Facing Challenges: Hasto ajak buruh perkuat persatuan hadapi tantangan ekonomi

IMG 20260503 154628 234

Hasto Ajak Buruh Perkuat Persatuan Hadapi Tantangan Ekonomi

Acara Peringatan Hari Buruh Internasional PDIP Jadi Momentum Perjuangan Bersama

Facing Challenges – Minggu, Jakarta Timur – Dalam upacara memperingati Hari Buruh Internasional 2026 yang diadakan di GOR Otista, Jakarta Timur, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto, mengajak seluruh kalangan pekerja untuk melanjutkan perjuangan kesejahteraan dan memperkuat solidaritas. Acara yang dihadiri sekitar 1.500 peserta ini mengusung tema “Banteng Pro Pekerja: Buruh Berdaulat, Indonesia Berdikari,” yang menggambarkan semangat persatuan dan pemberdayaan kelas pekerja. Hasto menekankan bahwa kebersamaan dan kerja sama antarburuh adalah kunci untuk menghadapi berbagai tantangan ekonomi yang semakin kompleks.

“Hari ini saya mengingatkan bahwa kita harus bersatu, harus bergotong royong, harus menyingsingkan lengan baju kita agar perlindungan dan peningkatan kesejahteraan buruh kita perjuangkan bersama-sama,” kata Hasto.

Menurut Hasto, upaya bersama dalam mengadvokasi hak pekerja dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat kecil bisa menjadi daya tahan dalam menghadapi tekanan ekonomi global. Ia mengingatkan bahwa spirit gotong royong dan persatuan bukan hanya kewajiban, tetapi juga kunci untuk menciptakan perubahan yang berpihak kepada rakyat. “Dengan gotong royong dalam ide, gotong royong dalam pergerakan, dan gotong royong bersama dengan persatuan buruh, kita bisa mengubah Indonesia Raya kita,” tambahnya.

Konteks Perjuangan Buruh dalam Era Ekonomi Modern

Konteks sosial dan ekonomi saat ini menuntut peran aktif buruh dalam membela kepentingan mereka. Hasto menyebut bahwa kenaikan harga kebutuhan pokok dan persaingan global yang mengakibatkan pengurangan lapangan kerja menjadi tantangan utama. Di sisi lain, ia mengungkap bahwa kebersatuan buruh bisa menjadi kekuatan utama untuk mendukung kebijakan yang lebih adil dalam sistem perekonomian. “Kita harus menyadari bahwa perjuangan kesejahteraan buruh tidak hanya untuk mempertahankan kondisi sekarang, tetapi juga untuk mendorong peningkatan kualitas hidup dan pembangunan peradaban bangsa,” jelasnya.

“Karena itulah hari ini kita bersama-sama membangun komitmen kita, bahwa yang namanya kemerdekaan bagi buruh untuk berserikat, untuk mendapatkan perlindungan, untuk mendapatkan kesejahteraannya sebagai upaya meningkatkan peradaban Indonesia harus kita perjuangkan bersama-sama,” terangnya.

Hasto menegaskan bahwa semangat perjuangan yang diwariskan oleh Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno, harus tetap dihayati oleh generasi buruh masa kini. Ia mengingatkan bahwa kemerdekaan pertama kali diusung sebagai upaya membebaskan rakyat yang tertindas, termasuk para pekerja. “Soekarno, Bapak Marhaen, menggelorakan spirit kita bersama bahwa Pancasila penuh dengan narasi keberpihakan,” tambahnya.

Tantangan Deindustrialisasi dan Harapan Peningkatan Kualitas Hidup

Dalam pidatonya, Hasto juga menyoroti gejala deindustrialisasi yang semakin terasa. Fenomena ini, menurutnya, bisa mengancam lapangan kerja dan mengubah struktur ekonomi nasional. Ia mencontohkan negara-negara seperti Korea Selatan yang, meski memperoleh kemerdekaan pada waktu yang sama dengan Indonesia, berhasil membangun kekuatan industri dan meningkatkan kesejahteraan pekerja melalui kolaborasi yang kuat. “Kita harus meniru model tersebut, agar buruh Indonesia bisa berdiri dengan penuh kepercayaan dalam menghadapi tantangan global,” ujarnya.

