Key Discussion: HUT ke-50 KOMMA, Fakultas Pertanian Universitas Andalas Gelar FGD Tata Kelola Berkelanjutan Tahura Bung Hatta
Key Discussion: KOMMA FP-UA Rayakan 50 Tahun Tahura Bung Hatta
Key Discussion – Kelompok Mahasiswa Pecinta Alam (KOMMA) Fakultas Pertanian Universitas Andalas menggelar Focus Group Discussion (FGD) dalam rangka memperingati HUT ke-50. Acara Key Discussion ini mengangkat tema “Menggagas Tata Kelola Berkelanjutan Taman Hutan Raya (Tahura) Dr. Mohammad Hatta”. Forum ini berhasil menghimpun berbagai elemen masyarakat, mulai dari perwakilan pemerintah, akademisi, pemerhati lingkungan, lembaga swadaya masyarakat, praktisi, hingga alumni untuk bersama-sama merumuskan strategi menjaga keberlanjutan kawasan konservasi yang dikenal sebagai paru-paru hijau Kota Padang.
Peran Penting Tahura sebagai Ruang Belajar dan Konservasi
Ketua KOMMA Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Muhammad Farhan, dalam sambutannya menegaskan bahwa Tahura Dr. Mohammad Hatta memiliki makna yang jauh lebih dalam dibandingkan sekadar kawasan hutan biasa. Kawasan ini telah menjadi ruang belajar, laboratorium alam, serta tempat lahirnya kepedulian lingkungan bagi generasi mahasiswa selama puluhan tahun. Menurutnya, konservasi tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan agar kawasan tersebut tetap lestari dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Tahura Dr. Mohammad Hatta bukan sekadar kawasan hutan, tetapi telah menjadi ruang belajar, laboratorium alam, serta tempat lahirnya kepedulian lingkungan bagi generasi mahasiswa selama puluhan tahun,” ujar Muhammad Farhan.
Apresiasi dari Pimpinan Fakultas Pertanian
Mewakili pimpinan Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Wakil Dekan II Jumsu Trisno menyampaikan apresiasi atas inisiatif KOMMA dalam menyelenggarakan forum ilmiah tersebut. Ia menegaskan bahwa Fakultas Pertanian memiliki tanggung jawab moral dan akademik dalam mendukung upaya penyelamatan Tahura Dr. Mohammad Hatta melalui kajian ilmiah, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Hasil diskusi diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi yang dapat menjadi acuan dalam pengelolaan kawasan konservasi secara berkelanjutan.
Wakil Wali Kota Padang Tekankan Pentingnya Kolaborasi
FGD dibuka secara resmi oleh Wakil Wali Kota Padang Maigus Nasir yang menyampaikan apresiasi kepada KOMMA atas kepeduliannya terhadap masa depan Tahura Dr. Mohammad Hatta. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa keberadaan Tahura merupakan anugerah sekaligus aset strategis bagi Kota Padang yang harus dijaga bersama. Menurutnya, yang terpenting bukan lagi siapa yang mengelola kawasan tersebut, melainkan bagaimana seluruh pihak dapat berkontribusi dalam menjaga, mengembangkan, dan menjadikan Tahura sebagai kawasan konservasi yang bernilai ekologis, edukatif, dan berkelanjutan.
“Yang terpenting bukan lagi siapa yang mengelola kawasan tersebut, melainkan bagaimana seluruh pihak dapat berkontribusi dalam menjaga, mengembangkan, dan menjadikan Tahura sebagai kawasan konservasi yang bernilai ekologis, edukatif, dan berkelanjutan,” tegas Maigus Nasir.
Ia juga mengingatkan bahwa berbagai bencana hidrometeorologi yang terjadi belakangan menjadi pengingat pentingnya menjaga kelestarian kawasan hutan sebagai penyangga kehidupan.
Narasumber dari Berbagai Institusi Menyampaikan Perspektif
Diskusi menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai institusi, di antaranya WRI Indonesia, KKI Warsi, Dinas Kehutanan Provinsi Sumatra Barat, dan Dinas Pertanian Kota Padang. Berbagai perspektif disampaikan mengenai peluang penguatan tata kelola Tahura melalui kolaborasi multipihak, pendanaan inovatif, pelibatan masyarakat, hingga pengembangan program konservasi berbasis partisipasi publik.
Rakhmat Hidayat perwakilan WRI Indonesia yang juga sebagai salah seorang anggota kehormatan KOMMA FP-UA menekankan pentingnya membangun skema pendanaan inovatif (innovative financing) yang melibatkan sektor swasta, akademisi, media, serta masyarakat dalam mendukung konservasi Tahura. Menurutnya, keberhasilan pengelolaan kawasan konservasi sangat bergantung pada tata kelola yang transparan, akuntabel, serta memiliki peta jalan jangka pendek, menengah, dan panjang yang disusun secara bersama-sama.
Sementara itu, perwakilan KKI Warsi memperkenalkan program Pohon Asuh, sebuah skema konservasi berbasis donasi masyarakat yang telah berjalan selama lebih dari satu dekade. Melalui program tersebut, masyarakat dapat berkontribusi dalam pelestarian hutan melalui adopsi pohon, dengan dana yang dimanfaatkan untuk patroli kawasan, pembibitan, dan kegiatan restorasi ekosistem. Model ini dinilai dapat menjadi salah satu alternatif pembiayaan konservasi yang melibatkan partisipasi publik secara langsung.
Perencanaan dan Tantangan Pengelolaan Tahura
Dinas Pertanian Kota Padang memaparkan berbagai dokumen perencanaan pengelolaan Tahura yang telah disusun. Dokumen-dokumen tersebut menjadi acuan penting dalam menentukan arah kebijakan dan program kerja ke depan. Namun, tantangan tetap ada, terutama terkait dengan koordinasi antarinstansi dan alokasi anggaran yang memadai untuk kegiatan konservasi.
Sebagai penutup, Key Discussion ini menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis yang akan ditindaklanjuti oleh berbagai pihak. KOMMA FP-UA berkomitmen untuk terus mengawal implementasi rekomendasi tersebut melalui monitoring dan evaluasi berkala. Dengan semangat kolaborasi dan keberlanjutan, Tahura Dr. Mohammad Hatta diharapkan dapat terus memberikan manfaat bagi generasi sekarang dan mendatang.
