Main Agenda: Gobel Dorong Pemerintah Undang Eksportir Nasional untuk Bantu Kuatkan Rupiah
Gobel Dorong Pemerintah Undang Eksportir Nasional untuk Bantu Kuatkan Rupiah
Main Agenda - Seorang anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Rachmat Gobel, menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah dengan eksportir dalam negeri guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan menguatkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Dalam wawancara Rabu, 10 Juni 2026, ia mengatakan bahwa keberhasilan ekonomi nasional memerlukan partisipasi aktif dari berbagai pihak, termasuk sektor ekspor. “Semua harus bahu membahu untuk menguatkan ekonomi nasional,” ujarnya, menyoroti peran strategis eksportir dalam mendukung stabilitas moneter.
Koordinasi Pemerintah dan Eksportir
Kebutuhan tersebut muncul dalam konteks upaya pemerintah menangani kinerja ekonomi yang mengalami tekanan, terutama dalam menstabilkan kurs rupiah dan indeks saham. Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, telah memimpin serangkaian pertemuan dengan kementerian terkait, termasuk Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Menteri ESDM, Mensesneg, Menteri Hukum, dan kepala BP BUMN yang juga COO Danantara. Koordinasi ini bertujuan untuk mencari solusi menghadapi penurunan nilai rupiah, dengan fokus pada perbaikan prosedur ekspor barang-barang strategis seperti batubara, minyak sawit, dan nikel melalui BUMN DSI.
Peran UMKM dalam Ekspor
Dalam penyampaian Gobel, ia menyoroti peran UMKM yang masih terabaikan dalam sektor ekspor. Meski UMKM kontribusi besar terhadap penyerapan tenaga kerja dan PDB, angkanya hanya mencapai 15 persen dari total ekspor nasional. “Ini adalah paradoks. UMKM yang menjadi tulang punggung perekonomian di dalam negeri harus lebih banyak terlibat dalam pemasaran ke luar negeri,” katanya. Untuk mengatasi hal ini, Gobel menyarankan pemerintah memberikan dukungan berupa kredit ekspor, asuransi perdagangan, dan insentif pajak. “Dengan naiknya ekspor, Indonesia akan memiliki lebih banyak dolar, yang bisa dijadikan alat untuk menguatkan rupiah,” tegasnya.
Strategi Diversifikasi Ekspor
Kebijakan pemerintah juga diharapkan mencakup diversifikasi pasar ekspor melalui KBRI di berbagai negara. Gobel menekankan bahwa terlalu bergantung pada pasar tradisional seperti Amerika Serikat dan Tiongkok berisiko memperparah dampak geopolitik dan pelambatan ekonomi global. “Dengan menargetkan pasar baru, kita bisa mengurangi ketergantungan dan meningkatkan daya tahan ekonomi,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa upaya ini harus dilakukan secara terpadu dengan pengendalian impor, terutama produk yang sudah bisa diproduksi dalam negeri.
Persaingan Global dan Kebijakan Impor
Menurut Gobel, impor yang tidak terkelola dengan baik justru menguras dolar dan memperlemah kurs rupiah. “Impor akan menghabiskan dolar, sehingga kita perlu membatasi produk yang bisa diproduksi sendiri,” katanya. Contohnya, ia menyarankan pemerintah melarang impor tekstil dan garmen yang berdesain tradisional Indonesia. “Ini seperti menghancurkan pasarnya sendiri. Negara-negara lain seperti Amerika Serikat dan Tiongkok justru memanfaatkan kebijakan tarif mereka untuk menopang industri nasional,” tambahnya.
Konsistensi Kontribusi Sektor
Dalam menilai keberhasilan ekspor, Gobel membandingkan kontribusi sektor UMKM dengan negara-negara lain. Di Jepang, UMKM berkontribusi sekitar 50 persen terhadap PDB, 70 persen pada penyerapan tenaga kerja, dan 50 persen pada ekspor. Sementara di Tiongkok, angkanya masing-masing sekitar 60 persen, 80 persen, dan 70 persen. “Relatif ada konsistensi antara kontribusi terhadap PDB dan penyerapan tenaga kerja dengan dampak pada ekspor,” katanya. Hal ini menunjukkan bahwa sektor UMKM perlu diberi perhatian lebih untuk memperkuat daya saing Indonesia di pasar internasional.
Potensi Ekspor UMKM
Gobel menyoroti potensi ekspor yang besar dari UMKM, terutama dalam produk-produk seperti makanan, rempah, fesyen, furnitur, herbal, kerajinan, produk halal, dan ekonomi kreatif. “UMKM memiliki keunggulan dalam hal inovasi dan keberagaman produk,” katanya. Untuk memanfaatkan potensi ini, Gobel menekankan perlunya dukungan pemerintah dalam bentuk fasilitas kredit, asuransi, dan pengurangan beban pajak. “Ini akan membantu UMKM menembus pasar ekspor, yang sejauh ini masih dominan diisi oleh perusahaan besar,” ujarnya.
Transformasi Ekonomi Jangka Panjang
Dalam konteks jangka panjang, Gobel menekankan bahwa pemerintah harus memprioritaskan sektor industri, manufaktur, dan pangan. “Ekonomi yang hanya bergantung pada tambang tidak berkelanjutan dan padat modal,” katanya. Ia menyarankan pengembangan sektor-sektor ini untuk menciptakan kualitas sumber daya manusia yang lebih baik dan mendorong pemerataan ekonomi. “Kita harus berpikir ke depan, dengan perencanaan yang lebih komprehensif,” tambahnya.
Upaya Masa Depan
Sebagai langkah awal, Gobel menyarankan pemerintah mengundang para eksportir nasional, termasuk dari kalangan UMKM, untuk berpartisipasi dalam diskusi strategis. “Sinergi antara pemerintah dan eksportir sangat penting untuk menguatkan ekonomi secara bersama,” katanya. Ia juga menekankan bahwa pemerintah harus meningkatkan efisiensi logistik, digitalisasi proses bea-cukai, dan memperbaiki fasilitas pelabuhan. “Hal-hal ini akan menurunkan biaya transportasi dan mempercepat proses ekspor,” ujarnya.
Hasil yang Diinginkan
Gobel optimis bahwa dengan kebijakan yang tepat, ekspor nasional bisa mengalami peningkatan signifikan. “Ini akan membantu Indonesia meredam tekanan terhadap rupiah dan memperkuat kepercayaan investor,” katanya. Ia juga menyatakan bahwa ekspor migas dan diversifikasi produk menjadi faktor penting dalam mencapai keseimbangan ekonomi. “Pemerintah harus mengambil peran aktif dalam memfasilitasi ini, karena ekspor adalah salah satu sarana utama memperkuat nilai tukar rupiah,” tutupnya.
“Kita harus berpikir untuk jangka panjang, berdimensi pemerataan, dan membangun kualitas sumberdaya manusia,” kata Gobel. “Pasar Indonesia yang besar itu aset. Ini yang dilakukan Amerika Serikat melalui kebijakan tarifnya dan yang dilakukan China dengan memaksa produsen asing untuk memproduksi barangnya di China. Kita justru menghancurkan pasarnya sendiri,” ujarnya.
Dengan kombinasi langkah-langkah ini, Gobel yakin rupiah akan lebih tahan terhadap tekanan spekulan dan lebih