Solusi untuk: Negara Ini Jadi Korban Perang AS-Israel Vs Iran, Kondisi Babak Belur

d3467074 0b34 4aae 910c e751821b01a9 0

Negara Ini Jadi Korban Perang AS-Israel Vs Iran, Kondisi Babak Belur

Jakarta — Dampak Siklon Ditwah terus menghantui masyarakat Sri Lanka, hingga saat ini. Bencana ini diperparah oleh konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang semakin memperburuk kondisi ekonomi negara tersebut. Menurut laporan Reuters, salah satu korban yang masih terdampak adalah Indrani Ravichandran dan keluarganya. Mereka terpaksa tinggal di bagian rumah yang tersisa setelah banjir menghancurkan desa mereka.

Korban dan Dampak Siklon

Siklon yang melanda Sri Lanka pada November lalu menyebabkan kerusakan parah. Hujan deras hingga 500 mm dalam tiga hari mengakibatkan banjir besar dan longsor. Bencana ini menewaskan 643 orang dan menghilangkan 173 korban. Indrani menceritakan bagaimana ia dan keluarga harus melarikan diri di tengah gelap saat air bah menghancurkan sebagian rumah di Distrik Kandy.

Kata Indrani, air naik sangat cepat hingga mereka hampir tidak sempat menyelamatkan barang apa pun. Dalam kondisi gelap, hujan deras, dan medan licin, mereka juga takut menginjak hewan beracun, tapi beruntung berhasil selamat.

Krisis Ekonomi dan “Triple Shock”

Kerusakan akibat banjir ini disebut melampaui dampak Tsunami Samudra Hindia 2004 dari segi infrastruktur. Meski korban jiwa tidak sebanyak tsunami, ekonom Ganeshan Wignaraja menyatakan skala kerusakan fisik lebih parah. Di tengah pemulihan, Sri Lanka kini menghadapi tekanan ekonomi tambahan akibat konflik global yang berlangsung.

Kondisi ini membawa “triple shock” bagi negara yang sebelumnya dikenal maju secara ekonomi. Tekanan datang dari bencana banjir, lonjakan harga energi, serta ancaman kekeringan. Pemerintah terpaksa melakukan penjatahan bahan bakar dan kenaikan harga, termasuk menetapkan pekan kerja empat hari, tarif listrik naik 40%, serta pemadaman air dan listrik.

Langkah Pemulihan dan Dampak Global

Kelangkaan bahan bakar dan gas memasak memicu gelombang pembelian panik di masyarakat. Situasi ini mengingatkan krisis 2022 ketika negara kehabisan devisa dan gagal bayar utang luar negeri. Gelombang protes besar saat itu berujung pada lengsernya Presiden Gotabaya Rajapaksa.

Pemerintah baru, yang dipimpin Anura Kumara Dissanayake, telah mencoba langkah pemulihan seperti mencabut subsidi listrik dan menaikkan pajak penghasilan hingga 36%. Namun, krisis ekonomi kembali menghantui dengan jumlah korban yang masih tinggal di pengungsian dan menunggu bantuan permanen.

Estimasi Kerugian dan Bantuan Internasional

Menurut World Bank, bencana ini mengguncang hampir dua juta orang dan 500.000 keluarga di seluruh distrik. Aktivitas ekonomi, layanan dasar, serta mata pencaharian masyarakat terganggu. Kerugian total diperkirakan mencapai US$4 miliar atau 4% dari PDB Sri Lanka.

Dalam situasi kritis, Presiden Dissanayake menyebut bencana ini sebagai yang paling parah dalam sejarah negara. Pemerintah telah menyalurkan bantuan, termasuk 50.000 rupee untuk perbaikan rumah rusak sebagian. Korban yang kehilangan rumah seluruhnya berhak mendapat hingga 5 juta rupee, sementara keluarga korban meninggal menerima 1 juta rupee.

Respons Bantuan dan Keterlambatan

Namun, hingga kini lebih dari 165.000 orang masih mengungsi. Keterlambatan kompensasi terus menghantui korban. Pemerintah juga sedang menyiapkan lahan aman untuk pembangunan kembali dengan standar tahan bencana.

India menjadi negara yang paling cepat memberikan bantuan melalui operasi “Operation Sagar Bandhu”. Mereka mengirim kapal perang, helikopter, serta logistik lebih dari 1.000 ton dan dana US$450 juta. Sebaliknya, China hanya menyumbang bantuan kurang dari US$2 juta. Sri Lanka meminta dukungan tambahan dari Beijing untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak.