Pembahasan Penting: Industri pertambangan hadapi tantangan regulasi dan dinamika global
Industri Pertambangan Hadapi Tantangan Regulasi dan Dinamika Global
Jakarta – Perusahaan-perusahaan dalam sektor pertambangan Indonesia tengah menghadapi berbagai tantangan, termasuk pengaruh dari kebijakan regulasi baru dan fluktuasi pasar global, menurut Sudirman Widhy Hartono, Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi).
Perubahan Regulasi dan Proses Persetujuan
Kebijakan pengendalian produksi dua komoditas utama, yaitu batu bara dan nikel, menjadi salah satu isu yang memicu kekhawatiran industri. Kebijakan ini memengaruhi proses persetujuan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) 2026, yang sebelumnya diberlakukan setiap tiga tahun. Sudirman mengatakan perubahan jadwal persetujuan ini bisa menyebabkan hambatan produksi sejak awal tahun.
“Banyak perusahaan tidak bisa beroperasi di awal tahun karena proses persetujuan RKAB tertunda hingga Maret 2026,” ujar Widhy dalam diskusi terkait peran RKAB dalam strategi adaptasi terhadap tantangan global.
Menurutnya, Perhapi sudah menyampaikan kekhawatiran terkait kebijakan ini sejak lama. Meski ada aplikasi digital yang bisa mempercepat pengajuan RKAB, realitasnya proses masih mengalami keterlambatan.
“Alhamdulillah, ada relaksasi untuk menggunakan 25 persen dari kegiatan yang sudah berlaku,” tambahnya.
Tantangan Biodiesel B50
Selain regulasi, Widhy juga menyoroti masalah biaya operasional akibat penggunaan biodiesel B50 sebagai bahan bakar tambang. Ia menekankan bahwa pengalaman dengan B20 hingga B40 sudah menunjukkan penurunan efisiensi mesin dan kenaikan biaya pemeliharaan, terutama di area terpencil.
“Penggunaan B50 bisa menghemat subsidi solar hingga Rp48 triliun, tetapi kebijakannya harus dipertimbangkan secara matang karena risiko operasional dan dampak sosial yang signifikan bagi pekerja,” jelasnya.
Dari sisi lain, Ade Candra, Direktur Business Development Pamapersada, mengakui bahwa perubahan geopolitik saat ini memberikan tekanan pada perusahaan kontraktor jasa tambang. Geopolitik memengaruhi kenaikan harga komoditas, termasuk batu bara yang harganya bisa naik hingga 25 persen.
Dampak Geopolitik pada Harga dan Pasokan
Nilai bahan bakar minyak global juga meningkat secara signifikan, bahkan mencapai 155 persen dalam Januari-Maret 2026. Selain itu, pasokan bahan baku tambang masih bergantung pada sumber daya luar negeri, menyebabkan ketidakstabilan dalam operasional industri.
