Nusantara

Solving Problems: Blackout Sumatra Berpotensi Picu Volatilitas Liar Harga Pangan di Sumut

Blackout di Sumatra Ancam Stabilitas Harga Pangan di Sumut Solving Problems - Pemadaman listrik masif yang terjadi di wilayah Sumatra sejak Jumat (22/5) sore

Desk Nusantara
Published 25 Mei 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Blackout di Sumatra Ancam Stabilitas Harga Pangan di Sumut

Solving Problems – Pemadaman listrik masif yang terjadi di wilayah Sumatra sejak Jumat (22/5) sore hingga Minggu (24/5) belum terbukti mengakibatkan kenaikan harga kebutuhan pokok di Sumatra Utara (Sumut). Namun, kondisi tersebut dinilai mampu memicu perubahan drastis pada harga bahan makanan di masa depan. Seorang ekonom dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, mengungkapkan bahwa volatilitas harga masih dalam tahap awal, tetapi jika gangguan listrik terus berlangsung, dampaknya bisa semakin signifikan.

Kondisi Pasar Saat Ini

Menurut pantauan di lapangan hingga Sabtu (23/5), harga bahan pokok seperti sayuran, ikan, protein hewani, gula pasir, dan minyak goreng di Sumut tetap stabil. Tidak ada indikasi awal yang menunjukkan peningkatan tajam pada harga kebutuhan dasar. Gunawan menjelaskan bahwa kenaikan harga mungkin belum terjadi karena pemadaman listrik terjadi pada akhir pekan, bukan di hari kerja yang biasanya ramai dengan aktivitas ekonomi. “Jika blackout terjadi di tengah pekan, kemungkinan dampaknya akan lebih besar,” tambahnya.

Psikologi Pasar Terancam

Meski harga tidak langsung meningkat, Gunawan mengingatkan bahwa gangguan listrik berdurasi panjang bisa memengaruhi perilaku para pedagang dan konsumen. Pemadaman listrik yang terjadi sejak Jumat malam diperkirakan mengganggu proses distribusi barang di pasar-pasar besar. Pasar Induk Lau Cih dan Pasar MMTC, misalnya, menjadi pusat utama perdagangan yang mengalami kekacauan karena kekurangan alat genset. “Ketidakstabilan informasi produksi dan distribusi bisa membuat psikologi pasar terganggu, sehingga harga bahan pokok mungkin bergerak liar,” kata Gunawan.

Risiko pada Peternakan Ayam Modern

Kondisi ini berpotensi menyebabkan kerugian besar bagi peternak ayam modern yang mengandalkan teknologi pengatur suhu ruangan. Jika aliran listrik tidak kembali dalam waktu singkat, suhu di kandang ayam bisa naik drastis, menyebabkan kematian massal ternak. Hal ini akan berdampak pada pasokan daging ayam, sehingga harga bisa melonjak tajam. “Jika makanan ternak terus tidak teraliri listrik, pasar akan kehabisan pasokan, dan inflasi bisa terjadi,” jelas Gunawan.

Peluang Bisnis di Tengah Krisis

Berbeda dengan sektor pertanian, beberapa bisnis lain justru merasakan manfaat dari gangguan listrik ini. Hasil observasi menunjukkan adanya peningkatan penjualan di rumah makan dan restoran sejak Sabtu (23/5). Banyak warga memilih makan di luar rumah karena kesulitan memasak di rumah akibat kekacauan listrik. Selain itu, toko alat berat yang menjual mesin genset serta jasa perbaikan generator juga kebanjiran pesanan. “Kebutuhan genset meningkat, menunjukkan adanya adaptasi di sektor usaha tertentu,” katanya.

Mekanisme Volatilitas Harga

Gunawan menjelaskan bahwa perubahan harga tidak selalu langsung terjadi pada hari pertama pemadaman. Namun, jika gangguan kelistrikan berlangsung lebih dari seminggu, pasokan barang ke pasar bisa terganggu. Selain itu, ketergantungan pada alat elektronik di sejumlah usaha kuliner dan perdagangan membuat mereka rentan terhadap tekanan ekonomi. “Ketika informasi produksi terhambat, kepercayaan konsumen pada stok barang bisa merosot, sehingga harga akan bergerak fluktuatif,” tutur Gunawan.

Perkiraan Dampak Jangka Panjang

Selama ini, kebutuhan harian masyarakat di Sumut belum terpengaruh signifikan. Namun, Gunawan memperingatkan bahwa jika blackout berlangsung lebih dari seminggu, kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, dan protein hewani bisa mengalami kenaikan tajam. “Ini akan menimbulkan tekanan inflasi yang terasa pada masyarakat umum, terutama yang memiliki penghasilan tetap,” kata ekonom tersebut.

Dalam skenario terburuk, penurunan pasokan bahan makanan dari daerah terdampak dapat memicu lonjakan harga. Terutama di wilayah Sumut yang tergantung pada impor bahan pangan dari Sumatra Selatan dan Kalimantan. Gunawan juga menyoroti peran penting para pedagang besar dalam menjaga keseimbangan harga. Jika mereka mampu mengatur distribusi barang, harga bisa tetap terjaga. Namun, jika informasi pasokan hilang, stok barang bisa cepat habis, menimbulkan kenaikan harga yang tidak terduga.

Sebagai contoh, pemadaman listrik di pasaran besar seperti Pasar MMTC bisa mengganggu distribusi bahan baku pangan dari daerah pengecer ke pasar. Pedagang yang tidak memiliki genset yang memadai harus mengandalkan sistem pengiriman manual, yang bisa mengurangi efisiensi dan mempercepat kenaikan harga. “Selain itu, peningkatan biaya transportasi dan penyimpanan juga bisa berkontribusi pada peningkatan tarif bahan makanan,” pungkasnya.

Kesimpulan dan Pandangan Ekonom

Gunawan Benjamin menegaskan bahwa volatilitas harga pangan di Sumut belum sepenuhnya terlihat. Namun, ia memperingatkan bahwa jika gangguan listrik terus berlanjut, dampaknya bisa meluas ke sektor ekonomi lain. “Kita perlu memantau secara berkala, karena perubahan tiba-tiba pada harga makanan bisa mengganggu daya beli masyarakat,” jelasnya. Ia juga menyarankan pemerintah dan para pemang

Mary Thomas

Mary Thomas adalah penulis kesehatan dengan pengalaman lebih dari 9 tahun dalam topik kesehatan keluarga dan gaya hidup sehat. Ia sering membahas cara menjaga kesehatan di tengah kesibukan sehari-hari. Tulisan Mary dirancang agar mudah dipahami oleh semua kalangan, termasuk keluarga yang ingin menerapkan pola hidup sehat secara praktis.