FitInfoSehat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Latest Program: Sezairi Ungkap Pentingnya Menjaga Sisi Manusiawi dalam Musik di Era AI

Published Mei 30, 2026 · Updated Mei 30, 2026 · By Linda Rodriguez

Sezairi Ungkap Pentingnya Menjaga Sisi Manusiawi dalam Musik di Era AI

Latest Program - Dalam dunia musik yang semakin dihiasi oleh teknologi canggih, musikus asal Singapura, Sezairi, memilih untuk menekankan nilai-nilai kemanusiaan melalui album terbarunya, The Art of Surrender. Di tengah maraknya lagu-lagu yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI), Sezairi berusaha mengingatkan bahwa ketidaksempurnaan manusia tetap menjadi ciri khas yang tak bisa direplikasi oleh mesin. Keresahan ini ia sampaikan dalam acara screening spesial live session yang diadakan di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat (29/5). Acara bertajuk Surrender Sessions ini menjadi ajang untuk memperkenalkan pandangan seorang musisi yang ingin mengembalikan esensi kreativitas.

Resah terhadap Produksi Musik yang Terlalu Sempurna

Sezairi secara terbuka menyampaikan ketidaknyamanan terhadap perkembangan industri musik saat ini. Menurutnya, kehadiran AI telah mengubah cara musik dihasilkan, mengakibatkan munculnya karya yang terlalu sempurna dan mekanis. "Saya merasa ada kejenuhan yang semakin mengancam pendengar, karena banyak musik yang dianggap 'lengkap' tapi sebenarnya tidak memiliki soul," ungkap Sezairi. Dalam sesi ini, ia juga mengungkapkan kekhawatirannya bahwa ketergantungan pada alat digital mengurangi makna proses kreatif yang seharusnya penuh dengan perasaan dan pengalaman.

"Kita dikelilingi oleh banyak musik AI, banyak orang yang mengatakan mereka adalah musisi hanya karena mengetik beberapa kata. Filosofi membuat musik ini juga merupakan sesuatu yang coba saya lawan," pungkas Sezairi.

Dalam album The Art of Surrender, Sezairi sengaja menampilkan sisi-sisi yang tidak sempurna, seperti kesalahan vokal atau ketidakkonsistenan irama, sebagai bukti bahwa musik manusia tetap memiliki karakter unik. Ia percaya bahwa kekurangan tersebut justru menjadi kekuatan, karena celah-celah kelemahan itu yang menciptakan ruang untuk emosi dan keunikan. "Jika musik terlalu sempurna, manusia akan merasa jenuh. Karena itu, saya berusaha menghadirkan kesan yang lebih alami dan manusiawi dalam karya-karya saya," terangnya.

Menjaga Kegembiraan dalam Proses Kreatif

Sesuai dengan pandangan Sezairi, Syaza Qistina Tan, istrinya yang juga menjadi manajernya, menekankan pentingnya menjaga kegembiraan dalam menciptakan musik. Menurutnya, proses kreatif yang dilakukan secara kolektif memiliki nilai emosional yang tidak bisa dihasilkan oleh program AI. "Di era ini, dengan kehadiran kecerdasan buatan, kita perlu menunjukkan kegembiraan dalam bermain musik. Kegembiraan membuat karya lebih hidup, dan juga kegembiraan untuk membiarkan kesalahan terjadi," jelas Syaza.

"Di zaman sekarang, dengan adanya kecerdasan buatan dan segalanya, rasanya sangat penting bagi kita untuk menunjukkan kegembiraan dalam membuat musik. Kegembiraan membuat musik bersama dengan orang lain, dan juga kegembiraan untuk membiarkan adanya ketidaksempurnaan," katanya.

Dalam bincang santai tersebut, Sezairi juga menyampaikan bahwa ia sadar memilih jalur kreatif yang berbeda dari tren musik instan. "Saya mencoba untuk menjadi tidak sempurna sebisa saya. Saya mencoba merangkul semua kesalahan dan ketidakkonsistenan. Karena dengan AI dan kedatangan musik yang overproduced, saya pikir orang-orang sudah lelah dengan hal-hal yang terlalu sempurna," tambahnya. Baginya, musik yang terlalu 'tidak manusiawi' justru menghilangkan makna ketika dinikmati secara emosional.

