Ekonom prediksi ekonomi RI 2026 tumbuh di atas proyeksi Bank Dunia

IMG 20260306 215839

Ekonom Prediksi Pertumbuhan Ekonomi RI 2026 Melebihi Proyeksi Bank Dunia

Menurut ekonom dari Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, Indonesia berpotensi mencapai pertumbuhan ekonomi pada tahun 2026 yang lebih tinggi dari prediksi Bank Dunia. Meski kesulitan menembus tingkat lima persen, ia memperkirakan angka pertumbuhan akan berada di atas proyeksi lembaga internasional tersebut. Prediksi ini disampaikan saat Wijayanto memberikan pernyataan kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.

Proyeksi Bank Dunia Diperbaiki

Dalam informasi terbaru, Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 4,8 persen menjadi 4,7 persen. Wijayanto menyebutkan bahwa meskipun ada perubahan ini, perekonomian Indonesia tetap memiliki peluang untuk tumbuh lebih baik. Ia menegaskan bahwa proyeksi lembaga internasional tersebut bisa dianggap sebagai acuan, namun kenyataannya mungkin berbeda.

“Saya rasa Indonesia akan tumbuh di atas proyeksi World Bank, tetapi sulit untuk bisa tembus lima persen,” kata Wijayanto.

Pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama 2026, menurutnya, masih bisa mencapai sekitar 5,5 persen. Penyebabnya adalah dorongan dari faktor musiman, seperti momentum liburan Natal dan Tahun Baru, Imlek, serta Lebaran. Namun, dari kuartal kedua hingga keempat, perekonomian mungkin menghadapi tekanan yang lebih signifikan.

Kondisi tersebut didorong oleh penurunan daya beli masyarakat, pelemahan nilai tukar rupiah, inflasi yang naik, dan ketidakpastian global yang membuat investor bersikap menunggu. Selain itu, potensi fenomena El Nino juga bisa memperburuk situasi ekonomi. Wijayanto menekankan bahwa pertumbuhan 2026 sangat bergantung pada konsumsi dalam negeri.

Sektor yang Diprediksi Menjadi Pendorong

Dalam situasi ini, sejumlah sektor dianggap mampu menjadi motor pertumbuhan. Menurut Wijayanto, beberapa bidang yang berpotensi menggerakkan ekonomi antara lain perdagangan, keuangan, pertambangan, dan hilirisasi. Sector lainnya adalah makanan-minuman, kesehatan, telekomunikasi, serta ritel.