Yang Dibahas: Wamenhaj tegaskan “War Ticket” haji masih sebatas wacana

IMG 20260410 184255

Wamenhaj Pastikan Sistem “War Ticket” Haji Belum Jadi Kebijakan

Jakarta – Dalam penyelenggaraan Rakernas Kementerian Haji dan Umrah, Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak menyatakan bahwa konsep “War Ticket” atau mekanisme pemesanan tiket haji secara langsung dan perebutan tiket masih dalam bentuk wacana. Ia menegaskan bahwa rencana ini belum dijadikan kebijakan yang akan diterapkan secara langsung.

“War Ticket itu bukan kebijakan tahun ini, jadi jangan salah paham. Ini hanya wacana, bukan keputusan yang sudah final,” ujar Dahnil saat menutup acara di Asrama Haji Cipondoh, Tangerang, Jumat.

Istilah “War Ticket” diperkenalkan sebagai bagian dari upaya transformasi sistem haji guna mengurangi durasi menunggu haji, yang kini mencapai rata-rata 26,4 tahun. Menurut Dahnil, langkah ini bertujuan untuk mempercepat proses pendaftaran dan menghindari antrean panjang. Namun, pemerintah masih mempertimbangkan cara implementasi yang tidak mengganggu jamaah haji yang telah mendaftar sebelumnya.

Isu War Ticket memicu perdebatan di masyarakat, termasuk media sosial. Sebagian orang khawatir sistem ini akan menyulitkan warga dari daerah pedesaan atau yang belum terbiasa dengan teknologi digital. Mereka juga mempertanyakan nasib jamaah yang telah menunggu haji selama puluhan tahun, serta risiko korupsi atau penipuan dalam proses pendaftaran.

Dari sisi lain, sejumlah pihak mendukung perubahan ini. Mereka berpendapat bahwa War Ticket bisa mengurangi antrian haji, terutama bagi lansia yang ingin segera berangkat. Selain itu, konsep ini dianggap sebagai bentuk pengukuran kemampuan seseorang secara fisik, mental, dan finansial untuk menjalani ibadah haji, sesuai prinsip bahwa haji hanya diwajibkan bagi yang mampu.

Dahnil menambahkan bahwa wacana War Ticket masih dalam tahap awal evaluasi. Ia menjelaskan bahwa pihaknya sedang merumuskan cara penyelenggaraan sistem ini secara lebih matang.