Special Plan: Desainer cerita di balik kostum drama “Perfect Crown”

a5c03a50 274a 468b 990d 29ac6c892e92

Desainer cerita di balik kostum drama “Perfect Crown”

Special Plan – Jakarta – Drama Korea (drakor) “Perfect Crown” yang menggambarkan cerita yang berlatar di lingkungan kerajaan telah menarik minat penonton bukan hanya karena alur ceritanya, tetapi juga karena desain kostum yang khas. Di balik pakaian yang dikenakan oleh para pemain, terdapat karya seni yang dihasilkan oleh desainer Cho Sang-kyung, seorang yang sebelumnya terlibat dalam film “Oldboy” dan serial global “Squid Game”. Selama lebih dari dua dekade, Cho Sang-kyung telah membentuk identitas visual industri hiburan Korea, sebagaimana diwartakan Korea Times pada Jumat (1/5). Dalam “Perfect Crown”, ia berupaya memperkenalkan hanbok sebagai pakaian modern yang fleksibel, bukan sekadar benda bersejarah.

Modernisasi Hanbok: Antara Tradisi dan Inovasi

Cho Sang-kyung menjelaskan bahwa dalam membangun desain kostum untuk “Perfect Crown”, ia tidak sekadar mengadopsi elemen tradisional, tetapi juga melakukan eksperimen dengan material dan bentuk. Contohnya, dalam adegan tertentu, Ibu Suri memakai magoja (jaket luar) yang ditempatkan di atas rok, bukan menggunakan jeogori (blus) yang biasanya menjadi pakaian utama dalam kostum tradisional. “Kita mempertahankan garis lengkung lengan yang khas, tetapi menggabungkannya dengan bahan seperti renda dan payet,” katanya. Selain itu, ia juga mengubah desain kemeja I-an dengan variasi kerah untuk menampilkan kesan natural tanpa perlu menambahkan dasi.

“Mempertahankan garis lengkung lengan tradisional, tetapi bereksperimen dengan bahan seperti renda dan payet. Kemeja I-an juga dirancang dengan variasi kerah agar tetap terlihat natural tanpa dasi,” kata Cho Sang-kyung.

Simbol Kekuasaan dan Perlawanan dalam Desain

Salah satu adegan menarik dalam “Perfect Crown” adalah ketika Pangeran Agung I-an mengenakan cheollik, yang biasanya merupakan jubah militer, saat menghadiri jamuan makan dengan Raja. Cho Sang-kyung menjelaskan bahwa secara tradisional, cheollik sering digunakan sebagai lapisan dalam di balik jubah resmi. Dengan mengenakannya sendirian, Pangeran Agung menciptakan kesan bahwa ia tidak mengenakan pakaian “sebagaimana mestinya”. “Ini adalah pilihan yang disengaja, sedikit mengintimidasi, dan memberontak. Saya ingin langkah awal ini menunjukkan sejauh mana karakter ini berani melangkah,” tambahnya.

Penyeimbangan Warna: Kelembutan dan Kebanggaan Budaya

Dalam memilih warna kostum, Cho Sang-kyung menekankan pentingnya keseimbangan antara warna lembut dan warna tradisional. Ia menggunakan skema obangsaek (putih, hitam, merah, kuning, biru) serta oganseak (warna sekunder seperti violet, teal, oke, hijau, dan oranye gelap) untuk menciptakan nuansa yang sesuai dengan suasana cerita. Untuk karakter keluarga kerajaan, ia memilih warna merah tua dan hijau giok sebagai simbol kebanggaan budaya, tetapi dengan sentuhan baru yang lebih modern.

“Jika terlalu biru, terlihat kaku di layar, jika terlalu merah, mengalihkan perhatian. Nuansa ini membuat aktor benar-benar bersinar. Mungkin ada yang melihatnya sebagai ‘tiffany blue’, tetapi ini adalah warna yang sangat Korea,” tutur Cho Sang-kyung.

