Mengenal Bahaya Ultra-Processed Food, Kevin Hall Mengungkapkan Rahasianya
Latest Program – Dalam era di mana makanan kemasan dan bahan tambahan pangan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, konsep ultra-processed foods (UPF) atau makanan ultra-proses yang sebelumnya dianggap sebagian orang sebagai istilah teknis khusus, kini mulai mendapat perhatian lebih luas. Satu dekade silam, istilah ini mungkin masih asing bagi kebanyakan masyarakat. Namun, kepopulerannya muncul setelah seorang ilmuwan dari National Institutes of Health (NIH), Kevin Hall, mempublikasikan penelitian yang mengguncang paradigma nutrisi pada tahun 2019. Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa pola konsumsi makanan ultra-proses memiliki dampak signifikan pada berat badan, meskipun komposisi gula, garam, dan lemak dibuat seimbang.
Studi yang Mengubah Persepsi Nutrisi
Penelitian Hall menemukan bahwa individu yang mengonsumsi makanan ultra-proses cenderung menambah asupan kalori sebanyak 500 per hari dibandingkan mereka yang memilih makanan alami. Faktor utamanya, menurut Hall, adalah kemampuan makanan kemasan untuk memicu rasa lapar secara berlebihan, terlepas dari kandungan nutrisi yang sama. Temuan ini memicu perdebatan mengenai peran ultra-processed foods dalam epidemi obesitas dan diabetes tipe 2 yang kian merenggut.
“Data menunjukkan aktivitas fisik di waktu luang justru meningkat. Masalah utamanya bukan pada kemauan individu, melainkan lingkungan pangan kita,” ujarnya.
Pola Konsumsi Kalori dalam Sistem Pangan Modern
Kevin Hall mengungkapkan bahwa sistem pangan saat ini dirancang untuk memproduksi kalori secara massal. Di Amerika Serikat, misalnya, komoditas utama seperti gandum, kedelai, jagung, dan beras menciptakan total kalori sekitar 15.000 per orang per hari. Angka ini mencerminkan efisiensi industri pangan dalam mengubah bahan dasar menjadi produk yang mudah dikonsumsi, meski seringkali mengorbankan nilai gizi. Upaya mempercepat proses produksi menghasilkan bahan baku murah, seperti sirup jagung tinggi fruktosa, yang kemudian digunakan untuk memperkaya rasa dan tekstur makanan.
Mekanisme Penyebab Kenaikan Berat Badan
Dalam risetnya, Hall mengidentifikasi dua mekanisme utama yang membuat UPF berbahaya bagi kesehatan tubuh. Pertama, makanan ultra-proses mengandung senyawa yang memicu kerja otak untuk mengingatkan seseorang bahwa mereka sedang makan. Dengan kata lain, makanan ini dirancang agar konsumen terus menginginkan lebih banyak, bahkan tanpa sadar. Kedua, proses industri menghilangkan senyawa alami yang membantu tubuh mengatur nafsu makan, seperti serat dan nutrisi lainnya. Akibatnya, tubuh merasa tidak terpenuhi meski asupan kalorinya telah mencapai batas.
Kebiasaan Pribadi vs. Lingkungan Pangan
Banyak orang menganggap masalah obesitas dan diabetes tipe 2 terletak pada kurangnya tanggung jawab pribadi atau penurunan aktivitas fisik. Namun, Hall membantah pandangan ini dengan argumen bahwa masyarakat kini justru lebih aktif secara fisik, terutama dalam era digital. Ia menekankan bahwa ultra-processed foods adalah akar masalah, karena sistem pangan modern dirancang agar konsumen terus menginginkan makanan siap saji. “Tidak hanya nutrisi yang penting, tetapi juga bagaimana makanan tersebut diproses untuk memengaruhi perilaku makan,” jelasnya.
Kekuatan Bahan Baku dan Keberlanjutan Industri
Di tengah penelitian tentang pola konsumsi, Hall juga menyoroti peran bahan baku yang digunakan dalam produksi UPF. Kedelai dan jagung, sebagai contoh, menjadi bahan utama untuk membuat bahan pangan sintetis. Kebutuhan industri akan bahan-bahan yang murah dan mudah disimpan mendorong penggunaan komoditas-komoditas ini secara masif. Dalam kondisi tertentu, bahan-bahan tersebut bisa diubah menjadi bahan tambahan, seperti gula atau garam, yang mempercepat peningkatan kalori.
Kevin Hall: Tidak Semua Makanan Ultra-Proses Buruk
Selama ini, banyak orang menganggap makanan ultra-proses sebagai musuh utama kesehatan. Namun, Hall menegaskan bahwa tidak semua produk dalam kategori ini merugikan. Ia sendiri masih mengonsumsi beberapa jenis makanan siap saji, asalkan tetap memperhatikan kualitas nutrisi. “Kita bisa menemukan pilihan sehat bahkan dalam makanan ultra-proses, selama tidak kelebihan asupan kalori dan mempertahankan keseimbangan gizi,” ujarnya. Contohnya, saus marinara rendah natrium atau bahan tambahan gula yang digunakan dalam jumlah minimal masih layak dikonsumsi.
Kebutuhan untuk Menyadari Perubahan Pola Makan
Menurut Hall, kunci keberhasilan mengatasi epidemi obesitas dan diabetes tipe 2 terletak pada kesadaran masyarakat akan lingkungan pangan. Ia menyarankan agar orang yang ingin hidup lebih sehat fokus pada prinsip dasar nutrisi, seperti mengurangi asupan gula dan garam secara signifikan. Sistem pangan yang dirancang untuk memudahkan konsumsi justru membuat kebiasaan makan menjadi lebih berlebihan. “Justru kenyataannya, makanan alami bisa memberikan kepuasan yang lebih dalam, selama tidak dikonsumsi secara berlebihan,” tambahnya.
Pengaruh pada Kebijakan Kesehatan Global
Karya Hall kini menjadi rujukan utama bagi pembuat kebijakan kesehatan di berbagai negara. Di Amerika Serikat, Sekretaris Kesehatan Robert F. Kennedy Jr. mendukung peran UPF sebagai penyebab utama penyakit kronis, termasuk obesitas. Ia mengusulkan pembatasan penggunaan bahan-bahan tambahan pangan dalam industri makanan, agar masyarakat lebih mudah mengakses makanan sehat. Meski demikian, Hall mengingatkan bahwa keberhasilan kebijakan ini bergantung pada kesadaran individu dan perubahan lingkungan makanan secara kolektif.
Dengan memperkenalkan Food Intelligence, Hall berharap masyarakat bisa memahami hubungan antara makanan, kesehatan, dan kebiasaan hidup. Buku ini tidak hanya menjelaskan dampak negatif UPF, tetapi juga memberikan strategi untuk memilih makanan yang seimbang. Hal ini penting, karena makanan ultra-proses kini mengisi lebih dari 60% makanan
