalisir risiko stroke.
Dengan meningkatnya temuan kasus, masyarakat diimb