Isu Penting: Scarlett Johansson cerita tekanan jadi aktris muda awal 2000-an
Scarlett Johansson cerita tekanan jadi aktris muda awal 2000-an
Dalam wawancara dengan CBS Sunday Morning, Scarlett Johansson membuka cerita tentang perjalanan karier di industri Hollywood pada masa awal 2000-an. Ia menyoroti betapa sulitnya menjadi aktris perempuan muda di masa itu, di mana penampilan fisik sering dianggap sebagai standar utama dalam menilai karakter.
“Itu sangat berat. Perempuan muda di Hollywood kerap diadili berdasarkan tampilan mereka. Peluang untuk memainkan peran yang lebih berkembang justru terbatas,” ujarnya.
Setelah puluhan tahun berkarya, aktor yang lahir pada 1984 ini merasa senang melihat perubahan yang terjadi. Saat ini, ia mengatakan bahwa peran-peran yang memberdayakan perempuan muda jauh lebih banyak dibandingkan masa ia masih remaja.
“Peran atau tawaran yang diberikan saat usia saya 20-an sangat monoton. Sering kali hanya menjadi sosok perempuan lain, selingan, atau tokoh seksi. Pola itu dominan,” tambahnya.
Melalui teater di New York City, Johansson menemukan solusi dari label peran yang sempit. Mengambil jeda dari Hollywood juga membantunya belajar untuk menunggu peluang yang sesuai, alih-alih terburu-buru menerima tawaran tanpa mempertimbangkan variasi.
“Sering kali, setiap pekerjaan terasa seperti yang terakhir. Jadi, ketika ada tawaran, kita merasa harus menerimanya, meski mungkin tidak memberi kesenangan maksimal,” imbuhnya.
Scarlett Johansson mengakui bahwa tekanan ini bukan hanya dialaminya sendiri, tetapi juga menjadi pengalaman umum bagi setiap aktor. Sorotan di awal karier membuat mereka ingin tetap dipertahankan, terutama bagi para pemula.
Pada usia 17 tahun, ia meraih peran penting dalam film drama “Lost in Translation” (2003), yang menjadi titik balik kariernya. Beberapa karya awalnya sebelum itu antara lain “The Perfect Score”, “Match Point”, “The Prestige”, “The Other Boleyn Girl”, dan “Iron Man 2”.
