Kebijakan Baru: Bukan Iran, Aksi Trump Justru Hadirkan “Neraka” di Negeri Sendiri

c170da48 e11e 4bed bfed f063c04f0bfa 0

Bukan Iran, Aksi Trump Justru Hadirkan “Neraka” di Negeri Sendiri

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran semakin memanas setelah Presiden Donald Trump mengancam menutup Selat Hormuz. Ancaman tersebut memicu reaksi tajam dari pejabat Iran, khususnya Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf. Menurut Qalibaf, tindakan militer Trump berpotensi membawa konsekuensi besar bagi rakyat AS, bukan hanya di wilayah Timur Tengah.

Qalibaf menyampaikan kritiknya melalui media sosial X, Senin (6/4/2026), setelah Trump memperingatkan Iran untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis itu. Dalam pengumumannya di platform Truth Social, Minggu (5/4/2026), Trump mengatakan bahwa Iran akan “hidup dalam neraka” jika tidak mematuhi ultimatum yang diberlakukan sebelum Selasa pukul 20.00 waktu Timur AS. Selain itu, Trump juga mengancam akan menyerang infrastruktur Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan.

“Langkah-langkah gegabah Anda menyeret Amerika Serikat ke dalam NERAKA yang mengerikan bagi setiap keluarga, dan seluruh wilayah kita akan terbakar karena Anda bersikeras mengikuti perintah Netanyahu,” tulis Qalibaf.

Konflik ini terjadi setelah Iran menutup Selat Hormuz sebagai bentuk protes atas serangan udara AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Teheran menyatakan bahwa perairan tersebut akan ditutup bagi kapal yang dianggap sebagai “musuh.” Pemerintah Iran menegaskan bahwa akses kapal AS dan Israel ke Selat Hormuz akan dibatasi dalam jangka waktu yang diperpanjang.

Selat Hormuz merupakan jalur distribusi energi terpenting di dunia. Hampir 20% pengiriman minyak global dan sekitar 20% perdagangan gas alam cair (LNG) melintasi perairan sempit itu. Gangguan pada lalu lintas energi akibat konflik saat ini mulai memengaruhi pasar global, termasuk harga energi di AS.

Kritik terhadap kebijakan Washington juga muncul dari Rusia. Duta besar Rusia untuk organisasi internasional di Wina, Mikhail Ulyanov, mengatakan bahwa AS belum memahami posisi Iran dalam proses negosiasi. Menurut Ulyanov, Teheran hanya akan menerima kesepakatan yang dibangun atas “kompromi yang masuk akal,” bukan tekanan atau ultimatum sepihak dari pihak luar.