FitInfoSehat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Topics Covered: Akreditasi Jadi Kunci Hadapi Tantangan Perdagangan Global dan Ekonomi Berkelanjutan

Published Juni 22, 2026 · Updated Juni 22, 2026 · By Jessica Jackson

Akreditasi Jadi Kunci Hadapi Tantangan Perdagangan Global dan Ekonomi Berkelanjutan

Topics Covered - Di era perdagangan global yang terus berkembang, tantangan semakin dinamis. Selain persaingan produk dan layanan yang makin ketat, pelaku bisnis juga diharuskan memenuhi berbagai syarat baru terkait standar keamanan, kualitas, transparansi rantai pasok, dan keberlanjutan lingkungan. Di tengah kondisi ini, akreditasi muncul sebagai alat strategis untuk membangun kepercayaan dan memastikan hasil pengujian, inspeksi, sertifikasi, serta verifikasi bisa diterima secara internasional. Topik tersebut menjadi fokus utama dalam Asia Pacific Accreditation Cooperation (APAC) Annual Meeting 2026 yang diadakan di Nusa Dua, Bali. Pertemuan ini membahas tema "Innovation, Trust and Sustainability: The Power of Accreditation" dengan subtema "Accreditation to Facilitate the Global Acceptance of Conformity Assessment Results".

Peran Akreditasi dalam Memperkuat Kepercayaan

Kegiatan yang dihadiri oleh delegasi badan akreditasi, organisasi internasional, serta pemangku kepentingan dari berbagai negara di kawasan Asia Pasifik ini, menegaskan pentingnya akreditasi dalam mendukung inovasi, memperkuat kepercayaan, dan mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Dalam pidato pembukaan, Gubernur Bali, I Wayan Koster, mengapresiasi peran akreditasi sebagai fondasi sistem yang mampu menjawab tantangan perdagangan global, transformasi digital, serta agenda keberlanjutan. Kehadiran Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN), Donny Purnomo Januardhi Effyandono, selaku Ketua Komite Akreditasi Nasional (KAN), menunjukkan komitmen nasional untuk memperkuat sistem akreditasi tersebut.

“Akreditasi kini tidak hanya dianggap sebagai proses teknis menilai kompetensi lembaga, tetapi menjadi bagian dari infrastruktur ekonomi yang menentukan daya saing suatu negara,” ujar Donny. Ia menekankan bahwa akreditasi memastikan lembaga penguji, inspektor, sertifikator, maupun verifikator memiliki kapasitas yang dapat dipertanggungjawabkan, sehingga hasil mereka diakui oleh regulator, produsen, dan konsumen.

Dalam dunia bisnis modern, tuntutan pasar global semakin tinggi. Perkembangan teknologi yang pesat, seperti kecerdasan buatan, kendaraan listrik, energi terbarukan, dan inovasi kesehatan, memaksa pelaku usaha mengadopsi standar yang lebih ketat. Selain itu, keberlanjutan lingkungan menjadi aspek utama dalam menilai kelayakan produk. Contohnya, kebijakan European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang mewajibkan komoditas masuk ke pasar Uni Eropa, termasuk kelapa sawit, harus dapat dibuktikan bebas dari deforestasi. Kebijakan ini menunjukkan bahwa daya saing suatu barang tidak hanya bergantung pada kualitas dan harga, tetapi juga kemampuannya dalam memenuhi standar keberlanjutan.

Donny menjelaskan bahwa keberlanjutan tidak cukup dinyatakan secara umum, tetapi harus diperkuat dengan bukti yang jelas. Karena itu, dibutuhkan sistem penilaian kesesuaian yang kredibel, serta lembaga yang kompeten untuk memberikan sertifikasi atau verifikasi. “Akreditasi berperan sebagai jembatan kepercayaan, memastikan proses tersebut berjalan secara independen, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan,” tambahnya. Penekanan pada akreditasi ini mencerminkan bagaimana institusi tersebut menjadi bagian dari keseluruhan ekosistem perdagangan yang semakin kompetitif.

