Pembahasan Penting: IHSG menguat di tengah kekhawatiran dilanggarnya gencatan AS dan Iran
IHSG Menguat Meski Ada Kekhawatiran Kepada Kesepakatan AS-Iran
Jakarta – Pada Kamis sore, IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup dengan kenaikan 28,38 poin atau 0,39 persen, mencapai level 7.307,59. Kenaikan ini terjadi seiring ketidakpastian mengenai pelanggaran kesepakatan gencatan senjata antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
“Pelembutan bursa Asia dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak yang minimal, sementara ketegangan terus memicu perhatian pasar,” kata Nico, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, dalam analisisnya di Jakarta, Kamis.
Konflik di Timur Tengah semakin memanas setelah Israel melakukan serangan terhadap Lebanon, menurut laporan pejabat Iran. Pihak Teheran tetap memblokir Selat Hormuz, meski sebagian elemen dari proposal gencatan senjata sudah ditinggalkan.
Di sisi global, harga minyak WTI dan Brent naik tipis, masing-masing mencapai 97,44 dolar AS per barel dan 97,77 dolar AS per barel pada perdagangan Kamis (9/4) pukul 16.54 WIB.
Risalah rapat The Fed menunjukkan bahwa sejumlah anggota bank sentral AS menginginkan kenaikan suku bunga untuk mengendalikan inflasi, meski kebanyakan masih optimis langkah berikutnya bisa berupa penurunan suku bunga.
Dari dalam negeri, Presiden Prabowo Subianto meresmikan pabrik mobil listrik dan menegaskan komitmen mendukung hilirisasi industri. Ia juga menyatakan pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional dalam kondisi stabil hingga satu tahun ke depan.
Frekuensi transaksi saham mencapai 2.242.170 kali, dengan total 29,04 miliar lembar saham diperdagangkan senilai Rp16,97 triliun. Sebanyak 278 saham naik, 378 turun, dan 164 tidak berubah.
Bursa Asia lainnya mengalami pelemahan: indeks Nikkei turun 413,10 poin atau 0,78 persen ke 55.895,32, indeks Shanghai menurun 28,83 poin atau 0,73 persen ke 3.966,17, indeks Kuala Lumpur melemah 10,07 poin atau 0,59 persen ke 1.686,24, serta indeks Strait Times bergerak turun 18,97 poin atau 0,38 persen ke 4.977,08.
Secara sektoral, empat bidang menguat, dengan energi menjadi penopang utama naik 2,03 persen. Sementara tujuh sektor mengalami penurunan, di mana industri terbesar menurun 1,36 persen, diikuti keuangan dan barang konsumen primer masing-masing 1,24 persen dan 0,68 persen.
