FitInfoSehat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Dua Lipa Buka Perpustakaan Khusus Buku Terlarang di Portugal

Published Juli 3, 2026 · Updated Juli 3, 2026 · By David Brown

Dua Lipa Buka Perpustakaan Khusus Buku Terlarang di Portugal

Dua Lipa Buka Perpustakaan Khusus Buku - Dua Lipa, penyanyi pop internasional yang terkenal dengan karyanya yang menarik, melangkah lebih jauh dalam mempromosikan literasi. Setelah membangun klub buku digital Service95 sejak 2021, bintang pop berusia 30 tahun ini kini meresmikan perpustakaan fisik pertamanya, Manifesto Library, di Kota Porto, Portugal. Tempat ini berada di dalam Livraria Lello, toko buku bersejarah yang dikenal akan arsitektur uniknya dan reputasi sebagai pusat budaya. Perpustakaan ini diresmikan pada 27 Juni 2026, mengusung konsep khusus: menyimpan buku-buku yang pernah dilarang atau disensor di berbagai negara. Tujuan utamanya adalah menjadi ruang untuk memperjuangkan kebebasan membaca serta mendokumentasikan pengaruh kontrol terhadap literatur.

Manifesto Library dikurasi berdasarkan empat tema utama: kekuasaan, kontrol, suara, dan ingatan. Koleksi yang dipajang mencakup karya-karya kontemporer yang menantang norma sosial, politik, atau budaya. Beberapa buku yang terpilih termasuk The Handmaid's Tale karya Margaret Atwood, yang membahas isu keterasingan gender; Felon karya Reginald Dwayne Betts, yang menggambarkan kisah kehidupan penjara; serta seleksi karya dari penulis kontroversial Salman Rushdie dan Olga Tokarczuk. Buku-buku ini dianggap penting karena memberikan perspektif alternatif dan menginspirasi refleksi mendalam tentang hak individu.

Perpustakaan sebagai Bentuk Perlawanan

Dua Lipa menjelaskan bahwa Manifesto Library adalah wujud perjuangan melawan sensor literatur. "Buku-buku ini tidak hanya berisi informasi, tapi juga menjadi alat untuk menantang struktur kekuasaan yang selama ini mengatur dunia," katanya dalam wawancara. Menurutnya, banyak karya yang diharamkan karena isu yang dianggap kontroversial, seperti tema ras, seksualitas, atau identitas. Di era modern, kecenderungan ini semakin kuat, bahkan membuat penulis terpaksa menghadapi ancaman serius.

"Membaca dunia membawa kita lebih dekat, tetapi sayangnya, tidak semua orang mendukung hal itu. Di sini, Anda akan menemukan seratus buku yang mengajukan pertanyaan, atau yang telah dipertanyakan," ujar Dua Lipa.

Dalam konteks ini, perpustakaan terbuka untuk menyajikan buku-buku yang dianggap "berbahaya" oleh pihak tertentu. Contohnya, beberapa karya dianggap terlarang karena menyentuh kekuasaan, seperti novel-novel yang mengeksplorasi peran perempuan dalam masyarakat patriarki. Kumpulan buku ini tidak hanya menjadi referensi, tetapi juga simbol perjuangan kebebasan berpikir.

Perspektif Dunia Literasi

Dua Lipa menyatakan bahwa perpustakaan ini bertujuan menyediakan ruang aman bagi buku-buku yang sempat diasingkan. "Ini adalah tempat suci bagi karya-karya yang telah lenyap, bagi penulis yang membuka kedok struktur kontrol, dan bagi pembaca yang menolak didikte tentang apa yang boleh mereka baca," tambahnya. Dengan menempatkan buku-buku tersebut di Livraria Lello, ia berharap dapat memicu dialog global mengenai peran literatur dalam membentuk opini masyarakat.