Kolaborasi Internasional untuk Memperkuat Sistem Akreditasi

Kehadiran berbagai pemangku kepentingan dalam APAC Annual Meeting 2026 menunjukkan pentingnya kerja sama internasional dalam meningkatkan efektivitas akreditasi. Dengan adanya pengaturan saling pengakuan (mutual recognition arrangements) antar organisasi akreditasi, hasil pengujian, inspeksi, dan sertifikasi yang dikeluarkan oleh lembaga terakreditasi KAN bisa diterima oleh negara-negara lain tanpa perlu dilakukan ulang. Hal ini memberikan manfaat signifikan, seperti mengurangi hambatan teknis dalam perdagangan, menekan biaya kepatuhan, serta mempercepat akses pasar bagi produk Indonesia.

Dalam konteks sektor pertanian, khususnya industri kelapa sawit, BSN melalui KAN terus memperkuat sistem akreditasi untuk mendukung implementasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Penguatan ini diharapkan bisa meningkatkan kredibilitas hasil sertifikasi, memastikan transparansi rantai pasok, serta memenuhi tuntutan pasar global terhadap keberlanjutan. Donny menambahkan bahwa dengan adanya standar akreditasi yang konsisten, produsen bisa menunjukkan komitmen mereka terhadap lingkungan, sekaligus membangun citra positif di mata pembeli internasional.

Perkembangan sistem akreditasi nasional juga terlihat dari peningkatan kinerja lembaga penguji. Dengan dukungan pemerintah dan institusi internasional, proses akreditasi di Indonesia menjadi lebih efisien dan terukur. Ini tidak hanya memperkuat daya saing ekspor, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang lebih luas. Selain itu, akreditasi membantu mengurangi risiko kesalahan dalam penilaian, yang bisa merugikan pelaku usaha dan memperlambat pertumbuhan pasar.

Menurut Donny, akreditasi merupakan kunci utama dalam membangun sistem yang siap menghadapi perubahan ekonomi dan teknologi. “Dengan akreditasi, kita bisa memastikan setiap proses penilaian kesesuaian memiliki kredibilitas yang tinggi, sehingga dapat mendukung transisi ke ekonomi berkelanjutan,” katanya. Ia juga menyoroti bagaimana inovasi dalam pengujian dan sertifikasi bisa meningkatkan kepercayaan antar negara, terutama dalam era dimana ekspor dan impor semakin saling tergantung.

Pertemuan APAC Annual Meeting 2026 menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana kebijakan akreditasi bisa diselaraskan dengan kebutuhan pasar global. Selain menyampaikan keterangan resmi, acara ini juga menjadi forum diskusi antar negara untuk berbagi pengalaman, mengatasi hambatan, dan merancang langkah strategis ke depan. Dengan kolaborasi yang lebih kuat, akreditasi diharapkan bisa menjadi pendorong utama dalam menciptakan ekosistem perdagangan yang lebih adil, transparan, dan berkelanjutan.

Di sisi lain, penguatan sistem akreditasi nasional juga membuka ruang bagi inovasi dalam berbagai sektor. Misalnya, lembaga pengujian baru bisa muncul dengan standar yang lebih ketat, dan hasilnya bisa diakui oleh negara-negara lain. Hal ini memberikan manfaat ekonomi yang signifikan, karena memungkinkan produk Indonesia lebih cepat memasuki pasar internasional. Donny berharap, melalui akreditasi, Indonesia bisa menjadi contoh yang baik dalam menggabungkan keberlanjutan dengan daya saing ekonomi global.

Kehadiran delegasi dari berbagai negara di Asia Pasifik dalam APAC Annual Meeting 2026 menunjukkan bahwa akreditasi adalah faktor penting dalam membentuk kesepakatan bersama. Dengan memperkuat sistem ini, para peserta bisa menyamakan standar, sehingga meningkatkan efisiensi dan kepercayaan antar negara. Kebijakan seperti EUDR menjadi bukti bahwa keberlanjutan tidak lagi sekadar isu lingkungan, tetapi juga faktor ekonomi yang mesti diperhitungkan dalam perdagangan internasional.