FitInfoSehat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Historic Moment: Produser Ungkap Perjuangan Almarhum Gary Iskak saat Syuting Film Lastri: Arwah Kembang Desa

Published Juli 10, 2026 · Updated Juli 10, 2026 · By Patricia Lopez

Historic Moment: Gary Iskak di Lastri

Historic Moment - Sebelum menghembuskan napas terakhirnya, aktor ternama Indonesia Gary Iskak telah menyelesaikan karya sinemanya yang terakhir. Film berjudul Lastri: Arwah Kembang Desa ini dijadwalkan segera tayang di bioskop-bioskop seluruh negeri. Bagi para penggemar dan industri perfilman tanah air, proyek ini bukan sekadar film biasa, melainkan sebuah warisan seni sekaligus penghormatan terakhir atas dedikasi luar biasa sang aktor selama berkarier. Momen ini menjadi Historic Moment yang tak terlupakan bagi dunia hiburan Indonesia.

Joe Richard, sang produser film tersebut, akhirnya membuka rahasia yang selama ini tersembunyi dari pandangan publik. Ia menceritakan perjuangan intens yang dialami almarhum Gary Iskak selama proses pengambilan gambar di Lumajang. Menurut Joe, kondisi fisik Gary sebenarnya sudah menunjukkan penurunan signifikan pada masa-masa syuting berlangsung. Namun, semangat tinggi sang aktor untuk terus berkarya tidak pernah luntur sedikit pun. Proses syuting ini tercatat sebagai Historic Moment dalam perjalanan karir Gary Iskak.

"Bang Gary itu selama syuting memang dalam keadaan kurang sehat. Setiap malam dia harus membawa tabung oksigen untuk membantu napas. Kami harus keliling mencari pengisian oksigen saat habis agar dia tetap bisa syuting dengan baik," kenang Joe Richard dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (10/7).

Meskipun harus bergantung pada tabung oksigen untuk bernapas, Joe menggambarkan Gary sebagai sosok yang sangat profesional. Begitu kamera mulai merekam, Gary mampu menyembunyikan rasa sakitnya dan tampil luar biasa sebagai karakter Turenggo. Keteguhan hati aktor ini membuat para kru film terharu. Banyak yang menyebut momen-momen syuting tersebut sebagai Historic Moment yang penuh makna.

"Selama kami syuting di Lumajang itu, dia (Gary) pribadi yang sangat tidak enakan sama orang, jadi dia diundang terus ke kanan ke kiri (selama di Lumajang) aku sampai bingung 'Ya ampun dia kapan istirahatnya gitu loh' tapi besoknya begitu syuting lagi dia on dia betul-betul yang kadang-kadang jalan juga agak susah tapi ketika take dia menunjukkan sebagai Turenggo yang kuat," jelas Joe.

Ironisnya, Gary Iskak meninggal dunia setelah proses syuting film Lastri: Arwah Kembang Desa selesai sepenuhnya. Sang aktor meninggal akibat kecelakaan lalu lintas tunggal yang terjadi di kawasan Pesanggrahan, Jakarta Selatan, pada tanggal 29 November 2025. Berdasarkan keterangan resmi dari pihak kepolisian, sepeda motor Yamaha RX King yang dikendarainya kehilangan kendali lalu menabrak pohon. Benturan keras tersebut membuat almarhum terpelanting ke jalan. Kematian Gary Iskak menjadi Historic Moment yang menyedihkan bagi seluruh penggemar.

Visi Baru dalam Genre Horor

Sementara itu, Hendri Tivo, sutradara film ini, mengungkapkan bahwa sejak awal ia memiliki keinginan kuat untuk menyuguhkan sesuatu yang berbeda dalam Lastri: Arwah Kembang Desa. Meskipun mengusung genre horor, Hendri lebih menonjolkan kekuatan suasana atau ambience untuk menggugah rasa takut penonton, daripada sekadar mengandalkan penampakan hantu dan jumpscare. Proyek ini menjadi Historic Moment dalam pengembangan genre horor Indonesia.

"Memang film ini tidak kami hadirkan seperti horor kebanyakan yang penuh dengan jumpscare atau bermain dengan hantu seperti pocong atau kuntilanak. Kami di sini menghadirkan ketakutan lewat suasana-suasana yang mencekam," ujar Hendri dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (9/7).

Dengan mengusung genre Drama-Horor, Hendri menjelaskan bahwa kekuatan utama film ini terletak pada sisi drama dan cerita yang kuat. Penonton tidak hanya akan merasakan ketegangan dari elemen horor, tetapi juga konflik yang mendalam pada sisi dramanya.

"Fokus kami adalah pada drama yang kuat. Horor di sini sebagai penguat suasana, namun nyawa utamanya tetap pada cerita drama yang menyentuh hati," jelasnya.

Film ini berkisah tentang Atmi yang diperankan oleh Audy Bella. Ia mengalami teror gaib dari arwah yang ingin menuntut balas atas perbuatan Atmi di masa lalu. Arwah tersebut dikenal luas oleh masyarakat yang berlalu-lalang di sekitar makamnya. Terkadang ia menghantui, terutama ketika orang-orang yang lewat memiliki niat buruk.

Arwah itu bernama Lastri, yang diperankan oleh Hana Saraswati. Dulunya, Lastri adalah kembang desa di kampung Bandeng yang menikah muda pada usia 18 tahun dengan seorang juragan tambang pasir bernama Turenggo, yang diperankan oleh Gary Iskak. Banyak lelaki yang memandang pernikahan itu dengan rasa iri, khususnya Darman yang diperankan oleh Yama Carlos, juragan tambang pasir saingan Renggo.

Perasaan iri yang merebak di kampung kemudian melahirkan lingkungan yang sangat menyiksa bagi Lastri. Termasuk dari Atmi pada masa itu, yang sebenarnya mencintai Renggo. Atmi dan Darman menebar rumor dan kabar buruk tentang Lastri kepada warga kampung. Apa pun cara mereka gunakan untuk menghasut, khususnya kepada suami Lastri sendiri, Renggo. Semua ini menjadi bagian dari Historic Moment yang akan dikenang melalui film Lastri.