Latest Program: Banyak Brand Rekrut Ribuan Affiliate, tapi Omzet Kerap Tetap Boncos

1780759701_3282cf61d56ac0c3728f

Banyak Brand Rekrut Ribuan Affiliate, tapi Omzet Kerap Tetap Boncos

Latest Program – Di tengah perkembangan dunia digital, bisnis di Indonesia semakin mengandalkan sistem afiliasi sebagai strategi penjualan. Dalam dua tahun terakhir, banyak perusahaan mulai merambah kanal ini karena dinilai efektif dalam menghasilkan pendapatan. Namun, di balik keberhasilan merekrut ratusan hingga ribuan afiliator, tantangan berkelanjutan masih menghimpit. Masalah utama, menurut Yosef Abas, mentor pemasaran afiliasi dan pendiri RKP Manajemen, adalah kurangnya sistem yang memastikan afiliator bekerja konsisten.

Pertumbuhan Afiliasi Tidak Selalu Berbanding Lurus dengan Hasil

Banyak seller dan brand kini terlihat lebih aktif merekrut afiliator untuk meningkatkan penjualan. Namun, Yosef menyoroti bahwa jumlah afiliator yang besar tidak menjamin kenaikan omzet. Tanpa pendekatan yang terstruktur, afiliator sering kali tidak berjalan maksimal. Misalnya, mereka bisa kehilangan motivasi jika tidak ada arahan konten yang jelas atau komunikasi yang rutin.

“Masalah banyak brand bukan kurang afiliator, tetapi kurang sistem untuk membuat afiliator bergerak. Ribuan afiliator tidak akan berarti banyak jika tidak ada onboarding, arahan konten, komunikasi, dan insentif yang jelas,” ujar Yosef.

Pola Pengelolaan yang Terlewat dalam Program Afiliasi

Menurut Yosef, beberapa elemen penting sering diabaikan oleh brand. Proses onboarding, yang merupakan langkah awal memandu afiliator memahami produk dan strategi, menjadi kunci sukses. Selain itu, materi promosi yang menarik, pengetahuan tentang produk, serta alur komunikasi yang teratur juga diperlukan. Sistem komisi yang transparan dan adanya tim khusus untuk mengelola hubungan dengan afiliator juga dianggap krusial.

Di masa promosi besar seperti Ramadan, Harbolnas, atau peluncuran produk baru, brand sering merekrut afiliator dalam jumlah besar. Namun, ketika stok produk tidak terjaga, komisi tidak kompetitif, atau materi promosi tidak siap, performa program afiliasi bisa menurun drastis. “Komunitas tanpa community manager biasanya sulit hidup. Begitu juga afiliator. Kalau brand punya banyak afiliator tetapi tidak ada yang mengelola, mereka akan sulit bergerak secara konsisten,” tambah Yosef.

BluePrint yang Mengubah Afiliasi Menjadi Pasukan Penjualan

Dalam bukunya yang berjudul Melipatgandakan Omzet dengan Pasukan Affiliate, Yosef merangkum pengalaman RKP Manajemen dalam mendampingi brand dan creator di ekosistem marketplace serta social commerce. Buku ini hadir sebagai panduan lengkap agar perusahaan tidak hanya berhenti pada tahap merekrut afiliator, tetapi mampu mengubahnya menjadi tim penjualan yang produktif. Terdapat empat tahapan utama dalam framework ini, dimulai dari orientasi, pemanfaatan materi promosi, penguatan relasi, dan pengukuran hasil.

Menurut Yosef, fase orientasi, atau onboarding, adalah titik kritis. Afiliator yang baru bergabung perlu diarahkan dengan baik agar segera memahami produk, menemukan strategi promosi, serta melihat peluang komisi. Jika tidak dilakukan, afiliator bisa bingung dan kehilangan minat. Sebaliknya, jika mereka merasa didukung dan memiliki panduan, kesempatan untuk berkontribusi meningkat secara signifikan.