Konsep Musik yang Lebih Organik

Sezairi mengungkapkan bahwa The Art of Surrender bukan hanya album, tapi juga simbol perlawanan terhadap musik yang terlalu bergantung pada teknologi. Ia menekankan bahwa musik harus tetap memiliki keaslian, karena itu yang menjadikannya relevan bagi pendengar. "Saya ingin menegaskan bahwa musik manusia adalah bentuk ekspresi yang tidak bisa diubah oleh program. Jika kita tidak menjaga sisi manusiawi, musik akan kehilangan makna," tegasnya.

"Ketika hal-hal dalam musik terlalu sempurna, itu menjadi robotik dan tidak manusiawi. Dan bagi saya, itu adalah sesuatu yang sangat penting dalam musik saya, serta esensinya semua berakar pada rasa kemanusiaan," ujarnya.

Dalam sesi ini, Sezairi juga menyebutkan bahwa kehadiran AI membawa dampak dua arah. Di satu sisi, teknologi mempermudah proses produksi, tapi di sisi lain, ia mengkhawatirkan bahwa musik bisa kehilangan kontak dengan hati manusia. "Jika kita terlalu tergantung pada AI, mungkin akan ada kehilangan perasaan yang seharusnya menjadi inti dari setiap karya musik," tambahnya. Ia menilai bahwa keindahan musik lahir dari keunikan manusia, seperti kegigihan dalam mencoba, ketidaksempurnaan dalam proses, dan kegembiraan yang terbawa dalam setiap nada.

Menurut Syaza, komitmen Sezairi ini merupakan bentuk pengingat untuk para musisi agar tetap menjaga proses kreatif secara manusiawi. "AI bisa menghasilkan musik yang indah, tapi kita perlu mengingat bahwa manusia adalah yang menciptakan ide-ide itu. Jadi, ketika kita membuat musik, kita harus merasa bangga dengan diri sendiri, bahkan jika ada kelemahan," tuturnya. Ia menilai bahwa album The Art of Surrender adalah bukti nyata bahwa musik bisa tetap hidup selama manusia masih menjaga kepekaan dan emosinya dalam karya.

Sezairi juga mengungkapkan bahwa ia berharap album ini bisa menjadi pengingat bagi para pendengar. "Saya ingin orang-orang merasa bahwa musik adalah alat untuk mengungkapkan perasaan, bukan sekadar produk yang dihasilkan oleh algoritma," katanya. Dengan memperkenalkan kesalahan dan ketidaksempurnaan, ia berharap album ini bisa membantu kembali menghidupkan sisi kemanusiaan dalam dunia musik modern.

Di sisi lain, Syaza mengingatkan bahwa keterlibatan manusia dalam musik tidak bisa digantikan oleh mesin. "Meski AI bisa menghasilkan lagu dengan cepat, manusia tetap yang memberikan makna dan karakter pada setiap suara. Kegembiraan dan ketidaksempurnaan dalam proses mencipta adalah yang membuat musik menjadi hidup," imbuhnya. Dengan pandangan ini, Sezairi dan Syaza kembali menegaskan bahwa musik bukan hanya tentang keakuratan, tetapi juga tentang kesan yang tidak terduga dan keunikan yang hanya manusia bisa tampilkan.

Komitmen Sezairi untuk tetap melangkah ke arah yang lebih organik dan nyata juga menjadi harapan bagi generasi musisi muda. Ia berharap bahwa AI tidak akan menggantikan manusia sebagai pusat kreativitas, tapi justru memperkaya pengalaman musik. "Saya hanya mencoba mendorong diri saya ke arah yang lebih manusiawi," pungkas Sezairi. Dengan demikian, The Art of Surrender bukan hanya album, tapi juga sebuah pernyataan tentang keharusan untuk tetap menjaga keberagaman dan keaslian dalam seni musik.