FitInfoSehat
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Key Discussion: Layanan Kliring Makin Kuat, Pendapatan Operasional Melonjak 12 Persen

Published Juni 30, 2026 · Updated Juni 30, 2026 · By Michael Williams

Layanan Kliring Makin Kuat, Pendapatan Operasional Melonjak 12 Persen

PT KBI Toreh Kinerja Positif di Akhir Tahun 2025

Key Discussion - PT Kliring Berjangka Indonesia (PT KBI), sebagai satu-satunya lembaga kliring yang bergerak di bidang perdagangan berjangka dan merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), berhasil menyambut akhir tahun 2025 dengan hasil operasional yang mengalami peningkatan signifikan. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Laporan Tahunan yang diadakan pada Selasa (30/6) di Menara Danareksa, perusahaan mencatat pendapatan operasional sebesar Rp209 miliar, meningkat 12% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan kualitas layanan kliring dan transformasi bisnis yang berkelanjutan, yang berhasil memperkuat kepercayaan dari para pemangku kepentingan di sektor keuangan.

Agenda RUPS Diterima, Fokus pada Pengembangan Bisnis 2026

RUPS tersebut dipimpin oleh Direktur SDM dan Hukum PT Danareksa (Persero), Andi Seto Ghadista A. Agenda utama dalam pertemuan tersebut, termasuk laporan keuangan 2025 dan rencana bisnis 2026, telah mendapatkan persetujuan dari seluruh jajaran komisaris dan direksi PT KBI. Komisaris Independen Egy Massadiah serta Irman Sahroni Ahmad, Direktur Utama Budi Susanto, dan Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Adiyasa Suhadibroto hadir dalam acara ini. Dukungan penuh dari para pemegang saham menjadi pendorong penting bagi PT KBI dalam memperkuat posisi strategisnya di tengah ekosistem nasional.

Peningkatan Transaksi Berdampak pada Kinerja Operasional

Dari sisi operasional, PT KBI mencatat pertumbuhan volume transaksi multilateral dalam perdagangan berjangka komoditas sebesar 36% dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian ini sejalan dengan meningkatnya kepercayaan anggota kliring terhadap sistem dan ekosistem bisnis yang terus dikembangkan perusahaan. Selain itu, transaksi Timah Luar Negeri juga mengalami peningkatan 23%, dengan jumlah lot meningkat dari 8.043 menjadi 9.898, sehingga nilai transaksi mencapai US$1,672 miliar. Pertumbuhan ini mencerminkan keberhasilan perusahaan dalam menjangkau pasar internasional dan meningkatkan kapasitas operasional.

Transformasi Digital dan Kolaborasi Strategis

Direktur Utama PT KBI, Budi Susanto, menegaskan bahwa kinerja positif tahun ini merupakan hasil dari konsistensi perusahaan dalam menjaga kualitas layanan kliring, penyelesaian transaksi, serta tata kelola yang baik. "Kami juga terus mendorong efektivitas operasional dalam menghadapi dinamika industri yang semakin kompleks," katanya. Penguatan kolaborasi strategis dengan regulator seperti BAPPEBTI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Bank Indonesia (BI) menjadi prioritas, terutama dalam mengembangkan sistem berstandar internasional sesuai prinsip The Principles for Financial Market Infrastructures (PFMI) dan Blueprint Pendalaman Pasar Uang 2030 (BPPU 2030).

Program TJSL dan Konsep Triple Bottom Line

Selain fokus pada aspek ekonomi, PT KBI juga menjunjung tinggi konsep Triple Bottom Line (TBL) dengan menjaga keseimbangan antara People, Profit, dan Planet. Hal ini diwujudkan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang tercatat senilai Rp891 juta. Program ini memiliki tiga pilar utama: sosial, ekonomi, dan lingkungan. Beberapa inisiatif unggulan yang dijalankan perusahaan termasuk dukungan terhadap Integrated Farming System (IFS) sebagai bagian dari upaya mewujudkan agenda Swasembada Pangan Nasional, serta kolaborasi dengan BUMN lainnya seperti SEMAR Ekonomi—Integrasi UMK Berdaya, SEMAR Lingkungan—Holding Danareksa Olah Sampah, dan SEMAR Edukasi—Sekolah Hijau Danareksa.

Perusahaan Terus Berinovasi untuk Pertumbuhan Berkelanjutan

Budi Susanto menambahkan bahwa capaian 2025 menjadi dasar penting bagi PT KBI untuk terus membangun ekosistem komoditas yang transparan, terintegrasi, dan berkelanjutan. "Kami berkomitmen untuk mengembangkan infrastruktur 3I, yaitu Interkoneksi, Interoperabilitas, dan Integrasi, guna meningkatkan daya saing perusahaan di tengah persaingan global," ujarnya. Perusahaan juga akan fokus pada penguatan transformasi digital, peningkatan kualitas layanan, serta inovasi produk dan layanan sebagai bagian dari strategi pertumbuhan jangka panjang.

Langkah Strategis untuk Masa Depan Ekosistem Keuangan

Dalam menghadapi dinamika pasar yang terus berubah, PT KBI menegaskan akan terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak terkait. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kontribusi terhadap perkembangan industri dan perekonomian nasional. Budi Susanto menyoroti bahwa pengembangan infrastruktur 3I tidak hanya mendukung efisiensi operasional, tetapi juga mendorong keterlibatan lebih dalam dalam ekosistem keuangan berbasis teknologi.

Dengan peningkatan pendapatan operasional dan volume transaksi yang signifikan, PT KBI menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, keberlanjutan lingkungan, dan peningkatan kualitas layanan. Pertumbuhan 12% tersebut juga menjadi bukti bahwa perusahaan mampu menghadapi tantangan sektor keuangan secara efektif. Dukungan dari pemegang saham dan kolaborasi dengan regulator serta stakeholder memperkuat fondasi strategis PT KBI dalam menjalankan perannya sebagai lembaga kliring yang andal.

Transformasi bisnis yang terus dilakukan perusahaan bukan hanya terbatas pada sektor perdagangan berjangka, tetapi juga mencakup inovasi dalam pelayanan keuangan. Budi Susanto menegaskan bahwa ekosistem yang dibangun PT KBI diharapkan mampu menjadi acuan bagi sektor lain dalam meningkatkan kinerja dan kepercayaan masyarakat. Dengan memadukan inovasi teknologi, kebijakan yang transparan, serta keberlanjutan lingkungan, perusahaan yakin akan mencapai target pertumbuhan yang lebih tinggi di tahun mendatang.

Peningkatan transaksi Timah Luar Negeri menjadi salah satu indikator penting keberhasilan PT KBI dalam memperluas pasar internasional. Angka 9,898 lot yang dicapai pada tahun 2025 menunjukkan keterlibatan lebih aktif perusahaan dalam memperkuat koneksi dengan pelaku pasar