Key Discussion: Dinkes Sultra gaet Balai Karantina perkuat skrining HIV bagi pendatang
Dinkes Sultra Gaet Balai Karantina untuk Perkuat Skrining HIV bagi Pendatang
Key Discussion – Kota Kendari menjadi pusat perhatian dalam upaya pencegahan penyebaran HIV/AIDS di Sulawesi Tenggara. Dinas Kesehatan Provinsi Sultra (Dinkes Sultra) melakukan kerja sama strategis dengan Balai Karantina guna meningkatkan proses pemeriksaan awal (skrining) bagi penduduk yang baru tiba di wilayah tersebut. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya jumlah penderita HIV di daerah itu, terutama di sektor industri dan pertambangan. Tindakan kolaboratif ini bertujuan mengurangi risiko penyebaran penyakit menular yang menempati posisi penting dalam kesehatan masyarakat.
Mobilitas Penduduk Sebagai Faktor Utama
Kepala Dinkes Sultra, Andi Edy Surahmat, menjelaskan bahwa kebijakan ini diluncurkan setelah ditemukan adanya 123 kasus baru HIV/AIDS di wilayah Sultra selama periode Januari hingga Maret 2026. Menurut Edy, tingginya angka penularan berkaitan erat dengan mobilitas penduduk yang semakin besar, terutama di bidang industri dan pertambangan. “Karena mobilitas penduduk memainkan peran kunci, kami mengambil inisiatif untuk memperkuat skrining kesehatan melalui kolaborasi dengan Balai Karantina,” katanya. Ia menekankan bahwa upaya ini diperlukan untuk mengidentifikasi individu yang membawa virus sejak awal, sebelum menyebar ke lingkungan sekitar.
“Mobilitas penduduk di Sultra cukup tinggi, terutama di sektor pertambangan. Karena itu, kami mendorong penguatan skrining melalui kolaborasi dengan Balai Karantina Kesehatan guna menekan angka penularan,” kata Edy Surahmat.
Edy Surahmat menegaskan bahwa selain tingkat perpindahan penduduk yang tinggi, pergeseran perilaku masyarakat juga menjadi faktor pendorong. Berdasarkan data yang diterbitkan Dinkes Sultra, kasus-kasus HIV terbanyak ditemukan pada kelompok lelaki seks lelaki (LSL) dan wanita pekerja seks. “Temuan ini menunjukkan bahwa pola perilaku berisiko seperti hubungan seks tanpa pengamanan atau penggunaan jarum secara bersamaan masih menjadi masalah utama,” tambahnya.
Wilayah Transit dan Aktivitas Ekonomi
Dalam penjelasannya, Edy mengungkapkan bahwa Kota Kendari dan Kota Baubau menjadi daerah dengan intensitas kasus tertinggi. Baubau, yang merupakan pusat kegiatan pelabuhan, memiliki potensi risiko penyebaran lebih besar karena jumlah pendatang yang bergerak masuk dan keluar secara signifikan. Sebaliknya, Kendari dianggap sebagai titik pengumpulan aktivitas ekonomi dan pemerintahan, sehingga menjadi area penyebaran yang tak kalah signifikannya.
Edy Surahmat menambahkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap risiko HIV masih perlu ditingkatkan. “Kami mengambil langkah untuk memperkuat deteksi dini melalui skrining fisik di titik masuk wilayah, serta memperkenalkan pendekatan edukasi yang lebih aktif ke berbagai kalangan,” jelasnya. Dengan cara ini, upaya pencegahan ditekankan sejak awal, sebelum gejala muncul dan virus menyebar lebih luas.
“Sebagai daerah transit dengan aktivitas pelabuhan yang padat, Baubau memiliki risiko penularan yang lebih besar, sementara Kendari menjadi titik temu aktivitas ekonomi dan pemerintahan,” ujarnya.
Menurut data terbaru, Dinkes Sultra juga melibatkan tim kerja di berbagai kabupaten dan kota untuk melakukan pendekatan edukatif secara lebih intensif. Edukasi ini mencakup penjelasan mengenai cara penyebaran HIV, pentingnya tes kesehatan rutin, dan cara menjaga pola hidup sehat. Metode yang digunakan meliputi pertemuan langsung serta penggunaan media daring, seperti platform sosial media dan aplikasi kesehatan, untuk memperluas cakupan informasi.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Memperkuat Pendidikan
Edy Surahmat menekankan bahwa keberhasilan pencegahan HIV tidak hanya bergantung pada skrining fisik, tetapi juga pada kesadaran masyarakat terhadap penularan. “Melalui kolaborasi lintas sektor, kami berharap kesadaran akan meningkat secara signifikan,” tambahnya. Ia menjelaskan bahwa pihaknya juga berupaya membangun kerja sama dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat, agar pesan pencegahan dapat disampaikan secara lebih efektif dan berkelanjutan.
Upaya ini dilakukan dengan metode hybrid, yakni kombinasi dari pendekatan langsung dan digital. Dinkes Sultra menyiapkan kampanye edukasi yang menargetkan kelompok berisiko, seperti pekerja seks dan lelaki seks lelaki, serta masyarakat umum yang tinggal di daerah dengan tingkat penyebaran tinggi. “Kami juga berusaha menjangkau kalangan muda melalui media sosial dan program pelatihan kesehatan, karena mereka cenderung lebih terbuka terhadap informasi baru,” katanya.
Strategi Komprehensif untuk Mengatasi HIV
Kolaborasi antara Dinkes Sultra dan Balai Karantina menurut Edy Surahmat tidak hanya berfokus pada pemeriksaan awal, tetapi juga pada pengawasan berkelanjutan. “Dengan adanya kemitraan ini, kami dapat memantau secara real-time seluruh pendatang dan memberikan layanan kesehatan yang lebih cepat,” ujarnya. Ia menyatakan bahwa seluruh aktivitas ini diselaraskan dengan rencana jangka panjang pemerintah provinsi dalam menekan angka penularan penyakit menular.
Dinkes Sultra juga mengupayakan pengembangan program pendidikan kesehatan yang lebih inovatif. Selain distribusi materi edukasi melalui acara rutin, pihaknya memanfaatkan teknologi digital untuk memudahkan akses informasi. Edy Surahmat menjelaskan bahwa metode ini diperlukan karena adanya keterbatasan waktu dan sumber daya di lapangan. “Kami berharap dengan adanya kampanye yang lebih modern, pengetahuan masyarakat terhadap HIV dapat meningkat secara signifikan,” katanya.
“Kami juga melibatkan tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk memperkuat pesan-pesan pencegahan dari sisi sosial. Melalui kolaborasi lintas sektor ini, diharapkan kesadaran masyarakat meningkat, sehingga angka penularan HIV dapat ditekan secara signifikan,” katanya.
Langkah