Preservasi Tradisi dalam Detail Kecil

Cho Sang-kyung menekankan bahwa ketika adegan membutuhkan hanbok tradisional, ia tetap memperhatikan detail kecil. Ini meliputi lengkung lengan, garis bawah, panjang dangui (busana kerajaan wanita), hingga lapisan warna yang harmonis. “Walau hanbok kini jarang dipakai bahkan di acara khusus, saya ingin menunjukkan bahwa memasukkan satu elemen tradisional ke dalam busana modern bisa sangat efektif,” ujarnya. Menurut desainer ini, hanbok modern sering kali terlalu lurus dan mengikuti bentuk tubuh, sehingga kurang menampilkan keeleganan yang menjadi ciri khas pakaian tradisional.

Produksi dan Konteks Drama “Perfect Crown”

Drama “Perfect Crown” diproduksi oleh stasiun televisi Korea Selatan MBC dan disutradarai oleh Park Joon-hwa, yang sebelumnya memimpin karya-karya seperti “Alchemy of Souls” (2022) dan “What’s Wrong with Secretary Kim” (2018). Karya ini telah tayang di platform streaming Disney+ dan menampilkan kisah cinta antara Pangeran I-AN (dibaca Yi-wan), yang diperankan oleh Byeon Woo-seok, dengan Song Hui-ju (IU), seorang yang berperan sebagai kekasihnya. Plot drama ini mengisahkan tentang perjuangan Pangeran I-AN dalam menghadapi perebutan kekuasaan di lingkungan istana sambil tetap menjaga hubungan romantis dengan Song Hui-ju.

Karakter dan Visual yang Menarik Perhatian

Terlepas dari kesan romantisnya, “Perfect Crown” juga menciptakan visual yang memperkuat narasi politik dan hubungan kekuasaan. Dalam satu adegan, Ibu Suri Yoon Yi-rang yang diperankan oleh Gong Seung-yeon menunjukkan penyesuaian pada kostum hanbok, memadukan elemen tradisional dengan gaya yang lebih praktis. Hal ini merefleksikan kehidupan sehari-hari dalam kerajaan yang tidak hanya mengutamakan kesopanan, tetapi juga kemudahan.

Tim Pemeran dan Peran Mereka

Drama ini tidak hanya menampilkan Byeon Woo-seok dan IU, tetapi juga menghadirkan para pemain lain seperti Noh Sang-hyun sebagai Perdana Menteri Min Jeong-woo, serta Gong Seung-yeon sebagai Ibu Suri Yoon Yi-rang. Kombinasi antara tokoh-tokoh tersebut membantu memperkaya pengalaman menonton, sekaligus menegaskan bagaimana desain kostum berkontribusi pada pengembangan karakter. “Kostum menjadi bagian dari komunikasi visual yang membantu penonton memahami keberadaan tokoh secara lebih dalam,” kata Cho Sang-kyung.

Dalam proses pembuatan “Perfect Crown”, Cho Sang-kyung berusaha menjaga konsistensi antara estetika tradisional dan kebutuhan visual yang dinamis. Ia percaya bahwa penggunaan hanbok tidak harus terbatas pada acara resmi, tetapi bisa menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dalam lingkungan kerajaan. Hal ini juga memperlihatkan keberanian dalam menantang norma dan menawarkan perspektif baru tentang sejarah budaya Korea.

Secara keseluruhan, “Perfect Crown” menunjukkan bagaimana desain kostum bisa menjadi alat yang kuat dalam menceritakan narasi. Dengan memadukan elemen tradisional dan inovasi modern, Cho Sang-kyung menciptakan pakaian yang tidak hanya estetis, tetapi juga menyampaikan pesan tentang identitas dan kebebasan dalam tradisi. Drama ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menjadi contoh bagaimana visualisasi kultural bisa memperkaya pengalaman menonton di era digital.

Keberhasilan “Perfect Crown” juga tergantung pada konflik yang ditampilkan antara tokoh-tokoh utamanya. Pangeran I-AN, yang memiliki hati yang lembut, dihadapkan pada tekanan untuk segera menikah, sehingga ia membuat kontrak pernikahan dengan Song Hui-ju. Proses kerja sama mereka mencapai tujuan masing-masing menghasilkan emosi yang tidak terduga, membuat rencana pernikahan tidak berjalan mulus. Melalui desain kostum yang mendukung karakter-karakter ini, Cho Sang-kyung berhasil menciptakan visual yang relevan dengan perjalanan emosional para pemain.