Info Terbaru: Jangan Kaget, Kapal 2 Negara Asia Ini Sudah Bebas Lewat Selat Hormuz

80dc3e73 dfd3 4570 9939 d93e32c945ba 0

Jangan Kaget, Dua Negara Asia Masih Bisa Melintasi Selat Hormuz

Jakarta, CNBC Indonesia – Setelah perang berdarah melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang menghancurkan Teheran pada 28 Februari, Iran memutuskan untuk menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang mengalirkan 20% minyak dunia. Militer Iran mengklaim akan menembak semua kapal yang melintas, sehingga mengancam kenaikan harga minyak global hingga US$200 per barel. Namun, terdapat dua kapal dari negara Asia yang masih bisa melewati wilayah tersebut. Berikut penjelasan dari CNBC Indonesia, Minggu (15/3/2026).

China: Penerima Utama Minyak Mentah

Menurut laporan, Iran memperbolehkan akses besar ke kapal minyak mentah yang menuju ke China melalui Selat Hormuz. Langkah ini diambil meski situasi perang antara AS-Israel dan Iran masih memanas. Data dari TankerTrackers menunjukkan, sejak perang dimulai pada 28 Februari 2024, Iran telah mengirimkan setidaknya 11,7 juta barel minyak mentah melalui jalur itu. Semua muatan tersebut diketahui bertujuan ke China.

“Banyak kapal telah ‘menjadi gelap’ setelah Teheran mengancam akan menyerang kapal mana pun yang mencoba melewati jalur air ini,” kata Samir Madani, pendiri TankerTrackers, kepada CNBC International.

Temuan serupa juga diungkapkan oleh Kpler, penyedia data intelijen pelayaran. Mereka memperkirakan sekitar 12 juta barel minyak mentah telah melewati Selat Hormuz sejak perang pecah. Meski identifikasi tujuan akhir lebih rumit, China tetap dianggap sebagai negara utama penerima pasokan tersebut.

“Karena China telah menjadi pembeli utama minyak mentah Iran beberapa tahun terakhir, sebagian besar dari barel-barel ini kemungkinan besar akan menuju sana,” ujar Nhway Khin Soe, analis dari Kpler.

India: Negara Lain yang Diberi Hak Melewati

Selain China, India juga disebut sebagai negara yang masih diperbolehkan melewati Selat Hormuz. Duta Besar Iran untuk India, Mohammad Fathali, mengatakan bahwa kapal-kapal India bisa mengharapkan jalur aman selama konflik di Timur Tengah berlangsung. Ia menyatakan bahwa Teheran menganggap New Delhi sebagai mitra penting.

“Ya, karena India adalah teman kami. Anda akan melihatnya dalam dua atau tiga jam,” ungkap Fathali.

Pernyataan tersebut dikeluarkan beberapa jam setelah pembicaraan telepon antara PM India Narendra Modi dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Dalam diskusi tersebut, Modi menyampaikan kekhawatiran atas “peningkatan ketegangan, hilangnya nyawa warga sipil, dan kerusakan infrastruktur sipil”. Sementara itu, Menteri Luar Negeri India S. Jaishankar berdialog dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, di mana Iran menjelaskan posisinya setelah serangan AS-Israel dan meminta dukungan dari negara-negara BRICS. India, di sisi lain, menekankan kerja sama serta stabilitas kawasan.

(sef/sef)