New Policy: Ubah Sampah Jadi Sumber Penghasilan, Warga Kuala Tanjung Kelola Hingga 2 Ton per Hari
Ubah Sampah Jadi Sumber Penghasilan, Warga Kuala Tanjung Kelola Hingga 2 Ton per Hari
New Policy – Jakarta – Masalah sampah terus menjadi tantangan serius di Tanah Air. Mayoritas limbah yang dihasilkan setiap hari belum dikelola secara optimal, menyebabkan masalah lingkungan dan kesehatan yang kompleks. Di tengah situasi tersebut, warga Desa Kuala Tanjung, Sumatera Utara, menciptakan solusi kreatif dengan mengubah sampah menjadi peluang ekonomi. Didi Saputra (41), yang akrab disapa Untung, menjadi tokoh utama di balik inisiatif ini. Sejak 2021, ia bersama masyarakat setempat mulai mengolah sampah organik menggunakan maggot atau larva Black Soldier Fly.
Inisiatif Lokal yang Menginspirasi
Mengelola sampah melalui teknologi maggot ini memicu perubahan paradigma. Awalnya, Didi dan rekan-rekannya hanya memperhatikan kebersihan lingkungan. Namun, setelah beberapa waktu berjalan, mereka menyadari bahwa upaya tersebut juga bisa menghasilkan keuntungan ekonomi. Dari sini, lahir kelompok Sari Larva Berdaya (SLB) yang secara bertahap berkembang menjadi Bank Sampah Berseri pada tahun 2024.
“Awalnya kami belajar mengelola sampah dengan maggot. Lama-lama kami sadar ini bukan cuma soal kebersihan, tapi juga bisa jadi sumber penghasilan,” ujar Didi.
Seiring berjalannya waktu, program ini semakin berkembang. Saat ini, kelompok SLB mampu mengelola sampah sebanyak 1 hingga 2 ton per hari. Limbah yang dikumpulkan berasal dari berbagai sumber, seperti restoran dan rumah tangga di sekitar desa. Proses pengolahan terbagi menjadi beberapa tahap. Maggot digunakan sebagai pakan ternak untuk ayam, bebek, serta ikan. Sementara itu, limbah kayu palet diubah menjadi meja dan kursi, sementara kertas dan pelepah pisang diperdagangkan sebagai produk daur ulang seperti kertas daur ulang dan kantong kertas.
Manfaat Ekonomi dan Lingkungan
Program ini bukan hanya mendukung lingkungan tetapi juga membuka peluang kerja baru bagi masyarakat setempat. Sebanyak 17 orang sekarang aktif terlibat dalam pengelolaan sampah. Didi khususnya melibatkan kelompok rentan, seperti penyandang disabilitas dan anak-anak putus sekolah. “Ada yang tuna netra, ada juga yang punya keterbatasan lain, tapi mereka tetap bisa bekerja, seperti memilah sampah atau membuat produk daur ulang,” tambahnya.
Manfaat ekonomi juga dirasakan melalui sistem tabungan Bank Sampah Berseri. Warga dapat menukar sampah anorganik seperti plastik dan kertas menjadi saldo. Salah satu keunggulan program ini adalah saat hari besar seperti Lebaran, saldo tersebut bisa dicairkan dalam bentuk paket sembako dengan harga lebih murah sekitar 30 persen dari pasar. Hal ini memberikan dorongan ekstra bagi masyarakat untuk berpartisipasi.
Dukungan dari Perusahaan Besar
Upaya inisiatif warga ini didukung oleh PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) sebagai bagian dari MIND ID. Perusahaan memberikan pelatihan serta alat bantu untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengelola sampah secara mandiri. Didi menyebutkan bahwa bantuan ini sangat berharga dalam mempercepat perkembangan program.
Program Bank Sampah Berseri juga menjadi bagian dari inisiatif sosial yang membawa dampak luas. Dengan mengelola sampah, masyarakat tidak hanya mampu memperbaiki kondisi lingkungan tetapi juga meningkatkan kesejahteraan ekonomi. Selain itu, pihak perusahaan berhasil meraih penghargaan PROPER Emas, yang menjadi bukti bahwa upaya daur ulang ini berkontribusi signifikan pada tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan.
Masa Depan yang Masih Panjang
Didi menilai bahwa program ini masih memiliki potensi untuk berkembang lebih jauh. Salah satu harapan utamanya adalah memiliki kendaraan pengangkut sampah agar jangkauan pelayanan bisa diperluas ke lebih banyak rumah tangga. “Kami terus belajar dan bergerak. Dari sampah, kami bisa mandiri dan saling membantu,” imbuhnya.
Dengan mengembangkan sistem pengelolaan sampah yang lebih terstruktur, Didi dan timnya berharap bisa menginspirasi komunitas lain di sekitar Indonesia. Mereka juga berencana meningkatkan variasi produk daur ulang, seperti mengubah limbah kertas menjadi kemasan ekologis atau memanfaatkan sampah plastik menjadi bahan bangunan. Selain itu, ke depannya, program ini diharapkan dapat terintegrasi dengan sistem pendidikan lokal, seperti membantu anak-anak putus sekolah mengikuti ujian Paket B dan C guna memperoleh ijazah.
Keberhasilan ini menunjukkan bahwa inisiatif kecil dari warga bisa berdampak besar jika dikelola dengan tepat. Teknologi daur ulang yang digunakan, seperti maggot, tidak hanya efektif dalam memilah sampah tetapi juga mengurangi risiko pencemaran lingkungan. Didi Saputra menjadi contoh nyata bahwa ekonomi sirkular bisa menjadi alternatif solusi untuk masalah sampah yang selama ini dianggap sulit.
Dari sisi sosial, program ini juga meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Warga yang sebelumnya membuang sampah sembarangan kini termotivasi untuk memilah dan memanfaatkan limbah. Selain itu, adanya pelatihan dari INALUM membuka wawasan baru tentang teknologi pengolahan sampah, sehingga masyarakat tidak hanya aktif secara langsung tetapi juga bisa berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi lain.
Di era keberlanjutan lingkungan, inisiatif seperti ini menjadi semacam revolusi kecil. Didi menekankan bahwa keberhasilan yang diraih tidak hanya diukur dari volume sampah yang diolah tetapi juga dari perubahan perilaku masyarakat. Dengan memperkenalkan konsep daur ulang yang mudah diakses, mereka berharap bisa menciptakan ekosistem yang lebih sehat dan ekonomis.
Di sisi lain, pengelolaan sampah dengan metode ini juga memperkuat hubungan antara warga dan perusahaan. INALUM menjadi mitra strategis dalam memperluas dampak sosialnya. Selain itu, keberadaan Bank Sampah Berseri menunjukkan bahwa sistem ekonomi lokal bisa dikembangkan secara mandiri. Didi Saputra dan rekan-rekannya tetap bersyukur meski tantangan masih ada, karena mereka percaya langkah kecil bisa menjadi awal perubahan besar.
Program ini juga menjadi contoh bahwa daur ulang tidak hanya tentang mengurangi sampah tetapi juga tentang membangun ekonomi sirkular. Dengan memanfaatkan sumber daya lokal, warga Kuala Tanjung mampu menciptakan nilai tambah dari limbah yang sebelumnya dianggap tidak berguna. Hasilnya, mereka bukan hanya menjaga kebersihan lingkungan tetapi juga meningkatkan kualitas hidup melalui pemberdayaan ekonomi. Didi menyatakan bahwa program ini masih dalam tahap awal, tetapi potensinya luar biasa. Mereka akan terus berinovasi untuk mencapai tujuan yang lebih luas.
