FitInfoSehat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

New Policy: BI Rate Dinaikkan agar Instrumen Rupiah Menguat

Published Mei 25, 2026 · Updated Mei 25, 2026 · By Lisa Moore

Petugas menunjukkan uang rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Senin (27/10/2025). Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75 persen dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50 persen sebagai upaya mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah yang sesuai dengan fundamental di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi serta sinergi untuk turut memperkuat pertumbuhan ekonomi. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym.

BI Rate Dinaikkan agar Instrumen Rupiah Menguat

New Policy - Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin, mengangkat tingkat suku bunga menjadi 5,25%. Tindakan ini diambil sebagai upaya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian. Dewan Gubernur BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa penyesuaian suku bunga menjadi langkah strategis guna membuat instrumen keuangan berbasis rupiah kembali menarik bagi investor, sekaligus mendukung aliran modal asing ke pasar keuangan dalam negeri.

Kondisi Global yang Mempengaruhi Keputusan BI

Destry menekankan bahwa kenaikan BI Rate bukan sekadar untuk menekan sektor riil, melainkan sebagai respons terhadap dinamika ekonomi internasional. Menurutnya, dunia saat ini berada dalam fase "higher for longer," di mana suku bunga diperkirakan tetap tinggi selama periode yang relatif lama. Faktor-faktor seperti kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat, inflasi yang masih mengalami peningkatan, serta penguatan indeks dolar AS (DXY) terhadap hampir semua mata uang utama dunia menjadi alasan utama perubahan kebijakan ini.

“Kita dorong kenaikan suku bunga karena kita harus membuat instrumen rupiah itu menjadi menarik lagi,” ujar Destry dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah di Balai Kartini, Senin (25/5).

Dia menambahkan, kenaikan suku bunga ini harus dilakukan karena kondisi global yang terus berubah, meskipun tidak selalu bersifat reaktif. “Kenaikan BI Rate ini mau enggak mau memang harus dilakukan, bukan karena apa-apa tapi karena menyesuaikan dengan kondisi global,” katanya.

Langkah-Langkah Intervensi BI untuk Stabilisasi Rupiah

Selain penyesuaian suku bunga, BI juga melakukan sejumlah intervensi di berbagai pasar untuk mengamankan nilai tukar rupiah. Menurut Destry, langkah tersebut mencakup pasar spot, pasar forward, serta pasar Non-Deliverable Forward (NDF) dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Intervensi ini bertujuan untuk mengurangi tekanan terhadap rupiah, terutama di tengah permintaan dolar yang tinggi di dalam negeri.

Destry menjelaskan bahwa BI juga aktif membeli Surat Berharga Negara (SBN) guna menjaga likuiditas pasar dan mengendalikan kenaikan imbal hasil obligasi. “Pembelian SBN dilakukan untuk memastikan stabilitas likuiditas, terutama ketika imbal hasil obligasi berpotensi naik terlalu tajam,” tambahnya. Selain itu, bank sentral terus memantau kebutuhan dolar di dalam negeri, termasuk permintaan yang tidak didukung oleh fondasi ekonomi yang jelas.

Fundamental Ekonomi Indonesia yang Masih Kuat

Destry optimis bahwa stabilitas rupiah akan terus terjaga, seiring penguatan fundamental ekonomi Indonesia. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I mencapai sekitar 5,6%, yang termasuk salah satu tingkat tertinggi di kawasan Asia Tenggara. “Kalau fundamental kan berarti kita melihat ekonomi di negara itu bagaimana,” ujar Destry.

Indikator ekonomi lain yang memperkuat optimisme Destry adalah peningkatan indeks kepercayaan konsumen, serta perbaikan kinerja penjualan sejumlah korporasi besar. Faktor-faktor ini menunjukkan bahwa daya tarik pasar dalam negeri masih memadai, meskipun terdapat tantangan dari luar.

Tantangan Global dan Kebutuhan Dalam Negeri

Meski fundamental ekonomi Indonesia relatif baik, Destry mengakui bahwa sentimen global masih menjadi faktor utama yang memengaruhi nilai tukar rupiah. Kondisi tersebut diperburuk oleh meningkatnya permintaan dolar asing di tengah tahun, terutama dalam hal pembayaran dividen, repatriasi dana, dan kebutuhan untuk musim haji.

“Sekarang ini kan ada masalah juga karena ada sentimen, karena adanya di global yang masih terus gonjang-ganjing, yang belum selesai,” ucapnya.

Destry menegaskan bahwa kenaikan suku bunga dan langkah intervensi BI tidak hanya sebagai respons terhadap tekanan dari luar, tetapi juga sebagai bagian dari strategi jangka panjang. “Kenaikan BI Rate akan memberikan kepercayaan kembali kepada masyarakat dan investor,” pungkasnya.

Pola Suku Bunga dan Dampak Terhadap Ekonomi

Destry menjelaskan bahwa suku bunga acuan yang lebih tinggi berpotensi menarik minat investor asing, karena imbal hasil obligasi rupiah menjadi lebih kompetitif dibandingkan instrumen keuangan di negara-negara lain. Hal ini sejalan dengan kebijakan BI untuk menciptakan lingkungan pasar yang lebih sehat dan menarik bagi pemodal.

Di sisi lain, Destry mengingatkan bahwa kebijakan moneter ini juga diharapkan mampu menjaga inflasi dalam batas yang terkendali, sambil tetap mendukung pertumbuhan ekonomi. “Stabilitas rupiah adalah kunci untuk menjaga kepercayaan investor dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi,” tegasnya.

Langkah Strategis untuk Masa Depan

Destry menegaskan bahwa BI terus memantau dinamika pasar dan siap mengambil langkah-langkah tambahan jika diperlukan. Kebijakan moneter yang konsisten diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar rupiah dan pertumbuhan ekonomi. “Kita juga perlu melihat arah program pemerintah ke depan, karena ketegasan kebijakan akan memperkuat kepercayaan pasar,” ujarnya.

Menurutnya, momentum peningkatan fundamental ekonomi, seperti kebijakan fiskal yang stabil dan pertumbuhan yang cukup kuat, akan menjadi fondasi untuk memperkuat posisi rupiah. Destry juga menyebutkan bahwa kebijakan BI akan tetap fleksibel sesuai dengan kondisi pasar yang terus berubah.

K