Sekolah Rakyat selamatkan anak yatim putus sekolah dan hobi tawuran

1000367361

Sekolah Rakyat Selamatkan Anak Yatim dan Perubahan Masa Depan

Di usia yang menginjak 74 tahun, Ibu Welas tetap berjuang menghadapi tantangan hidup, meski kini tidak lagi mampu berjualan sayur keliling seperti dulu. Namun, harapan terbesarnya tetap terletak pada masa depan Julio, cucunya yang hingga kini mengalami perubahan signifikan. Julio memulai hidupnya dengan tantangan berat. Ayahnya meninggal karena penyakit virus tikus setelah membersihkan saluran air, sehingga sejak usia satu tahun, ia tumbuh di bawah asuhan neneknya di Kampung Kedung Tungkul, Mojosongo, Jebres, Surakarta. Keterbatasan ekonomi keluarga membuat perjalanan pendidikan Julio sempat terhenti. Setelah menyelesaikan kelas 3 SD, ia memilih berhenti belajar, lalu menghabiskan waktunya di luar rumah, bergaul bebas, hingga terlibat dalam tawuran dengan teman-temannya.

“Dulu Julio nakal. Sama teman-temannya sering lempar-lemparan batu atau pisau (tawuran),” kata Ibu Welas saat ditemui di rumahnya, Minggu (12/4).

Kondisi itu membuat sang nenek merasa khawatir. Dengan segala keterbatasan, ia berusaha mencari jalan agar Julio kembali bersekolah. Setelah beberapa waktu, cucunya akhirnya didaftarkan ke Sekolah Rakyat, institusi berasrama gratis yang diinisiasi Presiden RI Prabowo Subianto untuk anak-anak dari keluarga miskin ekstrem. Keberadaan Sekolah Rakyat memberikan dampak positif. Julio, yang dulu dianggap sulit dikendalikan, kini menunjukkan sikap lebih tenang dan konsentrasi dalam belajar.

“Senang (Julio di Sekolah Rakyat) bisa mendekap, merangkul, menciumi saya. Julio mengatakan, Mak aku seneng, di sini (rumah) sering dimarahi. Di sekolah gak pernah dimarahi,” ujar Welas menirukan Julio.

Kehadiran Sekolah Rakyat bukan hanya membantu Julio belajar, tetapi juga menjadi ruang aman bagi neneknya untuk melihat cucunya tumbuh lebih baik. Sebelumnya, Julio sering meminta uang Rp15.000 hingga Rp20.000 setiap hari, yang menjadi beban bagi keluarga. Kini, biaya harian tidak lagi menjadi penghalang, sehingga harapan untuk masa depan Julio bisa terwujud.

Ibu Welas tak meminta hal besar. Ia hanya berharap Julio menjadi anak yang baik dan mampu menjalani hidup dengan layak. “Pengennya pinter dan cucu saya jadi orang baik. Tidak telantar. Saya sudah tua. Nanti sewaktu-waktu dipanggil yang maha Kuasa, nitip cucu saya Julio. Baik-baik di sana. Jadi orang yang baik,” harap sang nenek dengan suara lemah.

Dalam usia yang semakin tua, doa itu terus ia panjatkan. “Matur nuwun Pak Prabowo. Putu kulo pun sekolah teng Sekolah Rakyat. Matur sembah nuwun. Kadose pinter, dados tiang sing genah,” ujar Welas. Bagi Julio dan neneknya, Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga titik balik yang membawa perubahan arah hidup sang cucu.