Perpustakaan ini tidak hanya menyajikan karya fiksi, tetapi juga non-fiksi yang mengungkap histori dan politik. Kebanyakan buku dipilih karena memberikan kritik tajam terhadap sistem yang dominan. Misalnya, karya-karya Salman Rushdie yang menyoroti perpecahan budaya dan Olga Tokarczuk yang menyelami ketidaktahuan kolektif. Dua Lipa menjelaskan bahwa pilihan buku-buku ini sengaja dibuat untuk menggambarkan perbedaan pandangan dan kekuatan ekspresi.

"Beberapa buku telah dilarang oleh distrik sekolah karena tema ras atau seksualitas. Yang lain, ditulis untuk pembaca LGBTQIA+, dibatasi penampilannya. Dalam beberapa kasus, sang penulis bahkan harus membayar kata-kata mereka dengan nyawa mereka," tegas Dua Lipa.

Dengan memilih Livraria Lello sebagai tempat untuk Manifesto Library, Dua Lipa mempertegas hubungan antara literatur dan kebebasan. Toko buku ini memiliki sejarah panjang selama 120 tahun sebagai penyebar ilmu pengetahuan, dan kini menjadi panggung untuk perpustakaan khusus yang berupaya menyelamatkan karya-karya yang dianggap ancaman. "Buku adalah teknologi kebebasan," kata pihak Livraria Lello dalam pernyataan mereka. Mereka menyambut langkah Dua Lipa sebagai langkah strategis untuk melestarikan nilai-nilai kebebasan.

Dua Lipa berharap Manifesto Library menjadi tempat di mana masyarakat dapat berinteraksi dengan karya-karya yang tidak mudah ditemukan di toko buku biasa. Ia ingin menciptakan ruang di mana pembaca bisa memahami latar belakang perangkat kata, mengapresiasi perjuangan penulis, serta menggali makna yang lebih dalam dari setiap halaman. "Dengan membuka perpustakaan ini, saya ingin mendorong orang-orang untuk bertanya, mengamati, dan berpikir secara kritis," ujarnya.

Sebagai bagian dari inisiatifnya, Dua Lipa juga berharap Manifesto Library menjadi wadah untuk menyebarkan kesadaran tentang bagaimana sensor bisa memengaruhi pengetahuan publik. Ia menegaskan bahwa buku-buku ini tidak hanya bermakna bagi pembaca, tetapi juga untuk sejarah. "Setiap buku yang diasingkan adalah bagian dari narasi besar tentang bagaimana kekuasaan mengontrol informasi," kata Dua Lipa. Ia menantikan respons masyarakat dunia terhadap koleksi yang dianggap relevan dengan isu-isu kontemporer.

Livraria Lello, sebagai tempat fisik Manifesto Library, memiliki latar belakang yang kaya. Toko buku ini dikenal sebagai salah satu tempat paling iconic di Porto, dengan desain interior yang terinspirasi oleh arsitektur gotik. Dua Lipa memanfaatkan lokasi ini untuk memberikan kesan bahwa perpustakaan bukan hanya tentang keterbukaan, tetapi juga keindahan. "Livraria Lello adalah simbol budaya yang mewakili perjalanan kebebasan selama ratusan tahun. Saya merasa ini adalah tempat yang cocok untuk menyimpan karya-karya yang berani menantang status quo," jelas Dua Lipa.

Manifesto Library diharapkan menjadi lebih dari sekadar koleksi buku. Ia bisa menjadi pusat diskusi, workshop, atau acara khusus yang membahas makna sensor dalam konteks modern. Selain itu, Dua Lipa juga ingin menggandeng komunitas lokal untuk menjaga dan memperluas kumpulan buku ini. "Saya ingin ini menjadi ruang kolektif, di mana semua orang bisa berpartisipasi dalam menyebarkan kebebasan membaca," tambahnya.

Dengan kombinasi antara inisiatif digital sebelumnya dan kehadiran fisik di Portugal, Dua Lipa menunjukkan komitmen yang kuat terhadap literasi. Perpustakaan ini menjadi titik balik dalam perjalanan ekspresi yang ia ciptakan, menggabungkan teknologi dengan keberanian. "Dunia literasi adalah dunia yang