Hasto menyampaikan bahwa perjuangan buruh tidak cukup hanya terbatas pada pengawasan terhadap kondisi pekerjaan saat ini. Ia menekankan perlunya perencanaan jangka panjang untuk memastikan bahwa kebijakan pemerintah dan pengusaha memberikan perlindungan yang layak serta kesempatan kerja yang lebih beragam. “Dengan bergerak bersama, kita bisa menciptakan sistem yang adil, dimana setiap orang memiliki hak untuk berkarya dan menikmati hasil kerjanya,” imbuhnya.

Peran PDIP dalam Memperkuat Kesejahteraan Buruh

Sebagai bagian dari perayaan, Hasto meminta seluruh elemen buruh untuk terus memperkuat persatuan dan solidaritas. Ia menegaskan bahwa PDIP menjadi wadah yang mendorong keberpihakan terhadap kelas pekerja. “Dengan solidaritas yang konsisten, kita bisa menjadi pihak yang mampu menggerakkan perubahan, baik di tingkat kebijakan maupun dalam praktik kerja sehari-hari,” katanya.

Hasto juga mengingatkan bahwa kesejahteraan buruh adalah pondasi utama dari kemakmuran nasional. Ia menekankan perlunya peran aktif buruh dalam menentukan arah pembangunan, termasuk memastikan bahwa upah layak, kondisi kerja aman, dan akses layanan kesehatan serta pendidikan tetap terjamin. “Kita harus bersikap proaktif, bukan hanya dalam mengeluhkan masalah, tetapi juga dalam mencari solusi bersama,” tambahnya.

“Kita harus terus bergerak, karena keberpihakan kepada rakyat kecil adalah esensi dari kemerdekaan kita,” ujar Hasto.

Acara tersebut tidak hanya menjadi kesempatan untuk menyampaikan pesan, tetapi juga menjadi ajang komunikasi antara buruh dan pihak PDIP. Hasto menyebut bahwa partai berlambang banteng ini selalu mengutamakan kesejahteraan buruh sebagai prioritas utama. “PDIP hadir untuk mendengar suara buruh dan menjadi wakil mereka dalam berbagai forum,” katanya.

Dalam rangkaian acara, Hasto bersama jajaran DPP PDIP Mercy Chriesty Barends, Charles Honoris, Ribka Tjiptaning, dan Rano Karno menyerahkan cenderamata kepada perwakilan buruh. Ini dianggap sebagai bentuk penghargaan atas perjuangan dan kontribusi buruh dalam membangun bangsa. “Cenderamata ini adalah simbol komitmen kita untuk terus bergerak bersama,” kata Hasto.

Acara juga diisi dengan diskusi dan pernyataan dari para peserta, yang menyoroti pentingnya solidaritas dalam menghadapi kondisi ekonomi yang terus berubah. Banyak di antara mereka menyampaikan harapan untuk lebih banyak kebijakan yang memberikan perlindungan terhadap kesejahteraan buruh, termasuk upah minimum yang sesuai dengan kebutuhan hidup dan peningkatan kualitas layanan kesehatan.

Hasto menegaskan bahwa keberhasilan Indonesia dalam pembangunan tidak bisa terlepas dari peran buruh yang aktif. Ia mengajak seluruh elemen buruh untuk terus memperkuat persatuan dan meningkatkan kemitraan dalam menghadapi tantangan yang semakin kompleks. “Perjuangan buruh harus menjadi katalis bagi peradaban Indonesia,” tegasnya.

Dengan tema yang relevan dan pesan yang jelas, acara Peringatan Hari Buruh Internasional PDIP 2026 menjadi momentum penting dalam memperkuat komitmen bersama. Hasto berharap bahwa perjuangan ini bisa menjadi batu loncatan menuju masa depan yang lebih adil dan makmur bagi seluruh lapisan masyarakat. “Kita tidak bisa berdiri sendiri, tetapi dengan persatuan dan gotong royong, kita bisa menciptakan keadilan yang tahan lama,” pungkasnya.