FitInfoSehat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Key Strategy: Kaliandra dan Sorgum Diproyeksikan Jadi Penopang Bioenergi Masa Depan

Published Juni 8, 2026 · Updated Juni 8, 2026 · By David Brown

Kaliandra dan Sorgum Diproyeksikan Jadi Penopang Bioenergi Masa Depan

Key Strategy - Dengan meningkatnya kebutuhan energi terbarukan, pengembangan sumber biomassa yang berkelanjutan menjadi semakin penting. Biomassa tidak hanya berperan dalam mengurangi emisi karbon, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai bahan baku untuk energi masa depan, termasuk hidrogen hijau. Untuk memperkuat upaya ini, PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menggandeng PT PLN Pusat Penelitian dan Pengembangan Ketenagalistrikan (PLN Puslitbang) serta Institut Teknologi Sumatera (Itera) dalam riset tanaman energi, khususnya kaliandra dan sorgum. Kolaborasi ini bertujuan mendukung penggunaan biomassa sebagai bahan bakar campuran (co-firing) di pembangkit listrik sekaligus menjelajahi kemungkinan pemanfaatan biomassa untuk produksi hidrogen hijau melalui teknologi gasifikasi.

Kerja Sama untuk Masa Depan Energi

Kerja sama antara PLN EPI, PLN Puslitbang, dan Itera diwujudkan melalui pelaksanaan pertemuan awal (kick off meeting) penelitian bioenergi, yang berlangsung di Kampus Itera, Bandar Lampung. Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, menjelaskan bahwa pemilihan kaliandra dan sorgum berdasarkan keunggulan mereka sebagai tanaman energi. Kedua jenis tanaman ini mampu tumbuh di lahan marginal yang tidak efisien untuk pertanian pangan, sekaligus menawarkan hasil panen yang tinggi dan fleksibilitas pemanfaatan untuk berbagai kebutuhan energi.

“Biomassa tidak hanya berperan dalam menurunkan emisi, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi baru bagi masyarakat. Melalui kolaborasi ini, kami ingin memastikan bahwa pengembangan biomassa di Indonesia didukung oleh riset yang kuat, teknologi yang tepat, dan model bisnis yang berkelanjutan,” kata Hokkop.

Menurut Hokkop, kebutuhan biomassa akan terus meningkat seiring ekspansi implementasi co-firing dan pertumbuhan bioenergi nasional. "PLN EPI tidak hanya membangun rantai pasok biomassa, tetapi juga mendorong pengembangan riset dan inovasi agar sumber daya hayati dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan," tambahnya. Di sisi lain, General Manager PLN Puslitbang, Mochamad Soleh, menekankan pentingnya sinergi antara dunia industri dan akademisi dalam menghasilkan solusi inovatif yang bisa langsung diterapkan di sektor ketenagalistrikan.

“PLN terus mendorong riset terapan yang mampu menjawab kebutuhan energi masa depan. Pengembangan tanaman energi seperti kaliandra dan sorgum diharapkan dapat menghasilkan model pemanfaatan biomassa yang lebih efisien, baik untuk co-firing maupun pengembangan energi hijau lainnya,” ujarnya.

Kontribusi Perguruan Tinggi untuk Energi Berkelanjutan

Rektor Itera, Prof Nyoman Pugeg Aryantha, menegaskan bahwa kolaborasi ini mencerminkan komitmen perguruan tinggi dalam mendukung keberlanjutan energi terbarukan. "Itera berkomitmen menghadirkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat. Kami berharap hasil penelitian ini dapat menciptakan teknologi serta model pengembangan tanaman energi yang memberikan dampak nyata," kata Aryantha. Riset yang dilakukan mencakup budidaya tanaman, karakteristik biomassa, analisis penggunaan untuk co-firing, hingga proses gasifikasi yang menghasilkan hidrogen hijau.

Selain memperkuat ketahanan energi nasional, studi ini juga diharapkan mampu menciptakan nilai tambah bagi sektor pertanian, kehutanan, dan perekonomian masyarakat. Terbentuknya ekosistem bioenergi yang terintegrasi akan memberikan dampak luas, baik secara lingkungan maupun sosial-ekonomi. Sebagai subholding energi primer, PLN EPI berperan aktif dalam strategi transisi energi nasional, termasuk memperluas penggunaan biomassa sebagai alternatif bahan bakar untuk listrik.

Pemanfaatan Biomassa dan Proses Gasifikasi

Program co-firing biomassa saat ini telah diterapkan di puluhan PLTU di berbagai daerah Indonesia. Tujuannya adalah menurunkan emisi karbon sekaligus meningkatkan pemanfaatan sumber daya domestik. Hokkop menambahkan bahwa pengembangan bioenergi bertujuan menyediakan alternatif bahan bakar yang efektif untuk sektor ketenagalistrikan, sekaligus membentuk ekosistem ekonomi hijau yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, seperti akademisi, industri, petani, dan masyarakat.

“Kolaborasi antara PLN EPI, PLN Puslitbang, dan Itera menjadi fondasi penting untuk mengubah potensi sumber daya hayati Indonesia menjadi energi masa depan yang bersih, berkelanjutan, dan memberikan manfaat ekonomi bagi bangsa,” tutup Hokkop.

Kaliandra dan sorgum dipilih karena kemampuannya menyesuaikan diri dengan kondisi lahan yang kurang produktif. Tanaman ini tidak hanya tahan terhadap kondisi lingkungan yang ekstrem, tetapi juga memiliki kemampuan regenerasi cepat dan kapasitas produksi energi yang tinggi. Sorgum, misalnya, bisa tumbuh di tanah kering dan membutuhkan sedikit air, sementara kaliandra menawarkan tingkat efisiensi yang baik dalam produksi biomassa.

Menurut Hokkop, pemanfaatan biomassa melalui teknologi gasifikasi bisa menghasilkan hidrogen hijau, yang merupakan komponen kunci dalam transisi energi global. Proses ini mengubah biomassa menjadi gas yang bersih, dengan emisi karbon yang jauh lebih rendah dibandingkan metode konvensional. Dengan dikembangkannya teknologi ini, Indonesia berpotensi mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil sekaligus mendorong pertumbuhan sektor energi terbarukan.

Kolaborasi ini juga bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap manfaat ekonomi dari pertanian berbasis energi. Dengan menyediakan peluang usaha baru, masyarakat pedesaan bisa terlibat langsung dalam produksi biomassa, yang sebelumnya sering dianggap sebagai bahan baku sekunder. Hokkop menjelaskan bahwa dampak ekonomi dari pengembangan tanaman energi bisa berupa peningkatan pendapatan petani, pengurangan biaya energi, dan penciptaan lapangan kerja di sektor terkait.

Penelitian lanjutan akan fokus pada pengoptimalan proses budidaya dan pemanfaatan tanaman energi. Pihaknya juga menargetkan pengembangan teknologi pengolahan biomassa yang lebih efisien, sehingga bisa mengurangi dampak lingkungan sekaligus meningkatkan keberlanjutan produksi. Dengan demikian, Indonesia bisa memanfaatkan kekayaan alamnya secara bijak, sekaligus mempercepat tercapainya energi bersih di masa depan.