Peran Affiliator Manager dalam Mengatur Kinerja Tim

Yosef juga menekankan pentingnya peran affiliate manager dalam sebuah brand. Orang ini bertugas menjaga komunikasi, mengatur ritme kampanye, serta menjawab kebutuhan afiliator. Tanpa figur seperti ini, komunitas afiliasi bisa terpecah karena kurangnya koordinasi. “Komunitas afiliasi seperti tim olahraga. Tanpa pelatih yang kompeten, mereka akan sulit bermain sebagai satu kesatuan,” jelas Yosef.

Pendekatan Storytelling dalam Buku Yosef

Buku ini menonjol karena menggunakan pendekatan storytelling melalui karakter Rama, seorang seller yang merepresentasikan kegelisahan banyak brand lokal. Rama awalnya memulai program afiliasi dengan cara tradisional, mencari afiliator ketika penjualan sedang mengalami stagnasi. Namun, seiring waktu, ia menyadari bahwa afiliasi tidak bisa dibangun dalam satu tahap. Brand harus menyiapkan sistem yang terpadu, proses kerja yang jelas, serta ekosistem yang mendukung.

Lebih dari itu, Yosef memperlihatkan bahwa afiliasi adalah bagian dari strategi penjualan digital yang lebih luas. Saat ini, kanal afiliasi berdampingan dengan toko online, iklan digital, live commerce, dan konten video pendek. Namun, keberhasilan di semua bidang membutuhkan pengelolaan yang cermat. “Jika afiliasi dianggap hanya sebagai alat jangka pendek, mereka akan mudah runtuh ketika kebutuhan berubah,” tulis Yosef dalam bukunya.

Langkah Strategis untuk Membangun Afiliasi yang Berkelanjutan

Dalam buku ini, Yosef menggambarkan bahwa brand harus fokus pada pemanfaatan data dan pembelajaran berkelanjutan. Misalnya, sistem komisi yang fleksibel bisa memotivasi afiliator untuk terus berkarya. Selain itu, afiliator perlu diberi ruang untuk bereksperimen dengan format konten yang beragam. “Mereka bisa bekerja seperti influencer, penulis, atau content creator. Yang terpenting adalah adanya kemudahan dan dukungan,” papar Yosef.

Keterlibatan afiliator juga membutuhkan strategi yang menarik. Brand tidak hanya perlu menyediakan materi promosi, tetapi juga menyesuaikan tawaran komisi dengan tingkat keterlibatan afiliator. Yosef menyarankan untuk menawarkan insentif sesuai dengan kinerja, baik berupa uang maupun penghargaan. Dengan pendekatan ini, afiliator tidak hanya aktif menjual, tetapi juga terlibat secara lebih mendalam dengan merek.

Permintaan dan Tantangan di Dunia Afiliasi Digital

Saat ini, afiliasi menjadi pilihan utama untuk meningkatkan penjualan di tengah persaingan yang ketat. Namun, keberhasilan membutuhkan persiapan matang. Brand yang mungkin mengabaikan pelatihan awal atau komunikasi yang rutin bisa mengalami kenaikan penjualan yang tidak signifikan. Yosef menegaskan bahwa afiliasi bukan hanya tentang jumlah, tetapi kualitas pengelolaan.

Menurutnya, beberapa brand masih terjebak pada cara yang serupa: merekrut afiliator saat membutuhkan omzet, lalu mengabaikan mereka setelah event berakhir. Pola ini berpotensi mengakibatkan afiliator merasa seperti pengisi data, bukan bagian dari tim. “Dengan blueprint ini, brand bisa membangun ekosistem yang menumbuhkan kemitraan jangka panjang,” lanjut Yosef.

Dengan sistem yang terstruktur, afiliator tidak hanya menjadi distributor produk, tetapi juga kolaborator yang terlibat dalam strategi pemasaran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *