Kebijakan Baru: Potret “Panic Buying” BBM di Tetangga RI, Harga Tak Ditahan Lagi
Potret “Panic Buying” BBM di Tetangga RI, Harga Tak Ditahan Lagi
Selama 15 hari terakhir, pemerintah Thailand memberlakukan kebijakan pembekuan harga bahan bakar minyak (BBM). Namun, saat kebijakan itu berakhir, masyarakat langsung memanfaatkan kesempatan tersebut dengan antusias. Di sekitar stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) di pinggiran Bangkok, antrean kendaraan terus memanjang, mencerminkan kecemasan pengemudi yang ingin mengisi bahan bakar sebelum kenaikan harga berlaku.
Kemacetan Akibat Antrean BBM
Kebijakan penahanan harga solar yang telah berlangsung sejak awal Maret memicu lonjakan permintaan. Banyak pengemudi bergegas ke SPBU untuk membeli bahan bakar, bahkan menyebabkan kemacetan lalu lintas di sejumlah lokasi. Antrian yang mengular membuat proses pengisian menjadi lebih lambat dan memakan waktu cukup lama.
“Kami kekurangan bahan bakar karena banyak orang datang untuk mengisi. Mereka datang dari mana-mana,” ujar Poonyaporn Kerdphokha, seorang pekerja SPBU berusia 31 tahun yang telah bekerja di tempat tersebut lebih dari 10 tahun.
Selain itu, penyesuaian harga BBM menjadi perhatian utama masyarakat. Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Transportasi, Phiphat Ratchakitprakarn, mengatakan pemerintah akan menentukan langkah selanjutnya setelah kebijakan pembekuan berakhir. Kebijakan ini memicu gejolak di pasar bahan bakar, dengan beberapa SPBU mengalami kehabisan stok karena permintaan yang melonjak.
Dengan berakhirnya pembekuan harga, para pengemudi kini bersiap menghadapi kenaikan tarif. Fenomena ini menunjukkan ketegangan pasar yang semakin tinggi, terutama di wilayah sekitar Bangkok, tempat antrean kendaraan terlihat sepanjang hari. Pihak SPBU dan pemerintah harus segera menyiapkan respons untuk mengatasi situasi tersebut.
Source: Add as a preferred source on Google
